Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 76: RUMAH SAKIT


__ADS_3

Dokter memulai proses inseminasi tanpa bantuan seorang suster pun. Ia memang sengaja menghindari begitu banyak kontak dengan orang lain. Demi menjaga keamanan yang memang diminta oleh Hazel.


Proses inseminasi buatan hanya memakan waktu sekitar setengah jam kurang. Setelah itu, Hazel disuruh istirahat di dalam ruangan sang dokter. Khusus hari ini, sang dokter terpaksa meng-cancel semua jadwal pasien. Tentu saja, semua itu demi keamanan dokumen yang memang juga dilakukan secara tindakan.


Jika ada yang tahu. Seorang model terkenal dan memiliki seorang suami pengusaha, tiba-tiba melakukan inseminasi buatan tanpa persetujuan suami. Sudah pasti akan membuat kehebohan dan untuk menghindari hal itu. Maka, dokter itu melakukan tindakan yang memang seharusnya.


Sementara di parkiran rumah sakit. Sebuah mobil baru saja berhenti. Setelah terparkir di tempat yang kosong, "Ayo, kita semua turun bersama! Kita sudah sampai tujuan."


"Apa kita, harus tetap ke sini? Kenapa tidak di rumah saja? Ka Muel bisa memeriksa diriku," kata Ara yang tak memang suka dengan rumah sakit.


"Dek, ini demi kebaikanmu. Lihat saja, suamimu sendiri yang sudah panik. Ayo, kita turun. Lagi pula lihat ada Ocy, Kinara," Balas Muel tak ingin membuat keadaan semakin lebih tegang.


Bryant sudah turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Ara. Ia juga tak lupa mengulurkan tangannya seraya menatap sang istri, "Ayo, turun!"


Ara mengangguk dan menerima uluran tangan sang suami, lalu ikut turun. Begitu juga dengan yang lain menyusul. Kini, kelima orang itu memasuki pintu utama rumah sakit. Dokter Kinara dan Muel berjalan di depan. Tentu setelah sampai di lobby.

__ADS_1


"Dok, apa kita harus langsung laporan atau bagaimana ini?" tanya dokter Kinara karena ia baru pertama kali masuk rumah sakit itu.


Samuel hanya memberikan isyarat tangan agar yang lain menunggu saja. Pria itu berjalan menuju sebuah ruangan yang bertuliskan ruang manajer. Bryant menjaga Ara agar tetap tenang. Di mana wanitanya diminta untuk duduk dan ditemani Ocy serta Kinara. Sementara ini, mereka hanya menunggu di kursi tunggu sembari melihat situasi rumah sakit. Suasana memang terlihat cukup ramai, tapi tidak begitu sangat ramai.


"Ocy, kenapa aku merasa tidak tenang? Seakan, sesuatu akan terjadi, ya, rasanya seperti hal buruk menantiku, " gumam Ara pada Ocy yang ada di sebelah kirinya.


Ocy mengusap pundak Ara. Iya tak ingin. Wanita hamil itu kembali memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya, "Kamu tenang aja. Kita kan ada, untuk jagain kamu dan Insya Allah gk ada yang akan terjadi."


"Ara, Kamu jangan terlalu banyak berpikir karena itu tidak baik untuk kesehatan. Tetap tenang. Tarik nafas dalam, kemudian buang nafas. Lakukan itu, sampai kamu merasa lebih baik. Oke," Kinara menyambung nasehat dari Ocy, ia tak ingin pasiennya menjadi tertekan.


"Bro, ayo! Aku sudah bicara semuanya pada Pak Manager dan tidak perlu cemas. Semua data tidak akan bocor dan kita akan aman. Setiap melakukan pemeriksaan ulang, di rumah sakit ini," Jelas Muel agar Bryant tidak khawatir soal apapun. Sebagai sahabat, ia tahu, jika seorang pengusaha memang diwajibkan untuk berhati-hati dalam tindakan. Jadi apapun yang akan dia lakukan. Sudah direncanakan beberapa langkah ke depan.


Kini mereka berjalan menyusuri lorong. Melewati beberapa pintu yang memang tidak mereka tuju, hingga pada akhirnya mereka berhenti di salah satu pintu dengan tulisan nama seorang dokter. Pak manajer mengetuk pintu ruangan dokter yang ada di depannya.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


Seseorang membukakan pintu, terlihat wanita dengan umur sekitar 30-an tahun tersenyum menyambut pak manager, "Siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Perkenalkan, ini pasien yang harus Anda tangani. Bukankah, hari ini, Anda meng-cancel semua jadwal? Bisakah, Anda menangani satu pasien dan ini akan berlangsung selama satu tahun ke depan. Namun, pekerjaan Anda akan ditemani oleh kedua dokter lain yang memang menjadi dokter pribadi sang pasien," Pak manajer menjelaskan titik poin yang memang harus ia sampaikan, membuat sang dokter melihat di antara ketiga wanita yang ada di depannya dengan tatapan bingung.


Bryant merengkuh pinggang Ara, lalu ia menatap sang istri, "Dia istriku, aku ingin Anda memeriksanya. Lakukan yang terbaik!Anda akan ditemani oleh dokter kami. Dokter Samuel dan Dokter Kinara."


"Jika dokter tidak bisa. Saya bisa melakukan sendiri, tapi rumah sakit ini, bukan tempat saya bekerja. Jadi, saya harus melakukan pekerjaan dengan bekerja sama dengan salah satu dokter rumah sakit ini. Apakah Anda keberatan?" Muel bertanya pada dokter wanita itu, ia ingin mempermudah semua urusan Bryant.


Semua orang yang menatap dokter itu terlihat serius, tapi tidak dengan Kinara. Wanita itu, masih bersikap santai untuk mengamati situasi. Dia juga melihat ekspresi wajah sang dokter yang akan bekerjasama dengannya. Dokter itu terlihat tegang dan juga ada gurat halus seakan tengah berpikir keras.


"Kenapa Anda melamun?" tanya Pak Manager.

__ADS_1


__ADS_2