Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 52: TINDAKAN ALKAN II


__ADS_3

Lima menit kemudian,


"TUAN, AKU MINTA MAAF."


Rasa takutku terusik dengan sentuhan yang mendarat di pundak kiriku. Sontak saja, aku membuka mata, dan betapa malunya diriku. Ketika orang yang ingin kudapatkan maafnya. Ternyata sudah menghilang dari hadapanku, dan kini orang-orang menatapku aneh.


"Maaf, silahkan kembali ke tempat masing-masing." pinta ku menahan malu.


"Makanya, Mba. Kalau mau minta maaf itu, mbok yo buka mata. Bukane tutup mata. Noh, si mamas ganteng wes metu." celetuk seorang ibu dengan perut sedikit membesar.


Sungguh rasa malu bertambah, tapi apa boleh buat. Memang ini salahku, dan aku harus minta maaf. Yah, meskipun pada akhirnya. Justru menjadi tontonan banyak orang.


"Makasih, Bu, sudah mau mengingatkan saya. Permisi." Aku berpamitan untuk kembali ke meja tempat ku bekerja, dan orang-orang kembali ke tempat masing-masing, "Apa pria tadi mau memaafkan aku, tapi dia aja gak denger permintaan maafku. Sekarang gimana?"


Dilema sang resepsionis hanya wanita itu yang mengalami karena pria yang bersangkutan bahkan tidak peduli dengan kejadian sepele seperti tadi. Kehidupan yang dia jalani saja. Sudah cukup memiliki banyak kerumitan.


Cuaca panas dengan kemacetan parah seringkali terjadi. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tetap saja masih macem. Mobil yang dikendarai Al memasuki parkiran khusus, bahkan beberapa bodyguard langsung menghampiri. Lalu membukakan pintu bos mereka.


"Selamat pagi, Tuan Alkan." sambut semua bodyguard serempak. "Mari, ikuti kami."


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Al dengan langkah kaki meninggalkan mobilnya.


"Tentu, Tuan. Heli tengah menunggu Anda di landasan bersama pasukan khusus. Seperti yang Anda minta." Bodyguard yang berani berjalan di sisi Al menjelaskan tanpa rasa gentar sedikitpun, membuat Al tersenyum tipis.


Al dikawal menuju lift kaca khusus. Disaat langkahnya sudah memasuki lift, dan para bodyguard juga berdiri di depan lift. Barulah pria itu melepaskan jas yang ia pakai, lalu melepaskan dua kancing atas kemejanya.

__ADS_1


"Pergilah! Lakukan tugas kalian selanjutnya, dan ya. Pastikan semua BEBAS DARI JEJAK. Paham?!" titah Al dengan lambaian tangan.


Para bodyguard membungkuk setengah badan. Mereka membiarkan sang bos pergi seorang diri. Hingga pintu lift tertutup, dan mulai berjalan. Barulah tugas pertama berakhir, lalu lanjut tugas kedua.


"A1, hubungi A3 untuk melacak mangsa kita, dan A5 bawa kendaraan kita kemari!" Bodyguard yang memiliki tubuh tinggi besar memberikan pengarahan karena disini hanya dia yang menjadi pemimpin team.


"Zack, apa pekerjaan kita harus selesai hari ini?" tanya A1.


Pria yang dipanggil Zack adalah pimpinan team operasi kali ini.


Zack menarik tangan A1 dengan gerakan cepat memutar tubuh keduanya, hingga tubuh A1 terkunci. "Rules number one. Jangan pernah sebut nama asli."


"Maa-aaff....,"


Tak ingin membuat anak buahnya cedera. Zack melepaskan tanpa mendorong A1. Tatapan matanya santai, tapi memiliki arti lain.


"Maaf, A0. Aku bersalah." ucap A1.


Zack mengibaskan tangannya. Mobil Van Hitam berhenti di depan para bodyguard, dan dengan kode jari pemimpin team. Satu persatu memasuki mobil. Sementara lift baru saja terbuka, dan langkah Al menyambut landasan helikopter yang cukup luas. Netra matanya langsung menyapu seluruh wilayah, dimana tiga heli siap meluncur, dan pasukan khusus sudah berdiri menunggu dirinya.


Langkah pertama, Aku ingin keluarga ku bahagia.


Langkah kedua, Aku ingin kebebasan untuk Bryant.


Langkah ketiga, Aku ingin kedua kakakku selalu tersenyum.

__ADS_1


Langkah keempat, Aku ingin memberikan hak Ara sebagai seorang istri.


Langkah kelima, Aku ingin menjadi pelindung keluarga ku.


Setiap langkah Al memiliki arti. Langkahnya memiliki tujuan pasti, dan apapun yang akan ia lakukan. Baik benar atau salah. Semua demi keluarga kecilnya. Di dalam kamus seorang Al. Tidak ada kompromi untuk kasih sayang, dan pengorbanan untuk orang-orang terkasih.


"Silahkan masuk, Tuan." Wanita cantik dengan rambut panjang mengulurkan tangannya, dan disambut Al tanpa kata. "Kalian semua ke posisi masing-masing!"


Heli mulai meninggalkan landasan dimana atap gedung pencakar langit itu semakin terlihat menjauh, sedangkan di dalam heli. Al memeriksa ponselnya. Tatapan mata tak percaya begitu melihat notif yang membludak. Seketika ada rasa bersalah yang menyusup ke dalam hatinya.


"Ouh **!*, aku lupa tentang dia." gumam Al, tapi masih bisa terdengar wanita di sebelahnya.


Wanita itu berniat mengusap pundak Al. Tanpa ia sadari ekor mata Al masih selalu waspada.


"Jangan sentuh aku!" Al bergegas mendial sebuah nomor dengan isyarat jari agar dua orang di dalam heli diam.


Panggilan nya sama sekali tidak terjawab. Kemana si pemilik nomor? Apa masih tidur? Jika iya, siapa yang menelpon dirinya hingga seratus panggilan? Ingin sekali berlari menghampiri, tetapi tidak mungkin. Tanpa Al sadari, ia menggenggam tangan kanannya terlalu erat.


"Bos, ada apa?" tanya wanita itu.


Tuut!


Tuut!


Tuut!

__ADS_1


__ADS_2