Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 41: AlKAN WITH BUNGA III


__ADS_3

"Pernikahan bukanlah sebuah kesepakatan. Aku mengubah keputusan ku....,"


Deg!


Tangan bunga langsung terkulai lemas mendengar ucapan Al yang masih belum usai. Hantaman keras membuat pandangannya menghilang. Semuanya berubah menjadi gelap.


"BUNGA....,"


Pingsannya Bunga menggegerkan semua orang yang ada di tempat itu, tapi dengan sigap Al menggendong tubuh gadis itu, lalu berjalan meninggalkan tempat pernikahan. Keluarga mempelai pria dan wanita juga ikut mengekor dengan wajah panik. Bukan menuju lantai atas. Melainkan menuju sebuah sofa yang ada di ruang keluarga.


Alkan membaringkan Bunga perlahan agar tidak membentur apapun. Baru saja posisi gadis itu benar. Sebuah tangan mencengkram lengannya, dan ditarik begitu saja. Berlanjut dengan sebuah tamparan yang keras mencium pipi kiri Al. Sang pelaku menatap tajam dengan gemeretak suara gigi menahan emosi.


"Mas, sabar. Kita tunggu penjelasan dari Al, dulu....,"


Bram menyingkirkan tangan Milea dari pundaknya. "Sabar? Bunga pingsan di hari pernikahannya, dan kamu masih bisa meminta ku sabar? Kamu ini sayang anak kita, atau dia?!"

__ADS_1


Tangan Bram yang menunjuk ke arah Al dengan deru nafas yang memburu, membuat Angkasa menarik tangan adiknya untuk berbalik kearahnya. Tatapan mata kedua kakak adik bertemu. Dimana pengantin pria itu menatap mata sang kakak tanpa menunduk. Itu berarti pernikahan akan tetap terjadi.


"Bram, berikan Al satu kesempatan untuk menjelaskan. Jika adikku tidak menepati janjinya. Silahkan hukum dia sesukamu." pinta Angkasa mendapatkan tatapan gemas dari sang istri.


Enak saja main hukum adik iparnya. Tidak mungkin juga seorang Alkan mempermainkan sebuah hubungan. Meskipun hubungan itu belum dimulai, sedangkan yang dibicarakan justru terlihat tenang tanpa dosa.


"Hanya karena kamu yang meminta. Okay, Al, jelaskan! Apa maumu?" Bram menjatuhkan diri ke sofa di belakangnya.


"Aku akan jelaskan, tapi tunggu Bunga siuman." jawab Alkan kembali fokus dengan calon istrinya.


Tidak ada yang membantah. Andai menjelaskan tanpa Bunga, sama saja harus menjelaskan ulang. Setelah memberikan minyak angin dan juga menambah volume AC. Akhirnya mempelai wanita itu sadar, tapi begitu mata terbuka. Ia langsung memalingkan wajahnya dari Alkan.


"Aku memang membatalkan keputusan ku, tapi bukan soal pernikahan kita. Melainkan kontrak pra nikah yang menjadi syarat untuk mengikat kehidupan kita seumur hidup." Alkan memegang kertas dengan kedua tangannya, lalu merobeknya menjadi empat bagian.


Tindakan Alkan, menghadirkan senyuman kebahagiaan, kelegaan dan juga helaan nafas lega dari para orang tua. Padahal pikiran mereka sudah bercabang hingga menemukan jalan buntu. Seketika semua terang tanpa ada rasa takut dan juga kekhawatiran lagi. Berbeda dengan Bunga. Gadis itu masih saja memalingkan wajahnya karena merasa dikhianati.

__ADS_1


Tidak hanya sampai disitu, tangan Al yang berusaha menggenggam tangan Bunga. Justru mendapatkan penolakan. "Aku....,"


"Bram, NIKAHKAN KAMI SEKARANG!"


Suara jelas dengan ketegasan benar-benar menusuk telinganya. Apa dia tidak salah dengar? Menikah? Sekarang? Pasti imajinasi mulai bekerja lagi.


Bunga, kamu tidak waras! Pasti itu ada di otakmu saja. Pejamkan mata, dan tidur saja.~batin Bunga benar-benar melakukan sugesti dari isi hatinya.


Alkan tidak masalah dengan sikap Bunga., dan bahasa isyarat membuat semua orang mengangguk setuju. Angkasa memanggil penghulu ke ruang keluarga beserta semua pelayan yang akan menjadi saksi. Hanya hitungan menit, semua sudah berkumpul. Penghulu, Bram dan Alkan duduk saling berhadap-hadapan.


"Silahkan, Pak!" Pak penghulu mempersilahkan Bram memulai ijab kabul.


Bram mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut hangat Al. "Saya nikahkan, dan kawinkan. Saudara Alkan Putra dengan putri kandung saya Bunga....,"


Suara sang papa yang mengucapkan ijab kabul, membuat gadis itu membuka matanya kembali. Sontak ia terbangun dan betapa terkejutnya ketika pemandangan di depan sangat tidak bisa dipercaya. Papa dan Alkan berjabat tangan saling memandang. Para pelayan ikut terharu karena majikan mereka melepas masa lajang. Belum sempat mencerna apa yang terjadi. Jiwa, hati dan raganya tersentak dengan satu kata yang keluar dari pak penghulu.

__ADS_1


"SAH!" ucap Pak penghulu mengikrarkan ijab kabul telah berakhir dengan persetujuan semua saksi.


Kesadaran, kenyataan dan juga imajinasi. Bunga tidak bisa membedakannya lagi, ingin rasanya menari mendengar kata *SAH* dari Pak penghulu, tapi setelah mendengar ucapan Alkan yang memutuskan hubungan. Semua kembali gelap, dan matanya kembali terpejam dengan tubuh terjatuh ke sofa.


__ADS_2