Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 186: Malam Kebersamaan


__ADS_3

"Setiap orang memiliki kepribadian masing-masing. Jangan pernah meminta seseorang untuk menjadi orang lain. Itu ide buruk. Itu yang dikatakan Om Al, adikku."


Benar sekali. Sebaik-baiknya seseorang adalah menjadi diri sendiri. Kepribadian itu bukan hanya dari yang terlihat secara terang-terangan, tetapi ada yang tampak absurd. Ketika tidak ada pemahaman, bagaimana bisa kita berkata. Aku mengenalnya. Padahal, hanya sekedar tahu saja.


Keluarga telah berkumpul di tempat seharusnya, Papa Angkasa sudah menyambut mereka. Dimana pria itu terduduk lesu di atas rerumputan serara menyembunyikan wajahnya ke dalam tangkuban kedua tangan.



Nampak sangat frustasi hingga menyebarkan rasa sedih yang semakin menggebu-gebu. Ketika langkah semakin mendekat, suasana yang tidak begitu terang. Berubah menjadi kerlap-kerlip lampu hias bintang. Tidak hanya sampai disitu karena bersambut suara kembang api yang bergema.



Kembang api penuh warna-warni. Semuanya saling pandang tak memahami apa yang tengah terjadi, hingga kemunculan Ara, Alkan, Samuel mengubah stuck pemikiran mereka. Semua kesedihan berganti kebahagiaan. Satu persatu saling berpelukan, tetapi ketika Bryant mendekat.



Sam tak segan berdiri menjadi penghalang antara sahabat dan adiknya. ''Bry, jangan lewati batasmu. Ayo mundur!"



*Begini amat punya sahabat rasa saudara, eh salah. Sekarang sahabat rasa musuh. Awas saja, kalau aku gak bisa peluk Ara. Kamu juga gak bisa peluk Ocy. ~ ucap geram Bryant mengalah menjaga jaraknya dari Ara, namun langkahnya justru mendekati Ocy*.



Entah apa yang dibisikkan oleh pria itu, hingga mengubah raut wajah Ocy yang langsung melirik tajam ke arah Sam. Sementara yang dilirik masih membalasnya dengan senyuman manis menggoda. Tindakan para pria muda yang menginjak dewasa, selalu memberi efek samping kecemasan.


__ADS_1


Malam ini, menjadi malam kebersamaan. Semua anggota keluarga berkumpul kecuali Mama Bella dan keluarga Darren. Meja panjang dengan tutup kain bermotif bunga. Sajian makanan lezat berteman kesegaran berbagai jenis minuman. Semua lengkap tanpa ada kekurangan.


Papa Angkasa duduk di kursi kepala keluarga. Al bersama keluarga kecilnya duduk di sisi kanan bersebelahan dengan Bryant. Sementara sisi kiri ada Ara, Samuel, Ocy dan Nara. Meski anggota masih belum lengkap, hal itu bisa diatasi dengan satu cara. Video call menjadi solusi pintas.


Rasa syukur itu, bukan tentang seberapa banyak kita mengucap hamdalah. Namun, seberapa besar, kita menyadari rezeki yang Allah berikan. Ketika orang tengah sakit, banyak yang mengeluh. Alih-alih bersyukur akan timbangan dosa yang terkikis selapis. Justru teriakan kesakitan yang terus menggelegar.



Seperti yang Ara alami. Setelah hidup menjadi seorang istri sah, namun rasa simpanan. Ia tetap menerima takdir, walau menyakitkan dan pernah berharap untuk tidak hidup lagi. Akan tetapi, alur kehidupan membawanya untuk menjadi istri siri seorang tuan muda. Siapa yang akan menyangka?



Pengkhianatan yang menorehkan sayatan. Seperti cambuk yang melesat menyentuh kulitnya hingga mengucurkan darah segar. Perlahan kehidupan mulai tertata, hingga berita kehamilan membawa kebahagiaan yang semakin membara.




Lamunan yang menenggelamkan. Betapa rumit kisah hidupnya. Tanpa sadar. Ara hanya menatap makanannya tanpa menyentuhnya sama sekali, membuat Sam memegang bahu sang adik. Ditatapnya mata jernih yang terlihat traveling entah kemana.



"Ara baik, Ka. Ayo makan." tukasnya, lalu menyendok makanan yang ada di atas piringnya.



"Nak, apa kamu jadi tinggal di rumah Darren?" tanya Papa Angkasa mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1



"Iya, Pa. Ka Tama sudah menjelaskan semuanya secara rinci." Ara menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya dengan lirikan mata tajam tertuju pada pria yang langsung tersedak. "Mas, kenapa? Mau air?"


Apakah air itu sebagai tawaran atau sindiran? Ia tak tahu, tapi apapun yang tertulis di kepala Ara. Sudah pasti mendapatkan asupan kata dari Darren. Boleh tidak mengubur sahabat seperti Darren?


"Tidak. Airnya buat kamu saja, aku masih lapar." tukas Bryant menolak secara halus, lalu kembali menyuap makanannya agar tidak mencurigakan.



Kode keras pasangan itu, membuat Papa Angkasa menggelengkan kepala. Sementara Al, justru diam-diam menggenggam tangan Bunga di bawah meja. Samuel dan Ocy sibuk saling menyuapi, hanya saja. Mereka melupakan Dokter Nara.



Wanita jomblo itu mencoba tetap sabar di tengah keluarga bucin. Sedikit rengekan dalam hati. Harapan untuk segera mendapatkan pasangan yang bisa menjadi teman. Nyatanya nasib tengah menjadikan dia sebagai obat nyamuk tanpa asap.


Makan malam yang khidmat dengan bumbu cinta dan kecemburuan. Akhirnya semua tersenyum lega dan bahagia. Seperti yang sudah ditentukan, Samuel akan mengantarkan Ara sampai ke rumah Darren yang ada di kota. Sementara yang lain kembali ke rumah.


Namun, karena mereka masih betah di taman. Maka yang pulang awal hanyalah Samuel dan Ara. Seperti pada keluarga umumnya. Perbincangan random menjadi penghangat kebersamaan. Namun, suara canda dan tawa itu terhenti. Ketika suara teriakan mengalihkan perhatian mereka semua.



Suara itu sangat familiar, tapi bagaimana bisa orang itu ada di taman? Apalagi, rencana dinner dilakukan secara dadakan. Bryant dan lainnya beranjak dari tempat duduk masing-masing. Kemudian serempak berjalan meninggalkan meja makan. Tatapan mata terus terfokus ke depan.



"Apa maumu?" tanya Bryant dingin.

__ADS_1


__ADS_2