Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 155: PENGADUAN


__ADS_3

Bryant memejamkan mata mencoba menarik nafas dalam agar bisa menetralkan emosinya yang menggebu-gebu. Setelah kehamilan Ara. Kenapa baru sadar sekarang. Jika wanita itu, tetap berstatus istri pria lain? Dulu, dia merasa bersalah karena merenggut mahkota Ara dan hari ini. Penyesalan lain datang menghampiri tanpa permisi.


Tiba-tiba ingatan akan malam pertama kembali melintas, "Bagaimana hukumnya, jika selama pernikahan suami tidak memberikan nafkah batin kepada istrinya?"


Pak Hakim berhenti berdiskusi dengan Pak Salim. Pria dengan pakaian penutup hitam itu, beralih menatap Bryant. Tuan Muda keluarga Putra yang terlihat gusar, tetapi perlahan semakin tenang. Hanya saja, pertanyaan tentang nafkah batin. Apakah mungkin menikah lebih dari setahun, tanpa menyentuh?


"Apa, Anda serius? Wanita ini tidak mendapatkan nafkah batin. Selama pernikahan mereka?" tanya Pak Hakim memastikan, membuat Bryant menarik nafas dalam.


Mau, tak mau. Kisah satu malam yang menjadi awal hubungan mereka harus dijelaskan. Bryant mencoba untuk menenangkan diri sendiri, lalu membenarkan posisi duduknya. Terlihat tidak nyaman, tapi berusaha untuk mengendalikan diri sendiri.


"Aku bisa pastikan Ara masih perawan. Pria itu, ntah siapa namanya. Dia tidak menyentuh Ara ku. Pada malam, dimana aku mabuk. Percintaan satu malam itu menjelaskan, jika istri siri ku masih dalam keadaan tersegel. Aku sendiri yang merenggut mahkotanya. Itu sudah jelas. Sekarang, apa perceraian bisa dilakukan dengan cara yang lebih cepat? Katakan padaku."


Pak Hakim mengelus dada. Bagaimana ada pria yang membiarkan istri sah nya nganggur. Mungkin saja, pernikahannya hanyalah sebuah permainan atau hanya perjanjian. Apapun yang terlintas di dalam kepala, hanya bisa disimpan untuk diri sendiri. Kini dia tahu poin dari permasalahan dan bagaimana solusinya.


"Seperti yang saya katakan sejak awal, Tuan. Anda harus memberikan bukti, membawa wanita ini untuk mengajukan gugatan cerai. Mempertemukannya dengan sang suami agar bisa mencapai mufakat untuk perpisahan secara negara. Setiap bukti yang ada akan semakin mempermudah proses perceraian. Jika hanya mengajukan gugatan. Maka akan memakan waktu berbulan-bulan."


Pak Salim paham maksud dari Pak Hakim. Pria itu membisikkan sesuatu pada Bryant. Setelah mendapatkan anggukan kepala. Kini masalah perceraian akan ditanganinya, sedangkan Tuan Muda harus mengumpulkan bukti tentang istri sirinya. Pertemuan itu menjadi babak baru di dalam kehidupan Bryant.


Niat hati ingin mempersatukan keluarga. Kini, dia harus berhadapan dengan suami pertama Ara. Kehidupan memang penuh kerumitan, hingga tidak mampu dijabarkan seperti rumus matematika. Setiap cobaan yang datang akan selalu mengajarkan sesuatu.


Seperti itulah kehidupan. Tidak tahu, dimana awal dan akhirnya. Bryant keluar dari gedung pemerintah didampingi pengacaranya. Setelah menerima beberapa saran. Kedua pria itu berjalan menuju tempat parkir.


"Tuan, apa Anda, sungguh akan melakukannya dalam waktu satu minggu?" tanya Pak Salim mencoba memastikan sekali lagi sebelum Tuan mudanya membuka pintu mobil, membuat Bryant terhenti, lalu berbalik ke belakang menatap pengacaranya.

__ADS_1


Bryant menatap pria paruh baya itu serius. Memang tidak banyak orang yang tahu. Jika saat ini, Ara tengah mengandung anaknya. Bagaimana sidang perceraian akan berlangsung? Ketika banyak kemungkinan bisa saja terjadi. Jangan sampai, suami pertama Ara mengakui anaknya sebagai anak tidak sah.


Saat ini, Bryant tidak ingin mencoreng nama baik Ara. Apalagi memberikan beban pikiran, bahkan otaknya tengah berpikir keras. Bagaimana caranya menyampaikan, jika pernikahan mereka dianggap tidak sah. Semua karena Akbar masih belum mendaftarkan perceraian di pengadilan agama.


Miris bukan? Yah, kenyataan pahit. Bryant berulang kali menghela nafas panjang. Rasanya begitu berat. Apalagi kebenaran itu, bisa saja merenggut senyuman manis, kejahilan dari istri sirinya. Masihkah dia menjadi suami siri Ara? Rasanya tidak. Apapun yang terjadi, termasuk hubungan terlarang.


"Tuan muda! Anda baik-baik saja?" Pak Salim bertanya seraya menepuk pundak bosnya itu.


"Hmm. Cukup lakukan seperti yang ku mau dan pastikan simpan rapat semua informasi tentang keluarga Putra. Saat ini, biarkan proses berlangsung. Aku akan melakukan sesuatu untuk membuat semua menjadi mungkin. Aku harus pergi." Tegas Bryant langsung berpamitan dan meninggalkan Pak Salim berdiri sendirian.


Kepergian Bryant diiringi tatapan nanar sang pengacara. Pria itu merasa kasian pada tuan mudanya, tetapi tidak bisa mengambil keputusan seorang diri. Tanpa menunda waktu, dan berpikir lebih lama lagi. Dikeluarkannya ponsel yang bbersembunyi di balik saku celana, lalu mencari nomor yang akan memberikan keputusan terbaik.


Semoga aktif. Ayolah angkat, Tuan.~batin Pak Salim menunggu nada dering yang tersambung, tapi setelah melakukan percobaan berulang kali. Tetap saja tidak ada yang mengangkat panggilannya, hingga satu percobaan menjadi penantian terakhir.


Triiing!


Triiing!


Suara dering ponsel untuk kesekian kalinya sungguh mengusik waktu tidurnya. Rasa malas yang mendera, membuat mata enggan terbuka. Meski tangannya sibuk menjelajahi ranjang agar bisa menemukan benda mati yang terus saja berbunyi.


"Katakan!"


[Tuan, keponakan Anda mendatangi pengadilan agama untuk mendaftarkan pernikahan, tapi status dari wanita itu masih menjadi istri pria lain.]

__ADS_1


"What's?" Seru Al langsung terlonjak kaget mendengar laporan dari Pak Salim, "Kirimkan semua berkasnya. Sekarang!"


Baru saja matanya bisa terpejam setelah menyelesaikan beberapa masalah selama beberapa hari, bahkan dia tidak sempat memberikan kabar pada Bunga. Tiba-tiba saja, kabar tak sedap datang tanpa permisi. Panggilan itu berakhir, dan satu menit kemudian ada notif sebuah e-mail masuk.


Al bergegas mengambil laptop yang tergeletak di atas nakas. Tanpa peduli dengan rasa kantuk yang mendera. Pria itu membaca setiap berkas yang dikirimkan oleh Pak Salim. Kejadian seperti ini, seharusnya bisa dicegah, tapi semua sudah terlanjur.


"Astagfirullah, kenapa aku sampai lupa? Semua informasi sudah aku selidiki. Kenapa tidak dengan riwayat pernikahan Ara? Benar-benar, terlalu banyak yang ku kerjakan sampai melupakan hal paling penting."


Al mengusap wajahnya dengan kasar. Ingin komplain, tapi ini keteledoran yang dia lakukan sendiri. Jadi, untuk apa menyalahkan orang lain? Sekarang yang bisa dia lakukan adalah mempermudah proses perceraian di antara Akbar dan Ara, sedangkan untuk itu hanya Zack yang bisa dipercaya.


Apapun yang Al rencanakan, hanya dia sendiri yang tahu. Sementara itu, kita kembali ke dalam hotel. Dimana seluruh keluarga tengah berkumpul hanya untuk berbagi waktu. Kebersamaan diantara semua anggota keluarga menjadi lengkap. Apalagi keluarga akan mendapatkan anggota baru yang selalu menjadi harapan baru.


"Ma, kenapa perasaanku tidak enak, ya? Rasanya nyeri disini." Ara menunjuk dadanya sendiri, wajah bumil terlihat pucat padahal beberapa detik yang lalu masih baik-baik saja, melihat itu, Mama Bella melambaikan tangan ke Sam yang duduk di kursi meja lain.


"Sabar, Nak. Sebaiknya istirahat di kamar, ya. Biar Sam yang antar." Ujar Mama Bella mencoba untuk menenangkan menantunya, "Sam, bawa Ara ke kamar. Jangan lupa periksa keadaannya."


Sam bergegas mensejajarkan posisinya, lalu memegang kening, leher serta denyut nadi agar tahu apa yang terjadi. "Kamu ini, De. Berapa banyak es yang kamu makan? Ayo ke kamar."


"Ma, wajah Ka Sam menyeramkan. Boleh tuker, gak? Ara ....,"


"Ara, kamu ngatain kakakmu hantu? Jangan bandel, ayo. Kakak antar kamu ke kamar. Jangan sampai semua orang kena omel suami mu yang galak itu." Sam memotong pengaduan Ara, karena adiknya itu sangat susah di bilangin selama beberapa hari terakhir.


Setiap hari, ada saja yang menjadi permintaan. Memang saat hamil, akan ada fase ngidam. Satu harapannya, semoga tidak seperti Ara. Dimana pasti meminta sesuatu tanpa mau menunggu waktu. Bumil satu ini, sikapnya melebihi anak kecil.

__ADS_1



__ADS_2