
Malam itu, hari pernikahan telah ditetapkan. Tepat tanggal satu bulan Februari 2022. Tepat bersamaan dengan ulang tahun pernikahan dari Papa Angkasa dan Mama Bella. Hari itu akan menjadi saksi dua pernikahan sekaligus, seluruh kebahagiaan akan menyatu menyebarkan suka cita dalam deburan ombak yang menjadi tempat janji suci.
Seminggu sebelum hari H. Semua keluarga sudah berkumpul di Hilton Bali Resort. Hotel ini memiliki lokasi menghadap ke laut yang sangat indah. Terdapat fasilitas pendukung yang menarik di sini, yaitu sarana olahraga air, lapangan tenis, tempat bermain anak-anak, hingga kolam renang besar dengan laguna yang menghadap ke laut.
Selain itu, satu hal terpenting dari hotel yang ada di tepi pantai di Bali satu itu yaitu akses langsung ke pantai yang akan mempermudahmu langsung melangkah ke pantai setelah puas beristirahat di Hilton Bali Resort.
Inilah hotel pilihan kedua keluarga. Tentu saja setelah meributkan deretan tempat peristirahatan yang lain. Walau mereka berada di satu tempat. Kedua keluarga memiliki bagian wilayah masing-masing. Seluruh resort dipesan atas nama Alkan Putra. Tentu saja beberapa anak buah selalu siap siaga menjaga keamanan.
Setelah penerbangan yang cukup melelahkan. Para anggota keluarga memilih untuk beristirahat sejenak, tetapi tidak dengan Ara. Wanita itu justru menarik Darren untuk pergi ke pantai. Sehingga keduanya tidak memiliki waktu untuk sekedar duduk. Menemani langkah kaki meninggalkan jejak di atas pasir.
"Ka Tama, apa itu tempatnya?" tanya Ara menatap separuh dekorasi yang sudah siap di depan sana dengan jarak pandang sepuluh meter.
Darren hanya tersenyum tipis mengiyakan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ternyata ikhlas itu sakit. Dia pikir, selama tiga bulan lebih bersama Ara menganggap wanita itu sebagai saudara. Maka akan menghilangkan perasaan di hatinya.
Semua hanya angan semata. Mimpi yang selalu indah, seketika berubah menjadi abu. Lagi, dan lagi. Setiap kali melihat binar mata cinta dimata Ara untuk Bryant. Ia harus mengubur perasaannya sendiri. Setiap kerelaan berganti menjadi sayatan.
__ADS_1
Darren yang sibuk merenung menikmati rasa sakitnya, teralihkan ketika sentuhan tangan lembut dengan tatapan manjat menatapnya. "I am ok, Ayra. Bryant, pria yang tepat untukmu, tapi aku tidak akan berikan kesempatan untuk dia melukaimu."
"Ka Tama akan selalu menjadi pahlawanku. Setiap orang memiliki tempatnya masing-masing, Ka. Jangan berpikir, jika aku tidak menyayangi kakak." Ucap Ara mencoba untuk mengubah mood Darren, namun perasaan tak akan berubah dengan satu pernyataan.
Tidak ada jawaban, yang bisa dilakukannya hanyalah mengusap kepala wanita yang kini akan menjadi milik pria lain. Marahkah? Yah, ingin berteriak, tetapi takdir tidak akan pernah berubah. Ara memanglah jodoh Bryant.
"Ka, sebaiknya kita kembali ke hotel. Bagaimana jika yang lain mencari kita? Ayo." ajak Ara menggenggam tangan Darren, membuat pria itu menetralkan perasaannya.
Seperti letupan lahar. Selama ini, dia berusaha untuk menahan diri. Ini hari terakhir, dimana ia bisa mendapatkan perhatian dari Ara. Sedikit emosinya membelenggu. Ditariknya tubuh wanita itu ke dalam dekapan. Sekali saja, ia ingin egois.
Suara deburan ombak menyamarkan rintihan hati Darren. Cintanya tak sekuat karang, tetapi sedalam lautan. Manis dalam sayatan. Namun bersinar dalam kerelaan. Tak seorang pun meragukan caranya menjunjung asas cinta.
Akhir dari kisah cinta Darren Wiratama menjadi awal baru kehidupan Ara dan Bryant. Suasana malam berteman bintang, menjadi saksi pertunangan yang dilakukan oleh Sam dan Ocy serta Bryant dan Ara. Kedua pasangan itu akhirnya resmi menjadi setengah suami istri.
Api unggun yang menyala, dentingan gelas, alunan melodi sang pemain biola. Semua orang menikmati acara pertunangan hingga malam semakin larut, ditengah kebahagiaan itu. Al ikut memberikan hadiah kecil untuk istri tangguhnya.
__ADS_1
"Mas Al, apa ini?" tanya Bunga menatap kotak beludru yang ada digenggaman suaminya terarah di depannya.
Al membuka kotak itu, hingga kilauan warna biru zamrud berbentuk hati menyembul menampakkan diri. Diambilnya cincin khusus yang ia pesan sejak empat bulan lalu, "For my wife. Can?"
Bunga mengangguk memberikan izin Alkan agar menyematkan cincin indah itu, ke jari manisnya. Bukan hanya indah, tetapi cinta juga terpancar. "Love you, Om Al."
"Ekhem. Mau nikah lagi, gak?" tawar Papa Bima menggoda putrinya. "Asal jangan pingsan lagi, ya."
"Papa ih, masa anak sendiri diledekin begitu. Bunga, kapan tambahin cucu buat Mama?" Sahut Mama Milea, sontak mengubah suasana menjadi canda tawa, menghadirkan semburat merah merona di pipi putrinya.
Malam pertunangan berakhir. Dilanjutkan malam pengajian di hari kedua malam ketiga. Lalu dilanjutkan acara siraman di hari ke empat. Hari berikutnya lagi, diadakan acara hias tangan. Setelah seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar. Hari terakhir tinggallah acara janji suci.
Langit malam menjelang pagi yang gelap, tak membuat orang-orang menarik selimut untuk tetap melepaskan penat. Semua orang memulai kesibukan masing-masing. Dimana mempelai diwajibkan mandi pagi, lalu melaksanakan sholat. Kesibukan itu, membuat Alkan menyambar ponsel dari atas nakas. Kemudian menghubungi seseorang nan jauh disana.
"Siapkan semuanya. Aku ingin acara ini menjadi saksi nafas terakhir mereka. Paham?"
__ADS_1