
Namun, jeda yang diberikan untuk istirahat hanya satu jam. Sudah pasti tubuh wanita itu terus digempur dengan berbagai ukuran pisang tegak yang selalu mencari tempat adonannya. Sementara di dunia yang normal. Keluarga Putra mulai mempersiapkan acara terbaik sepanjang tahun. Mereka memulai merancang agenda runtutan wedding yang akan di langsungkan tiga bulan lagi.
Kesibukan semua orang, membuat mereka tidak memperhatikan pekerjaan yang dilakukan Alkan. Dimana pria itu sering menyelinap meninggalkan rumah untuk menyelesaikan masalah, tetapi tidak dengan sang istri. Bunga mulai hafal jadwal dari suaminya itu, terkadang ia harus menunggu hingga pukul satu malam. Tidak sekalipun ia bertanya, selain membuatkan kopi agar menyegarkan suasana hati Al.
Sementara, Samuel menikmati masa karantina bersama Bryant. Semua itu karena ide brilian sang sahabat. Dimana Bryant tak mau melakukan penantian seorang diri. Mereka berdua yang akan menikah, maka sudah sepantasnya untuk tidak bertemu pasangan masing-masing. Memang keterlaluan, tapi bagaimana lagi?
Kehidupan berjalan mengikuti alur takdir. Darren disibukkan mengajari hal-hal penting tentang dunia bisnis dan bagaimana bersikap sebagai seorang wanita mandiri. Sebagai seorang kakak, sekaligus pria yang masih mencintai Ara. Maka, ia tak ingin di masa depan nanti. Wanita itu diremehkan hanya karena kepolosannya.
Sebulan telah berlalu. Pertemuan pertama antara keluarga akan dilangsungkan malam ini, tetapi hanya untuk menentukan tanggal pernikahan dan makan malam bersama. Tidak ada calon mempelai pria atau mempelai wanita karena sesuai kesepakatan. Dimana selama masa iddah Ara. Pasangan itu dilarang melakukan pertemuan, bahkan tidak diizinkan untuk melakukan panggilan telepon.
Kediaman Darren Wiratama. Pukul sembilan belas Wib.
Para pelayan berjalan mondar-mandir menyiapkan sajian makan malam, sedangkan majikan mereka tengah bersiap di kamar masing-masing. Termasuk Ara yang mencoba gaun elegan berwarna tosca. Entah kenapa, hatinya berkata. Jika malam ini, pertemuan akan terjadi. Dia tahu, Bryant akan berusaha untuk menemuinya.
Pantulan siluet tubuhnya begitu manis, tetapi setelah memperhatikan penampilannya lagi. Ada yang kurang, tapi apa? Baru saja mencoba setiap pelajaran yang diajarkan oleh guru make up artis yang disewa Darren. Namun, sepertinya memang dia kurang mahir untuk urusan wanita yang satu itu.
__ADS_1
Sibuk berpikir, apa kekurangannya seraya menundukkan pandangan. Tiba-tiba saja lampu kamar padam, belum sempat bereaksi. Sentuhan lembut tangan yang menutup kedua matanya bersama aroma parfum maskulin yang sangat dirindukannya. "Tuan muda."
"Sttt. Diamlah. Aku membawakan sesuatu untukmu. Tetap tutup matamu, my future." bisik Bryant melepaskan tangannya, lalu mengambil sesuatu dari saku celananya.
Benda berkilauan, meski berada dalam kegelapan itu, ia pasangkan ke leher Ara. Warna indah yang berpendar semakin menambah pesona dari wanitanya. Alih-alih bergegas pergi dari kamar sang calon masa depan, Bryant memutar tubuh Ara. Menatap wajah dewasa itu tanpa berkedip.
Sebulan saja tak bertemu. Ara telah berubah menjadi wanita yang mampu meluluhkan hatinya. Rambut tergerai, make up tipis dengan blush on samar. Anting panjang, gaun elegan, sepatu heels. Sungguh tak ada bedanya dengan wanita sosialita.
Tangannya mengusap wajah manis pemilik bibir nan menggoda. Direngkuhnya dagu sang kekasih, satu sapuan lembut menyatukan benda kenyal yang terus mencari kenikmatan. Pagutan kerinduan tanpa penolakan. Perlahan meresapi rasa manis, semakin lama pagutan menuntut keadilan.
"A@h, Mas. Lepasin." gumam Ara mencoba untuk menyudahi pagutan rindu keduanya.
Ara terpana akan kalimat Bryant. Benarkan, ia akan menjadi Mrs. Bryant Angkasa Putra? Ini bukan tentang status, tetapi ikatan yang sakral. Hubungan yang mampu menyatukan cinta mereka berdua hingga maut memisahkan. Meski disudut hatinya, masih menyimpan sejumput rasa takut akan kegagapan.
Ketika cinta berakhir pada penyerahan. Akal sehat terlupakan. Namun, Bryant memilih pergi meninggalkan Ara dalam kegelapan setelah menikmati cicilan cinta. Pria itu ingin memberikan hak yang pantas istrinya dapatkan. Semua kesalahan yang pernah diperbuat, berharap bisa mendapatkan ampunan.
__ADS_1
Sementara Ara tersipu malu, cintanya bukan hanya milik dia seorang. Kehidupan yang lalu mengubah sudut pandang wanita itu, kesalahan bukan untuk mendapatkan hukuman. Namun kesempatan bertaubat. Apapun akan baik, ketika hati ikhlas memaafkan. Selama satu bulan terakhir, ia belajar mengikhlaskan.
Malam itu, memberikan keyakinan di hati sepasang kekasih dengan mimpi indah serta harapan melambung. Kilauan kalung yang melingkar di lehernya, menyentuh kesadaran wanita itu. Jika masa depan tidak akan pergi meninggalkan dia seorang diri.
Sementara Bryant yang harus berusaha untuk turun melalui jalur pipa. Tiba-tiba dikejutkan dengan tali yang menggantung di depan wajahnya, sejurus ia ikuti darimana tali tambang itu berasal. Senyuman simpul dengan tatapan tajam menusuk kearahnya. Siapa lagi, jika bukan Darren. Pria itu melihat segalanya, tetapi tetap diam.
Tangannya melambai, membuat Bryant harus menerima bantuan dari sahabatnya itu. Setelah bersusah payah berjalan di tembok dengan seutas tali yang digeret Darren. Akhirnya kedua kaki melompat melewati jendela yang terbuka lebar, belum juga mengatur nafas. Satu pukulan telak mendarat di perutnya.
"Apa ini cara pria sejati? Masuk ke kamar wanita secara diam-diam. Mau mu apa?" cecar Darren tak melepaskan tatapan sinisnya, "Bryant Angkasa Putra, jawab aku!"
Bryant mengatupkan kedua tangan ke depan dada, lalu tersenyum begitu manis. "Please, jangan marah. Aku rindu Ara. Masa kamu tega melihat hatiku dan Ara tersiksa? Pasti gak 'kan.''
Alasan macam apa itu? Rindu bukan tentang pelanggaran, melainkan kesabaran menanti waktu pertemuan. Ingin mengomel, tapi percuma. Ara saja bahagia dengan kedatangan calon suaminya, lalu siapa dia? Hak untuk mencegah pun, dirinya tidak punya. Bisa saja berdebat, tapi untuk apa?
"Terserah mau mu." Darren menyambar jas di atas ranjang, lalu berjalan menjauhi Bryant. "Kamu ngapain masih disitu? Cepat keluar! Aku akan tunjukkan jalan lain agar aman."
__ADS_1
Seperti yang Darren katakan. Pria itu menepati ucapannya, melepaskan Bryant dari amukan keluarga. Sebagai gantinya, maka disaat hari H. Ia berhak mendampingi Ara sebagai keluarga pihak mempelai wanita. Permintaan yang menyakiti diri sendiri, tetapi kerelaannya tidak pantas dipertanyakan.
Malam itu, hari pernikahan telah di tetapkan. Tepat tanggal satu bulan Februari 2022. Tepat bersamaan dengan ulang tahun pernikahan dari Papa Angkasa dan Mama Bella. Hari itu akan menjadi saksi dua pernikahan sekaligus, seluruh kebahagiaan akan menyatu menyebarkan suka cita dalam deburan ombak yang menjadi tempat janji suci.