
"Bos, aku sudah berhasil membawa wanita itu. Apa tugas selanjutnya?" tanya orang itu seraya melepaskan rambut palsunya.
Panggilan itu berlangsung singkat dan setelah mendapatkan jawaban dari seberang. Pria dengan kepala plontos menyalakan mesin mobil, kemudian iya mulai fokus menyetir. Mobil melaju meninggalkan parkiran yang berjarak sekitar lima meter dari Cafe tempat Anggun berdiri. Wanita yang menjadi target adalah mantan istri dari Akbar. Tugasnya berlanjut karena ia harus membawa wanita itu ke tempat si bos berada.
Perjalanan pria itu begitu lancar tanpa hambatan apapun. Sehingga dalam waktu tiga puluh menit, akhirnya mobil memasuki wilayah hutan yang memang jarang dikunjungi oleh orang-orang. Terlebih hutan itu juga terkenal cukup angker ketika malam tiba. Bukan karena disana banyak makhluk yang tak kasat mata. Akan tetapi karena terkenal dengan tempat persembunyian para preman.
Mobil itu melewati jalanan yang bergejolak karena dipenuhi kerikil tajam. Kini perjalanan menuju sebuah pondok yang memang cukup tersembunyi dibalik deretan rindangnya pepohonan. Disaat telah mencapai tempat yang seharusnya. Pria itu memarkirkan mobil di belakang pondok. Kemudian tak lupa menggendong Anggun dan masuk ke dalam pondok. Benar saja si bos sudah menunggu kedatangannya.
"Bawa wanita itu ke dalam kamar. Jangan lupa ikat kedua tangan dan kakinya! Pastikan mata juga tertutup kain yang ku sediakan di atas meja," Si bos memberikan perintah, membuat pria kepala plontos mengangguk, "Setelah itu, kembali ke mari! Kita harus merencanakan langkah selanjutnya."
Sang bos yang tengah menikmati rokok seraya memainkan gelas wine di tangan kirinya itu, membiarkan anak buahnya melakukan apa yang ia perintahkan.
Tanpa basa-basi. Si pria plontos membawa Anggun masuk ke sebuah kamar yang kumuh dan pengap, tapi masih tersedia satu ranjang besi yang hanya berselimutkan sprei tipis, "Apa semua ini benar. Aku pikir, wanita ini akan menjadi ratu. Ternyata sekarang justru menjadi tahanan. Ck. Ck. Sungguh menyedihkan nasibmu."
Setelah melakukan apa yang diminta oleh bosnya. Pria plontos keluar meninggalkan kamar dan tidak lupa juga mengunci pintu. Iya duduk di kursi yang ada di hadapan sang bos, "Sekarang apa tugas selanjutnya, Bos?"
"Duduk saja, dulu dan nikmati rokok yang ada di atas meja," Ucap sang Bos bersikap lebih santai, membuat anak buahnya hanya mengangguk dan mengambil sebatang rokok, lalu dinyalakan.
__ADS_1
Asap putih yang mengepul menyebar mulai memenuhi ruangan dengan aroma khas tembakau. Kedua pria itu menikmati hisapan demi hisapan rokok tanpa mempedulikan tempat mereka berada. Tidak ada percakapan. Apalagi mencoba untuk mencari tahu tentang pekerjaan selanjutnya. Sementara di tempat lain. Obrolan tentang rencana pembuktian tentang kesetiaan seorang istri masih terus saja berlanjut.
Bryant mengangguk paham dengan saran dari Muel yang menurutnya cukup bagus dan bisa dipraktekkan. Akan tetapi, dia juga mengingat beberapa hal penting yang memang tidak bisa disepelekan. "Aku akan mencoba itu, tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan? Aku tahu benar, bagaimana Hazel istriku. Wanita itu terlalu ambisius dan juga tidak mau kalah. Sikap over selalu menjadi dominan."
"Aku tahu itu, tapi ini, bukan masalah obsesi dan juga ambisinya. Disini kamu harus mengingat bahwa saat ini Ara juga sedang hamil. Satu kesalahan saja, bisa membuat semuanya menjadi kacau. Emangnya kamu mau menyia-nyiakan usaha semua orang? Termasuk usaha Om Al untuk melindungi istrimu. Nanti justru berimbas pada Ara saja. Lalu, dimana tanggung jawabmu sebagai seorang suami?"
"Ayolah, Bry. Lepaskan Hazel karena wanita itu, tidak pantas untukmu dan kamu harus bisa, membuat semua ini menjadi lebih baik. Apalagi, jika semua yang terjadi padamu di saat awal hubungan kalian adalah sebuah penjebakan. Aku akan bantu kamu untuk membuktikan semua itu. Apa sekarang kamu sudah bisa tenang dan berpikir lebih jernih? Semua cerita mu pasti memiliki celah kebenaran."
Samuel berusaha untuk memberikan nasihat dan juga arah yang tepat agar sang sahabat tidak kembali melakukan kesalahan. Termasuk memberikan janji yang tidak diperlukan. Bryant terlihat tengah berpikir, hingga terdengar suara helaan nafas seraya memainkan flashdisk di tangan kanannya. Benda mati itu berisi rekaman CCTV yang sudah di pindahkan. Meski belum sempat dibuka, tetap saja bukti harus diamankan terlebih dulu.
"Oke, kita lakukan seperti yang kamu katakan. Jika memang ini berhasil. Semua akan berakhir dengan baik, tapi sebelum itu. Aku harus mempersiapkan sesuatu agar Hazel tidak tahu tentang Ara karena aku sendiri sudah jujur. Jika memiliki istri siri. Seingatku, dia memiliki beberapa orang kepercayaan. Bukan tidak mungkin, orang-orang kepercayaannya berusaha mencari tahu, dimana istri siri yang aku sembunyikan. Jadi keamanan Ara harus diutamakan."
Obrolan Bryant dan Samuel masih berlanjut dengan pembicaraan beberapa kesepakatan dan juga mencari solusi, dari setiap cabang untuk mengantisipasi setiap kemungkinan yang bisa terjadi. Perbincangan keduanya memang termasuk rapat penting karena membahas masa depan yang tidak bisa mereka ubah. Ketika mereka sudah memutuskan sesuatu. Awal yang tegang, tapi berakhir menjadi perdamaian.
Sementara di sisi lain, pelukan teletubbies sedang berlangsung. Dimana posisi persis seperti kartun yang sekarang ini tidak ditayangkan lagi televisi terpantul dari kaca depan. Setelah merasa cukup puas dan lebih baik. Akhirnya pelukan itu diakhiri, tapi satu diantara mereka mengulurkan tangan dengan telapak tangan mlumah. "Mari kita membuat janji persahabatan. Di dalam ikatan ini tidak ada kata maaf dan terimakasih. Tidak ada paksaan dan juga keegoisan."
Pihak kedua berusaha untuk bersikap to the poin dan menyampaikan pemikiran yang ia miliki, "Persahabatan tidak bisa diminta. Meskipun janji bisa diucapkan. Apakah kalian siap dengan resikonya? Bukan maksudku menjadi guru, tapi rasa kecewa seorang manusia itu berawal dari harapan yang kita bangun sendiri. Sementara janji hanyalah sebuah kata. Kenapa tidak memberikan bukti saja, daripada hanya sekedar janji."
__ADS_1
"Hubungan kita bermula dari pertemuan pertama. Sejak saat itu, kita mencoba untuk saling memahami. Jadi, ayo kita usaha untuk selalu mengingatkan satu sama lain. Jika ada yang berbuat salah, jangan segan untuk memberikan teguran. Jika ada yang merasa membutuhkan teman curhat. Maka, kita harus berusaha untuk mendengarkan dengan baik dan tenang. Bagaimana? Apa kalian semua menerima ini?'
Pihak ketiga bersikap netral dan berusaha untuk memeluk pendapat semua orang. Sontak saja, itu seperti cahaya di kegelapan malam. Uluran tangan pihak pertama bersambut dengan tangan pihak kedua, lalu pihak ketiga menangkup kedua tangan lain itu untuk disatukan, "Semoga tidak ada niat jahat yang berusaha menghancurkan hubungan kita. Aku berharap persaudaraan ini akan selalu menjadi kekuatan kita."
Tingtong!
Tingtong!
Tingtong!
Suara bel pintu dari pagar depan terdengar begitu jelas. Dimana di luar sana. Seorang wanita berdiri di depan gerbang yang khusus untuk pejalan kaki. Terlihat seperti satpam menghampiri tamu yang terlihat asing, "Maaf, Nona mencari siapa?"
...****************...
...----------------...
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
__ADS_1
...----------------...