Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 86: MERTUA DAN MENANTUNYA


__ADS_3

"Kalian, kembalilah ke kamar! Aku akan temui tamu ku, dan Muel tolong pastikan Bryant mengurus Ara."


Wajah geram sang suami, membuat Mama Bella bisa menebak siapa yang datang berkunjung. Jika benar seperti yang ada di dalam pikirannya. Maka, tidak bisa dibiarkan. Sontak saja, ia memberikan kode mata ke Samuel agar segera membawa Bryant ke atas.


"Bry, bukankah kamu belum lihat laporan medis Ara. Ayo, aku akan tunjukkan dan ini sangat penting," Muel beranjak dari tempat duduknya, lalu juga menarik lengan sahabatnya, "Ayo!"


Bryant yang tidak ingin berdebat. Apalagi isi hati dan pikiran dalam dilema hanya bisa menurut. Kedua pria itu, berjalan meninggalkan ruangan keluarga. Kini hanya ada Mama Bella dan Papa Angkasa yang masih membiarkan kesunyian menyapa. Tiba-tiba, langkah kaki sang suami mulai melangkah.


"Pa, Aku ikut," ujar Mama Bella dan sukses mengalihkan perhatian suaminya.


Meskipun saat ini dalam kondisi emosi. Papa Angkasa tidak mengabaikan sang istri. Pria itu berjalan menghampiri Mama Bella, lalu membantu wanitanya kembali duduk di kursi roda. Setelah itu, barulah keduanya siap menemui tamu yang pasti akan menyulut emosi semakin membara.


Suara kursi roda yang didorong terdengar cukup jelas. Mungkin karena rumah memang dalam keadaan sepi. Banyak orang, tapi ada di ruangan masing-masing. Jadi, ya sama saja seperti rumah keheningan. Papa Angkasa dan Mama Bella keluar dari rumah mereka. Perlahan, tapi pasti mereka mendekati pintu gerbang yang jaraknya cukup jauh dari pintu utama kediaman Putra.

__ADS_1


Seorang wanita dengan penampilan sederhana, tapi riasan wajah full menambah daya pikat nya. Meski begitu, tetap saja tidak ada rasa suka di dalam hati kedua orang tua itu. Bagi mereka, perubahan apapun dari menantu pertama. Tidak akan mengubah penilaian mereka selama ini. Orang bilang, nasi sudah menjadi bubur. Maka, tidak akan bisa berubah menjadi butiran nasi kembali. Semuanya terlanjur.


"Malam, Pa, Ma. Izinkan Hazel masuk, pleaseee," pinta Hazel dengan suara lembut, tapi Papa Angkasa mengangkat tangannya agar Pak Satpam tetap diam ditempat.


Mama Bella menatap Hazel begitu dalam dan tajam, "Ini bukan rumahmu. Pulang saja! Siapa kamu? Kami tidak kenal."


"Ma, maafin aku. Aku mengaku salah, tapi sekali saja. Tolong berikan aku, satu kesempatan saja, Ma, Pa," Hazel mengagumkan kedua tangannya di dada, ia berusaha untuk meluluhkan hati kedua mertuanya, "Apa Papa dan Mama tidak mau cucu? Aku siap menjadi seorang ibu...,"


"Pak Fais! Jangan biarkan wanita itu menginjakkan kakinya ke dalam kediaman Putra. Jika dia datang kembali, usir saja," Papa Angkasa menghela nafas, lalu menatap menantu pertama dengan tenang tanpa menunjukkan emosi yang ia pendam, "Hazel Vincent, kamu tidak akan pernah masuk ke dalam daftar keluarga Putra. Apa yang kamu pikirkan? Kamu bisa mendapatkan harta kekayaan dengan menikahi putraku?"


Hazel terperangah mendengar semua ucapan Papa Angkasa. Dia pikir sedikit merubah penampilan dan juga bersikap baik. Maka bisa mengembalikan apa yang telah hilang. Ternyata, pemikiran itu salah. Namun, bagaimana bisa rahasia di balik seorang Hazel diketahui kedua mertuanya? Apakah mungkin, semua itu karena Om Al. Jika iya, tamat sudah riwayatnya.


Ntah apa lagi yang dikatakan oleh Papa Angkasa. Saat ini, ia sibuk larut dalam pemikiran yang begitu dalam seperti jurang. Lampu cahaya yang tiga puluh menit lalu bersinar terang, seketika meredup berganti kegelapan. Kedua mertua tahu pekerjaan sampingannya, tapi apakah Bryant juga tahu? Tidak. Sebelum suaminya tahu, ia harus melakukan sesuatu.

__ADS_1


Tanpa ada respon, Hazel berlari masuk ke dalam mobil. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tidak kira-kira, membuat Papa Angkasa dan Mama Bella terkejut. Bukan karena kepergian menantu pertama, tapi karena wanita yang biasa berbicara pedas pergi tanpa menjawab satu patah kata pun.


"Pa, apa tindakan kita sudah benar?" tanya Mama Bella menggenggam tangan suaminya yang ada di pundak kanan.


Papa Angkasa mencoba untuk tidak menunjukkan emosinya, "InsyaAllah, Ma. Ini yang terbaik agar Hazel sadar diri dan tidak mengharapkan putra kita lagi. Mama tenang aja, mulai hari ini akan papa siapkan para penjaga rumah dan beberapa mata-mata untuk melindungi keluarga kita."


"Makasih, ya, Pa. Sebaiknya kita masuk. Mama tidak mau yang lain curiga, tapi jangan lupa kabari Al soal yang baru saja terjadi."


Papa Angkasa mengusap kepala sang istri, lalu kembali mendorong kursi roda setelah berputar arah. Keduanya kembali masuk ke dalam rumah, sedangkan Hazel berulang-ulang memukul stir kemudi dengan makian yang tidak jelas. Bukan hanya itu saja, karena emosinya meledak. Ia juga langsung menyambar sebotol wine yang masih tersisa setengah. Tidak peduli sudah berapa lama tersimpan di dalam mobilnya.


Rasa frustasi datang menghampiri, semua terasa berat dan rumit. Bayang-bayang menjadi gelandang ada di pelupuk matanya. Setelah melewati jalan raya yang cukup sepi. Akhirnya mobil dibelokkan memasuki sebuah daerah perumahan sederhana. Tujuannya ada di nomor sepuluh, sebuah rumah dengan cat biru tua dan sebuah pohon cemara mini di pojok depan rumah.


Mobil itu, ia parkiran sembarang tempat. Lalu turun dengan membawa botol wine yang hanya menyisakan beberapa tetes saja. Langkahnya terhuyung, Hazel berjalan sempoyongan hingga kesulitan untuk mencapai rumah tujuannya. Ntah kebetulan atau apa, pemilik rumah biru keluar dan langsung berlari menghampiri wanita itu.

__ADS_1


"Ada apa lagi denganmu, selalu saja disaat jatuh baru ingat rumah."


__ADS_2