
Suara langkah kaki perlahan menjauh meninggalkan kamar pengintaian. Setelah melihat mangsa dan korban masuk ke dalam perangkap. Tugasnya berakhir. Setengah dari pekerjaan telah usai. Kini tugas lain menanti. Lirikan mata menatap jarum arlojinya. Waktu yang tepat untuk melakukan pekerjaan kedua.
"I'm coming,"
Jas yang tersampir di pundak kiri dengan satu tangan kanan bersembunyi di balik saku celana. Langkah pria itu terkesan angkuh, tetapi tetap saja menarik perhatian banyak wanita. Apalagi siulan yang ia dendangkan. Rasanya membuat melting hati yang mendengarkan.
Para staff hotel terbius pesonanya, tetapi sang tuan tebar pesona berlalu pergi meninggalkan gedung itu menghampiri pintu utama dan dimana sebuah mobil van hitam sudah menunggu dirinya.
"Siang, Tuan." Sapa kedua satpam seraya membukakan pintu hotel.
"Thanks." jawab pria itu berlalu, lalu masuk ke dalam mobil Van.
Begitu suara pintu mobil terdengar, sopir langsung menginjak gas. Mobil melaju meninggalkan hotel, membuat tuan yang duduk di kursi belakang melepaskan kancing kemejanya.
"Bos, mau ke bandara langsung?" tanya sang sopir.
Pria itu hanya menjawab dengan deheman. Jarak hotel yang baru ia kunjungi dengan bandara memakan waktu kurang lebih satu jam. Waktu yang cukup untuk melanjutkan memeriksa pekerjaan. Laptop yang biasa tersedia di setiap mobilnya, membuat semua hal bisa aman terkendali.
"Zack, bagaimana dengan situasi markas?" tanya pria di belakang tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptop yang ada di pangkuannya.
Sopir yang masih fokus menyetir melirik sekilas ke belakang, "Semua aman, Bos, tapi boleh aku kasih saran?"
"Katakan saja tanpa harus izin," Jawab tuannya dengan santai.
__ADS_1
Rasa ragu yang ada di dalam hati, membuat apa yang ingin dia katakan tak bisa diungkapkan. Akhirnya hanya ada keheningan dengan laju mobil semakin bertambah cepat. Perubahan kecepatan menyadarkan pria yang duduk di belakang. Sontak laptop di tutup, lalu mengalihkan perhatian ke depan.
"Zack!" panggilnya dengan tenang.
Zack menghindari tatapan mata bos nya, "Lupakan saja, Bos."
"Zack Maulana!"
Bos nya memanggil pria yang menjadi sopir dengan nama lengkap. Artinya tidak mau ada pengalihan, bahkan tatapan mata sudah siap menerkam. Aura yang jarang diperlihatkan itu benar-benar menekan emosinya.
"Sebaiknya, Bos mengunjungi markas. Kita semua, maksudku anak buah merindukan Anda," Ucap Zack dengan helaan nafas lega.
Sang bos mengamati perubahan ekspresi Zack. Ada yang tidak beres, tapi apa? Tidak mungkin alasannya hanya tentang rindu, "Wajah tegang, keringat menetes dan helaan nafas panjang. Apa kamu berpikir aku sudah tua? Jangan bermain denganku, Zack."
"Jangan mengalihkan topik. Cepat katakan!" geram Al tak ingin membuang waktunya.
Zack mencebikkan bibir, "Aku menemukan kabar terbaru tentang DIA. Apa bos tidak mau melihat hasil penemuan ku?"
Deg!
"Apa kamu benar-benar menemukan keberadaannya?" tanya Al dengan degup jantung yang berdesir hebat.
Zack mengangguk pasti, membuat segaris senyuman menghiasi wajah bos nya. Apakah benar nyata? Jika iya, senyuman itu seperti keajaiban dunia.
__ADS_1
"Bos, Anda senyum?" tanya Zack masih di ambang ketidakpercayaan.
Al tak peduli dengan pertanyaan konyol anak buahnya.
"Dimana dia?" tanya Al tak sabar.
Zack tertegun. Ada rasa takut yang terpancar di matanya, rasa takut itu tertangkap basah oleh Al. Rasa bahagia akhirnya mendengar berita baik. Seketika memudar, ekspresi sang anak buah benar-benar mengubah suasana menjadi ketegangan kembali.
"....,"
"Bos, Aku akan bawa Anda ke tempat dia berada. Tetapi tujuan kita ke bandara, sedangkan dia ada di tempat lain." Jelas Zack.
"Apa maksudmu di tempat lain? Dimana dia?" tanya Al semakin cemas.
Zack menahan nafasnya, "Aku janji antar Bos kesana. Setelah kita menjemput keluarga bos dari bandara. Bagaimana?"
Sejenak terdiam memikirkan semuanya dengan tenang dan pikiran dingin. Pekerjaan bisa saja ditunda, tapi tidak dengan kebahagiaan keluarganya. Jika bukan dirinya yang menyatukan keluarga, lalu siapa lagi? Jika takdir mengijinkan perpisahan, maka takdir juga mengizinkan pertemuan kembali.
"Ok, fokuslah menyetir. Aku ingin istirahat." putus Al yang memilih merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.
Pembicaraan berakhir tanpa ada perpanjangan pertanyaan. Sisa perjalanan keduanya hanya ada keheningan. Sementara itu, Al tenggelam dalam kenangan masa lalu. Meskipun matanya terpejam, tapi bukan berarti terlelap dalam mimpi indah.
Aku merindukanmu. Kenapa baru sekarang, aku mendengar tentangmu kembali? Apa kamu melupakan semuanya begitu saja? Bagaimana kabarmu selama ini? Rasa ini masih sama, tapi aku tak ingin menjadi penghalang kebahagiaanmu.~ batin Al dengan lelehan air mata.
__ADS_1