Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 128: MAKAM II - KATAKAN!


__ADS_3

Diambilnya ranting itu, lalu dengan gerakan cepat. Satu ayunan menghasilkan suara panggilan yang mengejutkan. Bukan hanya Sam, tapi Bryant dan Ara langsung berbalik ke belakang. Tatapan mata terkejut tak bisa abaikan.


"Araa! Awas!"


Tindakan Sam berpura-pura ingin memukul Ara dari belakang, membuat seseorang yang bersembunyi di balik semak berteriak memberikan peringatkan. Hal itu menjadi kesempatan Sam berlari untuk melihat siapa yang selama beberapa waktu mengintai mereka. Sementara Bryant dan Ara saling pandang karena bingung dengan apa yang sedang terjadi.


Meski begitu, Ara tidak melupakan suara yang tadi berteriak. Siapapun yang saat ini coba diselidiki oleh Sam. Dia tahu, siapa orang itu, "Mas, sebaiknya ajak Kakak untuk kembali dan kita pulang. Aku sudah lelah berdiri."


"Ok. Tunggu disini sebentar," ujar Bryant, lalu berjalan menghampiri Sam yang sibuk menyibak semak dengan menggunakan ranting. Jarak mereka cukup panjang, "Bro, apa yang kamu cari?"


Sam menghela nafas tanpa menoleh ke arah belakang. Usahanya sia-sia karena orang yang bersembunyi sudah melarikan diri. Ntah kemana, "Nanti saja aku cerita. Ayo, kita balik. Kamu juga, ngapain tinggalin Ara sendirian? Suami aneh."


"Obatmu habis? Kenapa macem ibu-ibu lagi demo...,"


Sam mendelik tajaml ke arah Bryant, tapi tidak marah kok. Kenyataannya memang dia sensi. Jadi ya, maklumin aja. Kedua pria itu kembali berkumpul bersama Ara dan berjalan meninggalkan pemakaman. Ketika sudah memasuki mobil. Seseorang yang berdiam diri di balik salah satu pohon. Akhirnya keluar dengan bibir merekah.


"Aku menemukan mu. Sekarang, hidupku akan kembali hidup. Hanya saja, siapa kedua pria itu? Tidak mungkin, jika istriku sudah menikah lagi. Masa iddah baru saja selesai dan Ara tahu benar tentang agama," monolog orang itu dengan berpikir keras, yah dia adalah Akbar.

__ADS_1


Pria itu, awalnya ingin membuka wine, tapi tiba-tiba mendapatkan pesan dari salah satu teman yang mengatakan melihat Ara menuju pemakaman. Sebuah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan. Maka dari itu, tanpa pikir panjang langsung otw ke makam. Dimana pasti, Ara mengunjungi makam si tua bangka.


Harapan di hati seorang Akbar kembali tersulut. Meski melihat dua pria bersama Ara. Tetap saja, tidak akan menyurutkan niat hatinya. Apalagi, kemungkinan terbesar. Saat ini, Ara hanya dijadikan simpanan. Itu yang dipikirkan seorang pria terhadap kehidupan sang mantan istri. Lagi pula, dunia memang tidak tahu. Jika wanita yang telah disia-siakan. Kini sudah menjadi nyonya rumah.


Meninggalkan pikiran liar yang berdisko di kepala Akbar. Sam mengulurkan sebuah undangan pesta pertunangan setelah keluar dari gapura desa. Bryant menerima undangan itu dan membaca siapa yang akan mengadakan acara, sedangkan Ara terlelap karena kelelahan.


"Keluarga Erlangga dan Keluarga Wiratama. Apa kamu tidak salah memberikan undangan ini untukku?" Bryant bertanya tanpa menatap sang sahabat karena tangan sibuk membolak-balikan kartu undangan dengan mata terus memastikan, apa yang dia baca sudah benar atau salah.


Sam tahu, jika sahabatnya langsung menyadari nama keluarga besar dari kedua calon adalah orang yang sama-sama dari dunia bisnis, "Bry, sebelum kamu memutuskan apapun. Bisa beri aku waktu satu jam kedepan untuk menceritakan sesuatu, dan jangan menyela. Apapun yang kamu dengar, tetaplah bersikap tenang dan tahan diri. Ingat saja, waktu tidur Ara tidak boleh terganggu."


"Hmmm. Katakan!"


Sam sesekali melirik ke arah spion tengah untuk melihat reaksi dari Bryant. Wajah yang awalnya menahan amarah. Justru perlahan berubah terkejut, beberapa saat seperti membayangkan kejadian masa lalu di depan mata. Reaksi Bryant, sama seperti reaksinya disaat mengetahui dari mulut Nancy. Kejujuran akan selalu memberikan kejutan. Terkadang mengubah untuk memperbaiki keadaan, tapi tak jarang memperumit keadaan.


Empat puluh menit berlalu. Cerita dari awal mulai, hingga perubahan yang terjadi pada Darren selesai diceritakan. Bryant memejamkan mata, membuat Sam memilih diam. Saat ini, keduanya saling membutuhkan waktu untuk berpikir tenang dan dingin. Namun, siapa sangka. Ara yang juga memejamkan mata sejak awal. Diam-diam mendengarkan.


"Apa pendapatmu tentang ini? Apa kita harus ke pesta pertunangan. Jika tidak ingin. Aku tidak akan memaksamu," Tegas Sam.

__ADS_1


Bryant membuka mata, lalu menatap undangan yang ada di tangannya. Apapun yang terjadi, tentu hatinya bergejolak merasa begitu bersalah. Jika dulu, dia tahu akan melukai Darren hingga harus melakukan operasi wajah. Sudah pasti, akan meminta maaf sejak awal. Apakah dirinya pantas mendapatkan maaf. Dulu tindakan yang dia lakukan memang benar karena untuk membela Sam, tapi sekarang?


"Kita akan pergi. Atur saja, sebelum itu. Apakah ini Tuan Erlangga yang memiliki bisnis hotel? Jika iya, kita harus menyelamatkan Darren dari keluarga penjilat," Jawab Bryant seraya mengalihkan perhatiannya ke arah jalanan di sebelah kanannya.


Sam paham maksud dari Bryant. Meski dirinya seorang dokter. Dunia para pebisnis bukan hal baru lagi. Bagaimanapun, selama beberapa tahun menjalin hubungan dengan banyak pebisnis muda. Termasuk sang sahabat. Dimana terkadang disaat emergency. Dia sering menggantikan rapat yang diadakan secara mendadak.


Perjalanan kembali ke rumah menjadi jalan baru dengan harapan baru. Sementara Ara memilih untuk tetap berpura-pura tidur. Bukannya tidak mendengar, tapi suara sang mantan suami masih terngiang-ngiang di telinga. Satu panggilan itu, seperti sengatan listrik yang menyentak kesadarannya. Ada rasa takut berselimut kecemasan yang membelenggu hati.


Biarlah waktu berlalu menjadi milik sang waktu. Siang itu, seperti panasnya matahari. Ketika kegelapan menyapa. Rembulan datang untuk menyinari malam. Suasana cukup sibuk karena rasa tidak sabar menguasai dua hati yang saling duduk seraya menatap tangga. Sudah dua puluh menit, tapi wanita yang ditunggu. Justru tidak kunjung turun.


Selalu saja, setiap kali akan pergi ke pesta. Wanita sibuk berdandan begitu lama, tapi bukankah akan sebanding dengan penantian para lelaki? Kata orang, sabar itu di sayang Tuhan. Ada juga yang mengatakan, sabar itu bikin darting. Yah, sesuka kalian. Mau ikut pepatah pertama, atau pepatah kedua. Intinya, kita harus selalu bersabar.


Seperti Bryant dan Sam. Keduanya berulang kali menoleh ke arah tangga, lalu melirik jam di pergelangan tangan masing-masing. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Sungguh lama sekali, tapi Ara dan Ocy masih belum menampakkan batang hidungnya. Sabar? Katanya udah menunggu selama sekian purnama. Padahal baru menunggu beberapa puluh menit dan belum ada satu jam.


"Rasanya pengen tidur aja, udah jam tujuh. Tidur, yuk!" Ajak Sam, membuat Bryant terkekeh geli.


"Sam, kamu mau dicincang? Sabarlah! Sampai besok pagi menunggu pun. Jangan mengeluh, nanti Ocy denger. Hmm, tau rasa kamu...,"

__ADS_1


Suara sepatu yang terdengar dari lantai atas, membuat Bryant berhenti memberikan nasehat. Apalagi tatapan tak berkedip Sam, benar-benar terlihat aneh. Kini, bukan hanya satu pria yang terpana, tapi kedua pria itu. Tidak bisa mengalihkan perhatian dari kedua wanita yang melumerkan hati dengan bunga kebahagiaan.


"Perfect," gumama Sam dan Bryant serempak.


__ADS_2