
"Aku harus semangat. Disini akan ku temukan masa lalu dari Ka Darren."
Perjuangan Denis dimulai. Apapun rahasia yang akan terungkap. Biarlah pemuda itu sibuk seorang diri dengan melupakan rasa kantuk sepanjang malam. Dari satu sudut ke sudut lain berubah menjadi amburadul. Begitulah mode pencarian yang membuat kamar berubah menjadi kapal pecah hanya dalam hitungan tiga jam lebih. Setelah menyatukan banyak barang dengan melemparkan ke sembarang arah.
Denis terduduk di lantai seraya menyandarkan kepala ke tepi ranjang. Matanya sudah lelah mencari, tapi tidak ada hasil apapun. Jangankan tentang masa lalu sang kakak, bahkan foto lama semasa SMA dan kuliah Darren saja. Tidak satu lembar pun tersimpan di apartemen itu. Jadi, dimana bukti keberadaan kakaknya selama beberapa tahun terakhir?
"Haduh. Belum tua sudah pikun," Denis menepuk keningnya sendiri, lalu menatap langit kamar, "Pasti semua foto disingkirkan Papa, atau mungkin Mama. Kenapa gak kepikiran sih, sekarang siapa yang harus aku bujuk? Bagaimana dengan Papa? Jawaban pasti hanya tatapan mata tajam. Jadi, besok bujuk mama aja dengan setangkai bunga lili."
Harapan Denis begitu besar. Pemuda itu ingin mengembalikan ingatan sang kakak. Jangan dipikir enak memiliki kakak yang amnesia. Terkadang untuk bepergian bersama. Justru dia yang akan menunjukkan arah. Belum lagi, kalau tengah makan bersama. Kakaknya seringkali masuk ke warung di pinggir jalan. Kebiasaan yang berubah drastis.
Malam itu menjadi rasa lelah. Namun, sinar mentari akan selalu memberikan secercah semangat tanpa diminta. Waktu berlalu begitu cepat. Dari balik selimut, sebuah tangan muncul menggeliat dengan suara lenguhan parau. Kelopak mata perlahan terbuka melihat ke sekeliling hingga wajah tampan nampak terlelap di sebelahnya.
"Tampan sekali," gumamnya seraya menatap wajah sang suami dengan memainkan jemari lentiknya mengusap pipi pria tertidur dengan senyuman tipis.
"Boleh ganggu, ya. Dikit aja," Ujarnya, lalu mendekati wajah sang suami, lalu mengecup kening pria itu dengan kasih sayang.
Mood yang menggebu-gebu seakan ingin mendapatkan perhatian lebih. Ntah bagaimana awal mulanya, hingga kecupan itu nyasar mendarat di bibir suaminya. Niat hati ingin melepaskan diri, justru ada tangan yang merengkuh pinggangnya. Kemudian mengajari bagaimana cara memulai pagi hari dengan sarapan yang manis.
__ADS_1
Pagutan pasutri itu tak bisa dihindari. Ara menikmati sentuhan lembut suaminya. Bryant sendiri terbawa suasana dan memberikan hak istrinya untuk mendapatkan kepuasan batin. Sinar mentari yang menerobos dari celah tirai. Justru menambah semangat keduanya memulai pergulatan ranjang. Kehangatan dengan lelehan keringat berteman decitan ranjang yang bergoyang.
Pasutri yang masih merasakan dunia hanya milik mereka berdua. Sementara diluar sana. Tepatnya di sebuah cafe yang ada di dasar hotel. Al menatap Sam begitu tajam. Sorot mata kemarahan jelas terlihat dari pria dewasa itu, sedangkan yang ditatap hanya bisa menundukkan kepala karena sadar diri. Dia telah melakukan kesalahan.
"Sekarang, katakan. Apa maumu?" Al bertanya dengan nada geram, bahkan di saat hatinya dipenuhi amarah, dia tetap berusaha berbicara dengan baik. Semua itu karena Sam sudah dianggap sebagai keluarga dan bukan orang asing.
Sam menghirup oksigen sebanyak mungkin, lalu mendongak memberanikan diri untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang dia lakukan, "Aku akan menikah hari ini juga."
"Bang!"
Sam mengangguk. Ini memang salahnya karena justru membawa Ocy untuk menginap ke kamarnya semalam. Sungguh diluar dugaan, ntah darimana minuman lucknut bisa masuk ke dalam kamarnya. Sehingga, terjadi tragedi satu malam yang membuat kehormatan sang kekasih terenggut.
Disaat rasa terkejut menguasai dan belum sempat meminta maaf pada Ocy. Perbuatannya digerebek oleh Om Al dan Bunga. Sontak saja, bogem mentah mendarat di kedua pipi dan juga perutnya. Sakit, tapi tidak sesakit perasaan yang dirasakan oleh sang kekasih. Mau, tak mau. Maka sidang menjadi media sosialisasi untuk mendengarkan alibi dan keputusan.
Sam harus meninggalkan hotel dan merencanakan pernikahan dadakan. Rasa yang bercampur menjadi satu. Justru, membuat pria itu tidak fokus menyetir hingga menepikan mobil di pinggir jalan. Lalu, menghantamkan kedua tangan ke strir. Rasa sakit dan pegal yang dia rasakan. Tidak mengurangi penyesalan di hatinya.
Bagaimana bisa. Dia merenggut mahkota Ocy? Sesaat mencoba mengingat apa yang terjadi semalam dan terakhir yang menyangkut di memori adalah dua jus jeruk yang dikirim pelayan untuk pemesanan kamar. Bukan dia yang memesan, lalu siapa? Apapun itu, kini sudah menjadi tanggung jawab untuk segera menikah dengan Ocy.
__ADS_1
Pergulatan batin dan pikiran Sam. Justru membuat pria itu bergerak cepat dengan mempersiapkan pak penghulu dan juga mahar. Namun, ketika mobil memasuki kediaman Putra. Jujur saja, rasa takut menyergap memberikan rasa khawatir yang luar biasa. Om Al memberikan peringatan untuk tidak berkata jujur, tapi jika berbohong. Sudah pasti, bisa menjadi salah paham dikemudian hari.
Mama Bella yang sibuk menyiram tanamannya langsung mematikan keran, lalu menjalankan kursi roda dengan pengendali yang bisa digerakkan menggunakan tangan kanannya. Wanita itu bisa melihat kecemasan di mata sang putra angkat. Sam yang sibuk melamun bahkan tidak menyadari kedatangan mamanya dari arah taman.
"Nak, ada apa?" Tanya Mama Bella lembut, tapi Sam tidak menanggapinya dan justru menatap rumah dengan tatapan mata kosong.
Melihat keanehan yang terjadi pada Sam. Mama Bella mengirim pesan singkat pada suaminya agar keluar dari rumah. Hanya berselang lima menit. Terlihat Papa Angkasa keluar dari pintu rumah utama, bahkan pria itu berlari kecil karena terlihat ikut cemas. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada istri dan anaknya? Tentu saja, hati seorang ayah tidak bisa dikendalikan.
"Ma, apa yang terjadi?" tanya Papa Angkasa begitu berdiri di depan Sam dan sang istri, tapi Mama Bella justru menunjuk ke arah Sam. Sontak saja tatapan matanya teralihkan, ternyata sang putra terbengong dan ntah sampai mana lamunan pria itu travelling.
Pluk!
Satu tepukan bahu kembali menyadarkan Sam, tapi tiba-tiba pria itu justru bersimpuh memegang kakinya dengan suara tangisan seperti anak kecil. Sungguh, kenapa menjadi sangat aneh? Lalu, kenapa pula harus mengiba seperti meminta pengampunan. Papa Angkasa memegang kedua lengan Sam, kemudian membantu putranya untuk berdiri. Tatapan mata saling bertemu.
"Apa kesalahan mu? Jujurlah!"
"Pa, Aku minta maaf. Aku sudah merenggut mahkota Ocy yang dijaga selama ini, aku tidak akan membohongi keluarga ku sendiri. Apapun hukuman yang akan Papa berikan. Aku siap."
__ADS_1