Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 6: Mari kita lakukan! - Aku siap!


__ADS_3

Aku seperti boneka di kehidupan ini, bagaimana caraku bertahan? Sanggupkah aku menjadi seorang istri siri? Tuhan bisakah kau ambil nyawaku?~batin Ara dengan lelehan air mata.


Bryant keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan juga penampilan baru. Pandangannya tertuju pada Ara yang meringkuk seperti anak kecil tanpa selimut menutupi tubuh wanita itu. Hatinya tergerak mendekati Ara dan menarik selimut. "Istirahatlah. Aku akan segera kembali."


Bryant bergegas berjalan menjauhi ranjang dan keluar dari kamar. Tujuannya adalah dapur, setelah melewati ruang tamu dan juga deretan rak pajangan. Akhirnya sampai di dapur mini, Bryant mengecek semua bahan yang ternyata lengkap. Sejenak terdiam dan menata hati.


"Sudahlah. Kamu harus bertanggung jawab. Bagaimanapun, dia istriku dan aku punya kewajiban." gumam Bryant dan mengambil brokoli, wortel, sosis dan bakso dari kulkas.


Tangannya cekatan memotong bahan masakan dengan bumbu tumis. Tak lupa mengambil beras untuk membuat bubur.


Empat puluh menit berlalu….


Masakan sudah siap. Bryant mengambil nampan mangkok dan juga gelas putih panjang. Menuangkan bubur nasi merah yang halus dengan toping sayur tumis capcay sayur, dan segelas air putih. Nampan diangkat dan langkahnya berjalan meninggalkan dapur.


Antara ragu dan bingung, kakinya tetap masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Melihat posisi Ara yang masih sama. Seperti terakhir kali ditinggalkan, membuat perasaannya kembali merasa bersalah. Nampan di letakkan di atas nakas samping laptop. Bryant bingung, bagaimana membangunkan Ara.


"Hey, bangun." ucap Bryant dengan nada pelan.


Tak ada pergerakan dari Ara. Mata wanita itu tetap terpejam dengan bekas lelehan air mata di pipi. Meskipun wajahnya tak sepucat tadi, tetap saja istri sirinya membutuhkan asupan sebelum minum obat.


"Kamu, ayo bangun." Bryant mengulurkan tangannya, tapi ditarik lagi karena ragu ingin menyentuh Ara.


Hening…..


Bryant menarik nafas dan mengulurkan tangan sekali lagi. Menggoyangkan lengan Ara. "Bangunlah, makan dulu."


Ara membuka mata perlahan. Suara Bryant terdengar jelas sejak awal, tapi tidak ada niat keinginan untuk menatap pria itu. Hingga tangan kekar itu menyentuh lengannya. Sengatan yang dirasakan, membuat mata terbuka dan menatap pria di depannya. "Maaf, Tuan. Aku ingin istirahat."

__ADS_1


Ara memejamkan mata lagi, membuat Bryant mengubah ekspresi wajah. "Bangun! Jika tidak, aku pastikan malam ini kamu tidak tidur."


Glek


Ara menelan saliva dengan kasar. Ancaman Bryant memaksa matanya terbuka lagi dan bangun perlahan. Meskipun tubuh terasa remuk dan lemas, kedua tangan menumpu tubuh yang lemah. Hampir saja tubuhnya kembali terjatuh di ranjang. Namun, tangan kekar menahan dan membantu duduk bersandar. "Sudah nyaman?"


"Makasih, Tuan." jawab Ara.


Bryant mengambil beberapa bantal dan membuat posisi Ara lebih nyaman. Setelah selesai membantu Ara, nampan diambil dan diletakkan di atas ranjang. "Makanlah," Bryant memberikan semangkuk bubur.


Ara menerimanya. Baru saja berpindah tangan, dan mangkok hampir jatuh. Melihat betapa lemah dan lemas wanita itu, membuat Bryant mengambil mangkoknya lagi. Ara ingin mengambil lagi. Namun, tatapan tajam Bryant menghentikan pergerakannya.


"Buka mulutmu!" titah Bryant menyodorkan satu suapan di depan bibir Ara.


Bibir itu masih terkunci rapat, membuat Bryant menahan diri. Sikap Ara seakan menantangnya. "Buka dan makan! Atau ku bungkam bibirmu dengan bibirku."


Ara menatap Bryant dengan tatapan tak terbaca. Mata itu berkaca-kaca, sendu dan memiliki pertanyaan serta keraguan. Bibirnya terbuka dan menerima suapan demi suapan. Tidak ada perdebatan lagi. Bubur semangkuk berpindah dalam hitungan menit. Mangkuk diletakkan di atas nampan, dan obat dibuka.


Ara menerima dan meminum obat tanpa mengeluh. Rasa pahit obat sudah tak dirasakan. Dulu untuk minum obat, dirinya membutuhkan pisang dan harus memasukkan obat kedalam gerusan pisang. Kini, obat tak lagi berpengaruh seberapa pahitnya. Kehidupannya sudah cukup lebih pahit daripada obat.


"Istirahatlah!" tukas Bryant dan berniat turun dari ranjang membawa nampan.


Ara menahan tangan Bryant, membuat pria itu kembali duduk. "Katakan?"


"Apa aku hanya perlu hamil, dan memberikan anda seorang anak?" tanya Ara dengan suara parau.


Bryant menatap lekat wajah istri sirinya. Wajah cantik, mata hampa dan ekspresi tak bisa ditebak. "Anggap saja begitu."

__ADS_1


"Baiklah. Mari lakukan pemeriksaan dan program hamil." ucap Ara tanpa keraguan.


Bryant tercengang dengan permintaan Ara. Baru semalam mahkota wanita itu direnggut, kini sudah membicarakan program hamil. Apa istri sirinya tidak kecewa dan menganggap semua yang terjadi hal biasa saja?Bagaimana ada wanita setenang dan sesederhana itu?


Ara menatap Bryant, dan mengulurkan tangannya. "Aku Ayesha Ramadhani siap menjadi ibu dari anakmu."


Bryant menatap uluran tangan Ara, wanita itu serius tanpa keraguan. Akan tetapi keraguan datang dari dalam hatinya. Sementara kesempatan tidak akan datang dua kali. Bayangan kehidupan lebih baik setelah memiliki anak, maka keluarganya bisa utuh. Bryant menyambut baik uluran tangan Ara.


"Kita akan pergi ke dokter, tapi bukan di kota ini. Istirahatlah, akan kusiapkan semuanya." Bryant melepaskan genggaman tangan dan mengangkat nampan.


Langkah kaki pria itu menjauhi kamar, membuat air mata Ara terjun bebas. Selimut ditarik dan digigit Ara. Isakan tangisnya tertahan dengan rasa sakit di hati. Ketegaran di matanya hanyalah benteng pertahanan terakhir.


Tanpa Ara sadari, Bryant berdiri di depan kamar dan bersandar di dinding. Isakan tangis di dalam kamar masih terdengar di luar. Hati Bryant ikut tercabik. Kini perasaan bersalah semakin menjadi, bagaimana dirinya telah berubah menjadi pecundang. Semua itu dilakukan demi kebahagiaan keluarganya. Demi seorang pewaris.


Seandainya Hazel mau melepaskan karir beberapa saat saja, demi rumah tangga kami. Tidak akan ada wanita lain di dalam hubungan ini. Aku hanya ingin berbakti pada orang tuaku. Namun, wanita yang kucinta, mendorong ku ke dalam jurang pengkhianatan. Kini apa yang tersisa, hatiku masih mencintai Hazel seorang.~batin Bryant mengusap air mata yang menetes.


Meninggalkan Ara dan Bryant yang berperang dalam perasaan masing-masing. Di tengah riuhnya sebuah cafe Delima. Seorang wanita sexy tengah menikmati secangkir kopi latte dengan cake red velvet. Pintu cafe terbuka dan seorang pria masuk berjalan mendekati wanita sexy itu.


Cup....


Satu kecupan di pipi, membuat wanita itu tersenyum malu. "Akhirnya kamu datang, setelah sekian lama."


"Aku kembali untukmu. Tapi kupikir, pernikahan mu berjalan baik. Bukankah begitu?" ujar pria itu dengan menggenggam tangan wanita nya.


"Ayolah, kamu tahu alasan ku menikah dengannya. Apa aku harus membuktikan cintaku padamu, lagi?" tanya wanita itu dengan mengusap wajah pria di depannya.


"Oh tentu, kamu tahu bagaimana cara membuktikan cintamu. Ayo." tegas pria itu dan berdiri.

__ADS_1


Tanpa perlu menjawab, wanita itu menyambut dengan suka cita aja kan pria pujaan hatinya. Keduanya meninggalkan cafe Delima, berpindah menuju peraduan cinta.


Tanpa di sadari wanita itu, ada yang mengawasi dan mengambil foto mereka secara diam-diam. Mobil meninggalkan parkiran cafe, dan si pengawas mengambil ponselnya. "Tuan, pekerjaan beres. Aku akan kabari untuk selanjutnya."


__ADS_2