
"Welcome to Jakarta," Al menyambut dengan senyuman manis, dimana senyuman itu benar-benar menggoda kaum hawa yang melihat pesonanya.
"Ekhem! Om, inget umur," celetuk Samuel dengan senggolan keras mengenai perut pria di depannya.
"Why? Aku hanya menyambut keluarga ku. So, jangan berpikir aku lagi tebar pesona," Jawab Al santai seraya menarik satu koper yang ada di tangan Ara.
"Eh, maaf. Aku bisa bawa sendiri," kata Ara tak enak hati, tetapi tak di gubris Al.
Pria itu hanya melambaikan tangan agar seluruh rombongan mengikut dirinya tanpa protes. Ara tertegun, dan usapan lembut tangan Muel di atas kepala mengalihkan perhatiannya. Senyuman di bibir dengan anggukan kepala kecil, bukan hanya itu saja. Ocy juga dengan sigap menggandeng tangannya.
"Ara jangan heran begitu, panggil dia Paman Alkan atau Om Al. Satu tips dariku, dengarkan tanpa harus membantah pria satu itu. Bukan begitu, bang dokter tampan ku?" tanya Ocy meminta persetujuan sang kekasih.
"Ocy benar, tapi kini Om Al adalah keluargamu. Dia paman dari suamimu. Jadi, jika mau mengadukan soal Bryant. Dia tiket emas mu, Ara paham?" tanya Muel, membuat Ara hanya menganggukkan kepala tanpa memikirkan semua yang dikatakan Muel dan Ocy.
Al yang berjalan di depan berbalik menoleh ke belakang. Pantas saja tidak ada suara langkah kaki di belakangnya. Lihat saja gerombolan yang di jemput masih diam di tempat dengan perbincangan ntah apa.
"Kalian mau pulang atau ku pesankan tiket pesawat lagi?" tanya Al setengah berseru, membuat gerombolan itu mau tidak mau berlari kecil menghampiri pria yang berwajah masam.
__ADS_1
Kini langkah kelima orang itu meninggalkan bandara. Sebuah mobil yang dipesan Al sudah menunggu di depan lobi. Mobil Van Hitam itu kini melaju diatas jalan raya utama. Al yang duduk di kursi sebelah sang sopir. Muel duduk di tengah bersama Ara, dan Ocy serta Kinara di belakang.
"Om, Aku tidak bisa menghubungi Bryant. Apa anak itu ada di...," ucap Muel terhenti karena tatapan mata tajam dari Al melewati kaca spion tengah.
Rasa kantuk yang mendera, membuat Ara tak fokus apapun. Namun, bukan berarti siapapun bisa berbicara sesuka hati di saat rahasia masih bersembunyi. Al mengambil ponselnya, lalu mendial sebuah nomor. Suara nada dering tersambung terdengar hanya dua kali dan berganti dengan sapaan dari seberang.
"Semua sudah siap?" tanya Al tanpa basa basi.
Percakapan yang singkat. Panggilan berakhir hanya dalam dua puluh detik. Al kembali memasukkan ponsel, lalu mengarahkan sang sopir menuju ke sebuah alamat perumahan.
"Pak, setelah melewati jalan Wijaya. Putar arah menuju perumahan elite yang ada di dekat mall Kejora!" titah Al pada sang supir.
"Iya, Perumahan Pelangi no tiga block A," Jawab Al menyebutkan alamat lengkap arah tujuan pulangnya.
Muel yang menyimak mengerutkan alisnya. Perumahan Pelangi? Apa ia tidak salah dengar.
"Om, kenapa memilih Perumahan Pelangi?" tanya Muel penasaran.
__ADS_1
Perumahan Pelangi adalah perumahan elit. Fasilitas lengkap dengan sistem keamanan ganda. Untuk memiliki satu unit di sana. Maka, seseorang harus memberikan DP pertama sekitar satu milyar. Istri pertama Bryant saja yang menjadi model belum mendapatkan gaji sebesar itu dan Ara yang baru masuk ke keluarga Putra. Justru diberikan fasilitas super wow.
Al menoleh kebelakang. Tatapan matanya tertuju pada Ara yang terlelap bersandar ke belakang dengan wajah lelah dan senyuman tipis. Cantik dan manis, ada perasaan tenang saat matanya memandang wajah istri Bryant.
"Aku ingin memberikan yang terbaik untuk istri keponakanku. Perumahan Pelangi sangat layak dan aman. Kita tahu kedepannya akan banyak masalah. Kamu paham maksudku, jadi ingat lah. Di atas pekerjaan kalian. Utamakan keselamatan Ara!" jelas Al tegas, membuat Muel tersenyum puas.
"Tuan, bisa tidak gajiku ditambah?" tanya Ocy tanpa beban.
Muel yang mendengar itu menahan diri agar tidak tertawa. Ia tahu sang kekasih sangat suka mengganggu semua orang tanpa pandang bulu. Yah, hanya di saat bukan jam kerja saja, sedangkan Al memilih mengambil ponselnya. Ntah apa yang pria itu lakukan. Jemari sibuk berselancar di atas benda pipih.
"Check ponselmu," kata Al.
Ocy bergegas memeriksa ponselnya. Ponsel yang masih dalam mode pesawat, dimatikan lalu mengaktifkan datanya. Seketika bola mata ingin melompat keluar. Bagaimana tidak, sebuah notifikasi terakhir yang baru saja masuk benar-benar memberikan skot jantung dadakan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Muel khawatir pada Ocy.
Tidak ada jawaban dari Ocy. Selain ponsel di tangan yang di serahkan pada Muel.
__ADS_1
"Astaga, Om pamer," celetuk Muel seketika dengan geleng-geleng kepala.