Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 160: BUKAN PASANGAN ROMANTIS


__ADS_3

Al tak gentar dengan langkah kakinya. Apalagi Bunga memberikan senyuman untuk tetap maju, "Keluarga adalah tempat kejujuran. Jika hari ini, Aku menyembunyikan Almaira. Suatu saat nanti, Aku tidak berhak dipanggil papa oleh putriku sendiri."


"Mas Al benar, Pa. Almaira putri kami. Tidak ada yang salah untuk itu. Jika kami menyembunyikan putri secantik dia. Dunia bisa merenggutnya dari kami. Percaya saja, jika ini yang terbaik untuk keluarga kita."


Putri dan menantunya sudah kompak dan kekeh akan menunjukkan Almaira sebagai anak mereka. Sebagai orang tua, Milea menguatkan sang suami agar percaya pada keluarga sendiri. Lagi pula, berkat bayi itu hubungan pasutri baru semakin erat. Jadi tidak ada salahnya untuk merengkuh dalam kebahagiaan yang nyata.


Al beserta keluarga Bunga menyalami semua orang, bahkan Bryant yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Pria itu langsung teralihkan pada wajah mungil yang terlelap begitu pulas di pelukan Bunga. Sementara Papa Angkasa memberikan kode mata agar adiknya mengikuti dia untuk melipir sebentar.


"Aku permisi dulu. Bunga duduklah. Jangan berdiri terus." ucap Al sebelum akhirnya berjalan meninggalkan semua orang menyusul sang kakak yang sudah pergi ke sudut ruangan terlebih dahulu.


"Ka, jangan ngalamun begitu. Nanti kesambet, loh." sindir Bunga mencoba untuk menetralkan suasana, tetapi Sam dan Bryant saling pandang seakan sepakat memiliki pemikiran yang sama.


Tingkat kedua pria itu, membuat Bunga masa bodo dan berpura-pura untuk membenarkan posisi Almaira agar tetap nyaman dalam pelukannya. Namun, semakin lama dipandang intens. Sungguh rasanya tidak nyaman dan tentram. "Punya duo Om, tapi kelakuan sebelas duabelas. Almaira putri Mama. Jangan bangun, ya. Tidur aja yang nyenyak."


"Sam, apa orang hamil bisa lahir dalam hitungan hari?" tanya Bryant mencoba untuk mengorek kebenaran dengan cara menyindir Bunga yang duduk memang di dekat kedua pria itu. Terlebih Sam menggelengkan kepala, "Jadi, bagaimana bisa memiliki bayi secepat itu?"

__ADS_1


Tidak ada rasa sakit hati, tapi geram saja akan sindiran Bryant. Tanpa basa-basi, wanita itu memukul lengan sang kakak. Pukulan yang cukup keras hingga wajah tampan itu meringis. "Kebiasaan cowok itu gak mau tanya secara langsung. Kakak pikir, aku ini anak ajaib. Sudahlah. Aku malas menjelaskan.''


Bryant tahu, jika caranya salah. Tak ingin mengubah suasana semakin tak enak, pria itu mensejajarkan posisinya menghadap Bunga. "Siapa nama putri cantik yang tidurnya begitu pulas. Apa kalian sudah mengadakan syukuran?"


"Almaira Keisha Alkan Putra." Bunga menatap wajah mungil bayinya dengan tatapan cinta, "Mas Al ingin mengadakan acara syukuran, tapi bukankah kalian semua harus tahu. Siapa bayi ini sebenarnya? Semua akan menjadi tanggung jawab bersama. Aku seorang istri, maka tugasku mendampingi suamiku."


Perbincangan itu harus terhenti. Ketika pintu kembali terbuka dan rombongan wanita memasuki tempat acara. Semua mata, sekali lagi teralihkan, membuat Papa Angkasa mau, tak mau harus fokus dengan acara pertunangan terlebih dahulu. Malam ini, acara hanya dihadiri beberapa orang yang bisa dikatakan keluarga besar.


Lihatlah, Ocy yang terus berusaha menjaga pandangan mata agar tidak terpatri pada prianya yang sudah tidak sabar untuk menggandeng tangan sang calon istri. Sementara Bryant tersenyum ketika matanya terus saja memperhatikan rona bahagia Ara malam ini. Meski bayangan masalah masih enggan meninggalkannya.


Singkat cerita. Sam dan Ocy duduk saking berhadapan dengan pembatas meja. Dimana meja itu dihiasi bunga segar dengan sekotak perhiasan sebagai pelengkap ritual pertunangan. MC yang ditunjuk adalah Nara. Dokter itu memulai acara dengan doa bersama, lalu di lanjutkan dengan bincang-bincang dari wakil kedua mempelai.


"Hay, calon istriku. Kamu tahu, jika aku tidak bisa romantis. Andaikan aku mencontek tulisan di buku. Setiap bait puisi, tidak akan mewakili isi hatiku. Pada malam ini, Aku tidak akan mengucapkan janji untuk selalu membuatmu bahagia atau selalu menjadikan mu ratu dalam hidupku." Sam menghirup nafas mencoba untuk menahan rasa gugupnya, beruntung Bryant masih setia menjadi pendamping di belakangnya.


"Ocy, hidup kita bukan hanya milik kita berdua. Apakah kamu mau, melengkapi kekurangan ku? Disetiap waktu yang menjadi cobaan untuk kehidupan kita nanti. Malam ini, aku tidak memiliki apapun selain niat hati untuk menjadikan wanita absurd ku sebagai pasangan halal ku. Apakah tanpa janji yang pasti, kamu mau menerima pria yang masih mencari jati dirinya?"

__ADS_1


Sam merunduk, lalu membuka kotak cincin yang menjadi pilihan Ocy. Kemudian mengarahkannya ke wanita yang menatapnya dengan kabut mata, "Maukah kamu menjadi istri dari pria biasa. Menghabiskan sisa hidupmu untuk bertengkar dan menjadi sahabat baru ku. Mengarungi dunia dengan langkah kaki yang tertatih. Will you be mine, Ocy?"


Rasa haru tak bisa lagi terbendung. Sam bukan pria romantis, tapi setiap kata itu seperti embun pagi yang menyegarkan. Tidak ada janji yang bisa diingkari. Tidak ada tuntutan yang akan menjadi beban. Sungguh, apapun yang menjadi penyatuan cinta akan terasa begitu suci.


"Yes, Ocy siap menjadi istri abang dokter yang tampan. Tidak peduli kata orang. Aku tahu, abang tercipta untuk menjadi teman kenakalanku." jawab Ocy mengulurkan tangannya, membuat Sam melingkarkan cincin yang dipegangnya untuk mendapatkan pemilik yang sah.


Suara tepuk tangan mewarnai acara lamaran. Ocy juga memasangkan cincin di jemari Sam. Pasangan itu sangatlah cocok. Tidak ada kata sungkan untuk berkata apa adanya. Tidak jaim hanya karena tidak bisa seromantis pasangan lain, bahkan keluarga ikut menitikkan air mata karena proses pertunangan berjalan tanpa pernah membayangkan akan seperti apa.


Kegembiraan itu semakin bertambah. Ketika Al memperkenalkan Almaira sebagai putrinya. Untuk saat ini, keluarga berpikir, jika bayi mungil itu adalah anak angkat Al dan Bunga. Sejenak semua dibiarkan begitu saja, hingga cara pesta berakhir dan beberapa tamu khusus membubarkan diri.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Terlihat para wanita sudah lelah, termasuk pasangan baru yang pasti ingin segera beristirahat untuk acara besok yang masih cukup padat. Mengingat itu, para suami memberikan izin agar para wanitanya beristirahat terlebih dahulu. Kini yang tersisa di tempat acara hanya ada lima pria dengan beda usia.


Samuel, Bryant, Papa Angkasa, Alkan dan Papa Bima. Kelima pria itu memilih untuk duduk ditempat yang sama dan saling berhadapan. Wajah semua orang terlihat begitu serius, tapi yang paling serius hanya Al dan Bryant. Tentu saja, dua pria itu memiliki ketegangan yang harus segera mendapatkan solusi dari masalahnya.


"Jadi, mau dimulai dari siapa?" tanya Papa Angkasa membuka pembicaraan agar tidak menjadi biksu.

__ADS_1


Bryant menyadari ketika sang paman melirik ke arahnya, tapi dia sendiri masih belum siap. "Om saja dulu. Aku ingin tahu, adik kecilku datang dari mana. Cantik, tetapi wajahnya mengingatkan diriku pada ....,"


"Almaira adalah putri kandungku." jawab Al tanpa basa basi, membuat Papa Angkasa melotot dan tanpa sadar langsung beranjak dari tempat duduknya. "Ka, tenang. Aku akan jelaskan semuanya, tapi duduklah!"


__ADS_2