Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 45: BERTEMAN


__ADS_3

"Terimakasih, Ka." Ucap Ara tersenyum.


Tanpa keduanya sadari, dua wanita lain memilih berdiri menunggu percakapan itu berakhir. Hingga ucapan terimakasih Ara, membuat mereka keluar dari balik dinding.


"Assalamu'alaikum."


Muel dan Ara serempak menengok kebelakang dimana suara salam lembut menyapa telinga mereka. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Ayo, masuk! Kita bicara sebentar." ajak Muel tanpa mengubah posisi duduknya yang tepat di depan Ara dengan jarak satu tiga puluh senti.


Kinara dan Ocy hanya menurut, lalu duduk disebelah Ara. Kini keempat manusia di dalam mushola saling terdiam sesaat. Hingga pria yang kini memiliki tanggung jawab untuk menjaga penghuni Villa menegakkan posisi duduknya.


"Bryant sudah kembali ke kota, disini! Saat ini, kita hanya berempat untuk saling menjaga dan mengasihi. Sebelum hari baru dimulai. Aku akan menegaskan beberapa hal, anggap ini peraturan ku atau permintaan ku. Terserah kalian." Muel menatap satu persatu wanita yang memiliki wajah berbeda-beda, dengan sifat dan sikap yang pasti tidak sama. "Bertemanlah! Jangan menganggap satu dari lainnya lebih tinggi statusnya. Kalian bertiga paham?"


"Paham." Jawab Ocy dan Kinara serempak.


"Paham, Ka, tapi kapan Tuan Bryant kembali?" tanya Ara.

__ADS_1


"Pertama, ubah panggilan mu untuk suamimu. Dia suamimu, bukan majikanmu. Bryant akan kembali setelah urusan perusahaan selesai." Jawab Muel dijawab anggukan kepala Ara.


"Apa boleh aku ajak Ara jalan-jalan?" tanya Kinara.


"Kalian boleh berkeliling villa, tapi jangan keluar dari kawasan villa. Ocy, tugasmu mengawal!" Muel melirik kekasihnya sekilas, "Satu jam kalian harus kembali untuk sarapan, dan aku sendiri yang akan memasak. Selamat pagi."


"Kenapa kakak tidak ikut?" tanya Ara.


Muel mengusap kepala adik angkatnya dengan senyuman hangat. "Aku memiliki tugas mengatur makananmu, pergilah. Udara pagi sangat baik untuk kesehatan."


Ara tersenyum mendapatkan perhatian tulus dari orang-orang disekitarnya. "Terima kasih."


"Tidak ada terima kasih dan maaf. Bukankah mulai saat ini, kita semua berteman?" Ucap Ocy.


"Benar, kita teman. Ayo saling belajar memahami satu sama lain. Apapun yang menjadi keraguan dan pertanyaan, kita singkirkan dengan kejujuran satu sama lain. Bagaimana?" sambung dokter Kinara.


Ara mengangguk, lalu menyambut uluran tangan Ocy dan Kinara. "Berteman."

__ADS_1


Langkah kaki ketiga wanita yang berjalan meninggalkan mushola, membuat Muel menghela nafas lega. Setidaknya di dalam villa tidak akan ada ketegangan. Semua yang diharapkan bisa tercapai. Tetapi ada yang mengganggu pikirannya saat ini, dan itu tentang nasib rumah tangga sang sahabat bersama adik angkatnya.


"Ya Allah, aku memang bukan hamba mu yang taat. Namun, sebagai seorang kakak. Izinkan hamba, memohon perlindungan dan kebahagiaan dalam kehidupan Ara. Ntah kenapa hatiku tidak rela melihat air mata gadis itu. Tunjukkan jalan terbaik untuk rumah tangga kedua orang terkasih ku. Hanya kepada Mu hamba berserah diri. Ameen."


Do'a yang Muel panjatkan tulus dari hatinya. Rasa yang menghampiri pria itu bergelut dalam kepasrahan. Sementara di tempat lain, tatapan mata yang dipenuhi penyesalan terus menatap gadis di dalam pelukannya.


"Maaf, aku tidak bisa menahannya." ucapnya setengah berbisik, membuat gadis yang terlelap terusik.


"Kenapa minta maaf?" tanya gadis itu tak paham membalas tatapan sendu dari pria yang sangat ia cintai. "Apa alasanmu meminta maaf? Apa karena penyatuan semalam?"


...----------------...


*Semua orang memilih untuk egois. Terkadang mereka hanya ingin peduli pada diri sendiri. Jangankan uluran tangan untuk sebuah pertemanan. Sekedar menyapa pun sangat sulit dilakukan.


Apalah arti sebuah kehidupan? Ketika emosi tak lagi berarti.


Jangan pernah sia-siakan mereka yang mencintai kalian sepenuh hati tanpa pamrih. Ulurkan tangan dan genggamlah mereka yang selalu bersama kalian disaat terpuruk*.

__ADS_1


__ADS_2