Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 51: DIPERTANYAKAN


__ADS_3

Sementara si resepsionis tertegun dan tangan gemetar mengambil kertas yang pria itu berikan. "Perbedaan antara kebenaran dan kepalsuan setipis benang. JANGAN PERNAH MENILAI ORANG LAIN DARI PENAMPILAN APALAGI TANPA KAMU TAHU, SIAPA MEREKA!"


"Aduh, gawat. Bagaimana sekarang? Pasti nanti aku dipecat. Kalau berhenti kerja, gimana aku bantu biaya kuliah adikku?" Resepsionis itu bermonolog sendiri dengan menggigit kuku gugup, "Aku harus minta maaf....,"


"Permisi, Mba. Boleh minta formulir nya?" tanya seorang wanita.


Hening, hingga gebrakan meja pelan mengagetkan sang resepsionis. "Eh, copot. Iya, apa Bu?"


"Mba kalau kerja itu fokus! Jangan malah ngalamun. Dari tadi minta formulir malah kamunya bengong." Celetuk wanita itu ketus.


"Maaf atas kelalaian....,"


"Udah buruan, Mba! Formulirnya mana?" sela wanita itu tidak sabaran.


Perselisihan diantara keduanya sedikit mencuri perhatian orang-orang di ruangan itu, sedangkan di dalam ruangan sang manajer wajah ditekuk dengan kedutan alis harus menghela nafas panjang. Setelah mendengar permintaan tamu pentingnya pagi ini.

__ADS_1


"Tuan, proses itu bisa dilakukan. Hanya jika kedua pihak setuju, tapi jika hanya salah satu pihak. Anda tahu benar tentang hukum negara ini, iya 'kan?" Ucap Pak Dinata.


Alkan menyilangkan kedua tangan di dada. "Saya tahu, tapi Anda juga tahu. Ketika seorang anak lahir di dunia, dan kedua orang tua mereka masih dalam ikatan pernikahan siri. Maka status anak itu akan DIPERTANYAKAN."


"Baiklah, saya siapkan semua berkasnya. Apa Anda bisa mendapatkan surat izin dari istri pertama Tuan Bryant?" Pak Dinata mengalah, karena apa yang dikatakan Alkan benar.


"Surat izin dan perceraian akan datang di hari yang sama. Aku tunggu kabar baiknya, dan ya waktumu hanya DUA HARI MULAI DARI SEKARANG!" Alkan menekankan ucapnya agar semua bisa di handle dan tidak lagi mundur.


"Siap, Tuan Alkan. Seperti yang Anda inginkan. Terima kasih atas kepercayaan Anda." Balas Pak Dinata mengulurkan tangan kanannya.


"Semua sudah selesai. Kalau begitu saya pamit. Selamat bekerja, Pak Dinata. Assalamu'alaikum." Ucap Al berpamitan.


"Wa'alaikumsalam, mari saya antar ke depan." Jawab Pak Dinata.


"Tidak perlu, Saya bisa sendiri." Balas Alkan, membuat Pak Dinata menganggukkan kepala.

__ADS_1


Langkah kaki yang panjang berjalan meninggalkan ruangan Pak manager. Perasaan dan pikiran Al sudah lebih tenang. Beberapa masalah perlahan mendapatkan solusinya. Meskipun ia harus bermain curang demi melindungi keluarganya.


Aku harus melakukan tindakan pada siluman cicak. Coba aku tanya anak buahku. Dimana wanita rubah itu berada sekarang.~batin Al, lalu merogoh sakunya mengambil ponsel.


Jemari yang terlihat besar memainkan gawai dengan begitu cekatan. Hingga benda pipih itu diangkat menempel ke telinga diiringi bunyi dering yang tidak begitu keras, membuat langkahnya terhenti di depan pintu masuk.


"Dimana keberadaannya?" Al bertanya tanpa basa basi, dan jawaban dari seberang menerbitkan senyuman smirk. "Good, awasi terus. Jangan sampai lengah!"


Panggilan berakhir. Niat hati ingin memeriksa pesan masuk. Dimana terlihat notif bejibun, tetapi tangkupan tangan yang tiba-tiba saja muncul di depannya. Benar-benar mengalihkan perhatiannya. Wanita dengan wajah pucat, seragam batik putih corak biru menundukkan kepala dengan tangkupan tangan di dada.


"Hmmm. Ada apa?" tanya Al dingin.


Resepsionis tertegun, tiba-tiba suaranya tak mau keluar. Rasanya ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya. Tak ingin niat meminta maaf jadi sebatas angan, ia memejamkan mata. Keheningan tanpa jawaban wanita itu, membuat Al melanjutkan perjalanan tanpa ingin ambil pusing.


Lima menit kemudian,

__ADS_1


"TUAN, AKU MINTA MAAF."


__ADS_2