
"Jika tidak ada yang peduli denganku. Jangan salahkan aku untuk menjadi monster. Aku pastikan untuk menjadi nyonya Bryant Putra satu-satunya. Meski dunia menolak, aku tidak peduli." Hazel bersumpah pada dirinya sendiri.
Wanita itu bangun dari tempat tidur, lalu mencari barang-barangnya dan ternyata tidak ada satu barang pun miliknya. Selain sebuah botol wine yang ada di samping ranjang. Itu berarti, dia masuk dibantu oleh saudaranya, tapi kemana pria itu pergi. Apakah karena kedatangannya sehingga Henry meninggalkan rumah?
Masa bodoh dengan semua itu. Toh, tidak ada yang peduli dengannya baik itu sang suami atau keluarga mertua, bahkan sang saudara pun sudah pergi. Hanya satu tempat yang bisa ia datangi dan pasti ada seseorang yang selalu siap menjadi tempat berbagi kasih. Mengingat waktu masih begitu pagi, Hazel membersihkan diri terlebih dahulu dan juga memakai pakaian ganti dari dalam lemari.
Penampilan seperti pria tak membuat wanita itu merasa risih, lalu ia meninggalkan rumah Henry begitu saja. Langkahnya berjalan menuju mobil. Kemudian kembali menyetir, sedangkan di sebuah rumah sakit. Saudara Hazel masih menjalani perawatan yang cukup intensif. Pria itu mengalami luka yang cukup parah.
Kecelakaan semalam, mengakibatkan pria itu mengalami pendarahan hebat di kepala. Para dokter yang menangani pun juga kewalahan. Dimana luka pasien tidak mau berhenti mengeluarkan darah dan luka itu dari lengan yang terkena goresan kaca. Mereka hanya melakukan perawatan semampunya karena rumah sakit itu juga bukan rumah sakit besar.
Setelah segala upaya selama beberapa jam, akhirnya para dokter keluar. Seorang pria kemeja hitam yang menunggu sejak semalam bergegas menghampiri dokter dengan name tag Dokter Wahyu, "Bagaimana keadaan pasien?"
Sang dokter menggelengkan kepala dengan tatapan pasrah. Jika sudah seperti itu, pasti ada sesuatu yang buruk dan kemungkinan untuk kabar baik sangatlah kecil. Dokter itu memberikan laporan terakhir sang pasien kepada pria kemeja hitam. Di mana laporan itu berisi keadaan pasien mengalami koma akibat kerusakan saraf yang cukup parah.
"Dok, tolong pindahkan pasien ke rumah sakit utama dan berikan saya rekomendasi dokter terbaik agar bisa memberikan perawatan terbaik untuk pria itu," ujar pria kemeja hitam tanpa keraguan, membuat sang dokter mengangguk paham.
__ADS_1
Percakapan singkat keduanya berakhir dengan baik, lalu pria kemeja hitam mengambil ponsel dan menghubungi keluarga. Ia tetap memberikan kabar agar keluarganya tidak perlu khawatir karena masih belum pulang ke rumah. Meninggalkan sang pria kemeja hitam yang sibuk mengurus korban kecelakaan. Perdebatan sengit terdengar cukup mengusik telinga seorang wanita yang sejak satu jam termenung menjadi penonton.
Awal mula dari perdebatan hanya karena sebuah resep makanan, tapi pada akhirnya menjadi kekacauan dan keributan di dalam dapur, "Ayolah, aku mau yang itu! Kenapa kamu pilih yang ini?"
Seorang wanita dengan pakaian tomboy mengeluh. Ia ingin makan masakan Indonesia dengan cita rasa yang pedas, tapi wanita dengan kuncir kuda justru memberikan resep seperti soto dan juga makanan yang berkuah lainnya. Sontak saja perdebatan itu menjadi cukup panjang, hingga membuat wanita yang terdiam sejak awal harus menggelengkan kepala.
"Maaf, apa kalian tidak lelah bertengkar dari tadi? Aku yang mendengar saja sudah sangat mengantuk dan bosan. Apa sudah kalian putuskan ingin masak apa? Aku juga sudah sangat lapar," celetuk wanita dengan tatapan meneduhkan, ia hanya berusaha untuk mengembalikan keadaan menjadi normal.
Namun, usahanya yang ingin menjadi penengah justru tidak di dengar dan malah mendapatkan pelototan tajam dari kedua wanita lainnya. Untung saja seseorang masuk ke dapur dan sedikit mengubah suasana menjadi lebih baik. Meski, tidak mengurangi hawa panas di dapur.
"Ekhem! Apa yang kalian lakukan?" tanya pria yang baru saja masuk ke dapur.
Jujur saja, saat ini keadaannya sudah kelaparan dan perut sudah meronta ingin meminta sesuatu untuk dimakan, "Kak, Kekasihmu dan juga Dokter Kinara membuat perdebatan yang aku tidak paham. Aku sangat lapar...,"
Pengaduan yang dilakukan Ara, membuat Ocy dan Kinara serempak menatap Ara semakin tajam. Namun hal itu mengubah ekspresi Samuel menjadi geram. Bagaimana bisa dua wanita yang diberikan tanggung jawab untuk menjaga sang adik, justru sibuk berdebat. Pria itu berjalan mendekati kedua wanita yang berdiri di depan bahan-bahan makanan.
__ADS_1
"Kalian keluar dari dapur!" Perintah Samuel membuat kedua wanita yang ada di depannya langsung menciut dan menundukkan kepala.
"Ayo kita keluar. Lagian, kita sudah diusir," Ocy menggandeng tangan Kinara, padahal baru saja, kedua wanita itu berdebat dan kini sudah seperti dua sahabat yang tidak bisa terpisahkan, sedangkan Ara berusaha untuk menahan tawa karena ia sebenarnya tak berniat untuk mengerjai kedua wanita itu.
Kepergian Ocy dan Kinara membuat Samuel mulai melakukan pekerjaan dapur. Pria itu terlihat cekatan memilih beberapa sayuran dan juga apa saja bahan yang akan ia masak kali ini. Hal itu menjadi pemandangan baru bagi Ara. Wanita itu menatap sang kakak yang begitu serius memasak. Satu hal yang ada di dalam benaknya. Apakah Bryant juga bisa memasak seperti kakaknya?
Kenapa rasanya ingin sekali memasak makanan yang dibuat oleh suaminya sendiri, tapi bagaimana caranya meminta untuk dimasakkan. Sementara Bryant saja selalu sibuk bekerja. Meskipun melakukan pekerjaan di dalam rumah, tetap saja pria itu hanya sibuk duduk di depan komputer ditemani kertas-kertas yang berserakan di atas meja
Samuel yang sesekali melirik Ara. Iya tidak tahu kenapa adiknya melamun, "Ara, kamu kenapa? Apa yang kamu pikirkan?
"Kak, apakah Mas Bryant bisa memasak?" tanya Ara dengan memainkan jemarinya untuk bermain nada dengan mengetuk meja.
Samuel kini paham, apa yang terjadi pada Ara. Ternyata adiknya itu tengah menginginkan sesuatu yang dimasak oleh Bryant, tapi seingatnya. Sang sahabat hanya bisa memasak makanan barat. Sementara Ara hanya menyukai masakan Indonesia.
Tentu saja kesimpulan itu berasal dari Kejadian beberapa waktu lalu. Di mana waktu itu, mereka makan di sebuah restoran sederhana dengan banyak menu Indonesia. Ara tidak tanggung-tanggung makan beberapa jenis makanan dalam satu waktu. Itu membuat satu spekulasi. Sang adik sangat mencintai masakan Indonesia, tapi pernah sekali ia memberi sebuah burger yang dipesan secara online.
__ADS_1
Ara menerima dengan senang hati, meski akhirnya diam-diam malah diberikan pada Ocy. Sejak saat itu pula, ia tak lagi memberikan makanan yang modern untuk para anak muda. Lebih baik memesan makanan Indonesia saja dan pasti akan dimakan oleh adiknya.
"Kamu tenang saja,nanti malam kita akan makan bersama dan chef-nya adalah suamimu sendiri oke," Ucap Samuel tak ingin mengecewakan Ara karena sebagai kakak dirinya siap melakukan apapun demi Sang adik tetap bahagia.