Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 178: Cinta dan Persahabatan


__ADS_3

Perpisahan kembali terjadi, tetapi kali ini menjadi dua perpisahan sekaligus. Setelah memberikan pelukan terakhir. Bryant pergi meninggalkan Villa, membuat Darren terkulai lemas. Hati yang membara seketika tersadar. Persahabatan diatas cinta, namun ini tidak adil. Jika memang keduanya saling mencintai, kenapa tidak melakukan sportif kompetisi saja?


Bukan hanya Darren yang terkejut akan semua itu. Dibalik pintu, Ara mendengar semuanya. Wanita itu menjatuhkan diri, tubuhnya melorot ditemani hujan air mata yang mengalir begitu deras. "Kenapa, Mas? Apa aku ini barang yang bisa kamu berikan secara sukarela."


Sesak, ketika orang yang diharapkan untuk menghabiskan sisa waktu kehidupan bersama. Justru melepaskan tanpa menoleh kebelakang. Hancur tak berbentuk, bahkan serpihan cahaya masih lebih baik. Apa arti cinta dan persahabatan?


Cinta macam apa yang kini mengikat hubungan mereka bertiga. Apakah semua ini karena sudah tidak ada bayi lagi di dalam rahimnya. Tidak. Jika Bryant mau, sudah pasti akan mencoba memulai hubungan baru dengan awal yang lebih baik. Nyatanya, pria itu menyerahkan dirinya pada Darren.


Sinar mentari begitu cerah menyambut pagi hari, namun tetap terasa gelap karena hati tak mampu menahan duka. Luka yang baru saja mengering, kini kembali terbuka. Terasa perih menganga. Ketika tak lagi mampu bertahan, Ara bangkit dari tempatnya.


Langkah kaki berjalan sempoyongan. Kali ini, ntah apa yang akan dia lakukan untuk bertahan. Baru semalam, rindu yang menggebu-gebu terobati. Apakah takdir tidak memiliki hati nurani? Setiap langkah menjadi ketidakberdayaan.


Jalan menanjak didepan sana nampak berputar-putar. Mungkin bukan jalannya, tetapi pandangannya yang mulai kabur. Kenyataan hidup sekali lagi menyambar kesadaran. Ia tak mampu lagi menahan beban berat yang kini menghantam kehidupan nyatanya.


Tubuhnya limbung ke belakang dengan mata yang mulai terpejam. Gelap yang menyapa bersambut sentuhan tangan seseorang. Aroma parfum yang selalu ia kenali. Memang menenangkan, tetapi bukan tangan itu yang dia harapkan.

__ADS_1


"Hey, Ayra. Bangun!" Seru Darren merengkuh tubuh wanitanya yang tidak sadarkan diri.


Kepanikan Darren nampak jelas tergambar dari raut wajahnya. Pria itu bergegas menggendong Ara meninggalkan Villa. Mobil melaju lebih cepat dari biasanya. Jarak antara Villa menuju rumah sakit terdekat cukup memakan waktu satu jam kurang.


Di saat perjalanan, mobil yang ditumpangi Darren melintas melewati mobil Bryant. Tetapi disaat yang sama, pria itu tengah menerima panggilan darurat dari keluarga. Wajahnya pucat, dan akhirnya tidak melihat jika Ara tengah membutuhkan dirinya.


Empat puluh menit kemudian. Mobil memasuki halaman rumah sakit, Darren memarkirkan mobil sembarangan. Lalu menggendong Ara seraya berlari memasuki rumah sakit. Teriakannya memanggil para dokter menjadi sentakan untuk semua orang, buru-buru tim medis membawa Ara ke ruangan pemeriksaan.


Sementara Darren menunggu di luar ruangan dengan cemas. Detak jantungnya terhenti, deru nafas memburu. Jangankan marah, hatinya dipenuhi rasa takut. Apalagi dokter sudah menjelaskan. Jika Ara tidak boleh menerima tekanan batin, tapi melihat situasi saat ini.


Ditatapnya pintu ruangan pemeriksaan dengan ratapan nanar. Apalagi yang akan dia lakukan? Kali ini, bukan tentang cinta atau sahabat. Semua tentang takdir yang bukan untuknya. Sekeras apapun, jika itu bukan menjadi garis takdir kehidupannya. Maka, semua akan terlepas dengan sendirinya.


Bukankah begitu? Sebagai manusia, kita diwajibkan berdoa agar bisa mengatakan harapan tentang angan. Namun, Allah tahu mana yang terbaik untuk kita. Selain itu, kita diharuskan untuk berusaha. Setelah beberapa waktu, Allah memberikan kesempatan untuk menjaga Ara.


Akan tetapi, hati tidak bisa dipaksakan. Satu pertemuan, menyatukan sebuah ikatan. Tidak memerlukan kata untuk menjelaskan. Ketika mata terpejam, Darren mengingat betapa damai dan tenangnya Ara terlelap di dalam pelukan Bryant. Apakah dia sanggup merebut kedamaian itu? Tidak.

__ADS_1


Semua tidak akan menjadi baik. Ketika seluruh emosi yang dimilikinya selama ini, hanya dari satu pihak. Kini Darren tahu, jika DIA yang dimaksud oleh Ara adalah Bryant. Sahabatnya sendiri. Kisah itu menjadi semakin jelas. Kenyataan tidak akan berubah, meski ingin sekali mengubahnya.


Ya Allah, selamatkan Ayra. Jika memang dia bukan jodoh hamba. Maka, hamba ikhlas. Biarlah cinta ini menjadi milikku seorang.~batin Darren seraya menyembunyikan wajahnya dalam tangkuban kedua tangan.


Setelah menunggu selama sepuluh menit. Dokter keluar dari ruang pemeriksaan seraya melepaskan maskernya, "Tuan, apakah Anda keluarga pasien?"


Suara sang dokter mengalihkan kegelisahan Darren, membuat pria itu beranjak dari tempat duduknya. Lalu mengangguk. Melihat itu, si dokter memgusap bahu keluarga pasiennya. Nampak jelas, jika pria berjas putih tengah merangkai kata di dalam kepalanya itu.


"Sebelumnya, Saya turut perihatin. Keadaan pasien mengalami penurunan imun secara drastis. Biasanya disebabkan karena kurang asupan gizi, tapi kali ini terjadi karena kondisi pasien mengalami tekanan mental yang berlebihan. Melihat dari laporan. Saya sarankan untuk pasien dibawa ke rumah sakit kota."


Seperti dugaannya, Darren hanya menyimak tanpa ingin membantah pernyataan sang dokter. Setidaknya Ara masih dalam keadaan baik dan sehat. Meski harus melakukan terapi demi memuliakan kesehatan mental. Terkadang orang yang menyimpan semua beban pikiran seorang diri. Justru akan sering mengalami pusing.


Seharusnya, sebagai manusia biasa. Kita memiliki tempat berbagi suka dan duka. Bukan bermaksud mengeluh, melainkan sebagai self healing. Dimana akal sehat dari pikiran akan terjaga. Kecuali, bagi mereka yang introvert. Dimana orang introvert suka menyimpan segalanya seorang diri.


Setelah menyelesaikan administrasi. Darren membawa Ara kerumah sakit rujukan tanpa menunggu wanita itu sadar. Apapun akan dia lakukan agar pujaan hatinya kembali pulih dan bisa hidup dengan normal. Hari ini, kehidupan tenang di Villa berakhir.

__ADS_1


__ADS_2