
Klakson yang bersahut-sahutan dari arah jalanan, membuat beberapa penghuni hotel serta pihak keamanan mencoba memeriksa apa yang terjadi diluar sana. Suara kehebohan tak bisa terelakkan, hingga tubuh yang berdiri ditengah banyaknya kendaraan. Tiba-tiba melayang terhempas beberapa meter, kemudian terbaring lemas tak berdaya.
Tatapan mata mulai melemah, samar-samar nampak bayangan seorang pria turun dari mobil. Suara langkah kaki yang berlari memburu semakin terdengar cepat. Tangannya terangkat ke arah bayangan itu, tetapi ia tak memiliki tenaga lagi.
Cahaya yang terang menghilang ditelan kegelapan. Satu panggilan lembut menyertai kepergiannya, "Ayra!"
Darren yang kebetulan ada di tempat kejadian. Tidak pernah membayangkan. Jika dengan mata kepalanya sendiri akan melihat wanita itu tertabrak mobil hingga terpental cukup jauh. Tanpa menunggu ambulans, dibawanya tubuh wanita itu ke dalam mobil. Kemudian sang sopir menyetir dengan kecepatan diatas rata-rata.
Berita terjadinya kecelakaan tersebar begitu cepat, membuat Sam yang kebetulan dari cafe tak sengaja melihat tayangan rekaman ulang tragedi yang terjadi pada Ara. Sontak saja, kopi cup yang ada di tangannya terlepas. Pria itu berlari menuju lift dengan tidak sabaran, bahkan mengabaikan tamu lain yang mengomel akan sikap buru-burunya.
Pintu lift terbuka. Sam buru-buru berlari menyusuri lorong, lalu berhenti tepat di kamar Bryant. Ia mengetuk pintu begitu keras hingga membuat sang pemilik kamar tak sanggup untuk berlama-lama memberikan waktu menunggu. Betapa terkejutnya Bryant, ketika melihat wajah sang sahabat begitu panik dengan tatapan sorot mata yang tajam.
"Ara di mana, Bry?" tanya Sam penuh penekanan, membuat Bryant bingung ingin menjawab apa, wajah yang terlihat kebingungan itu membuat Samuel langsung menyingkirkan tubuh Sang sahabat. Kemudian ia masuk ke kamar untuk memeriksa setiap sudut ruangan, bahkan ke balkon, kamar mandi dan juga bawah ranjang.
"Bryant, Ara di mana?" tanya Samuel sekali lagi, tapi kali ini, dia memegang kedua lengan sahabatnya itu dengan tatapan tak mau mendengarkan alasan apapun.
Bryant menghela nafas begitu panjang, iya juga menundukkan kepalanya, "Ara meninggalkanku, dia tak ingin aku mencarinya. Aku ....,"
__ADS_1
Entah apa yang terjadi padanya. Tiba-tiba tangannya terangkat memberikan tamparan keras pada sahabatnya itu. Bagaimana bisa pria yang bertanggung jawab atas istri, malah justru membiarkan wanita yang tengah hamil keluyuran di luar sana. Benar-benar tidak bertanggung jawab. Sam merasa kesal, geram dan tak bisa menahan emosinya lagi.
Bukan hanya tamparan yang ia berikan, tapi Sam langsung mencengkram kedua bahu Bryant. Lalu membuat pria yang kini terlihat begitu lemah dan menjijikkan mendongakkan wajah ke arahnya, "Kamu, pria atau banci? Hah! Istrimu di luar sana mengalami kecelakaan dan kamu terdiam di sini. Apa kamu masih waras?!"
Betapa terkejutnya Bryant. Ketika Sam dengan lantang mengatakan Ara mengalami kecelakaan. Pria itu tak bisa berpikir jernih dan tanpa berpikir panjang langsung menyibakkan kedua tangan Sam. Kemudian, dia berlari meninggalkan kamar. Sam yang tak mau terjadi apa-apa pada sang sahabat ikut berlari menyusul pria itu.
Sementara keluarga yang lain masih tidak tahu apapun tentang tragedi yang menimpa Ara, sedangkan kini apapun yang akan dilakukan oleh Sam dan Bryant. Keduanya hanya pergi tanpa permisi, bahkan melupakan ponsel yang tertinggal di dalam kamar dan juga lupa untuk membawa dompet.
Benar saja setelah bertanya kesana kemari. Akhirnya Bryant dan Sam menemukan titik terang bahwa benar Ara yang mengalami kecelakaan. Akan tetapi, wanita itu sudah dibawa pergi oleh sebuah mobil yang entah milik siapa. Saat ini, posisi keduanya berdiri di halte tempat di mana Ara berhenti sejenak.
Namun yang menjadi penyesalan terdalam adalah saat ini, dia tidak bisa menjadi suami yang berguna. Jangankan untuk memberikan pertolongan, bahkan sekedar memberi semangat pun. Dia tidak bisa. Keadaan semakin memburuk, Sam tidak bermaksud untuk memojokkan sahabatnya itu, tetapi ini bukan situasi di mana mereka harus tenggelam dalam kesedihan.
Tak ingin menambah masalah. Sam memilih untuk kembali ke dalam hotel. Pria itu langsung mengambil mobilnya sendiri dan membawa Bryant untuk bergegas masuk. Keduanya mencoba untuk mencari solusi dari masalah saat ini, "Bry, coba cari rumah sakit terdekat dari sini. Kita akan segera ke sana."
Bryant mengangguk. Kali ini, ia tak ingin berdebat dan memilih untuk melakukan apapun seperti yang dikatakan oleh Sam. Ia sadar benar, jika saat ini kondisinya tengah sangat kacau dan tidak sanggup untuk berpikir apapun. Ketika tangannya mencari benda pipih itu ke beberapa saku, barulah menyadari. Tidak ada ponsel ataupun dompet yang ia bawa.
Samuel yang melihat itu langsung mengambil ponsel dari sakunya, lalu memberikan ke Bryant, "Ambillah! Pakai milikku."
__ADS_1
Bryant menerima dengan senang hati. Kemudian melakukan pencarian rumah sakit terdekat dari hotel tempat mereka menginap. Hanya membutuhkan hitungan detik hingga beberapa rumah sakit terdekat muncul dari laman pencarian. Ternyata ada sebuah rumah sakit kecil yang begitu dekat dari hotel. Setidaknya hanya berbelok satu arah ke utara, lalu akan memasuki wilayah khusus.
"Rumah Sakit Permata Blok B. Di depan sana, kita harus berbelok dan 4 bangunan dari tikungan. Di situlah rumah sakitnya berada." Bryant menjelaskan secara singkat, membuat Sam menambahkan laju kendaraannya.
Bukan hanya kedua pria itu yang merasakan kekhawatiran dan kepanikan akan keadaan Ara. Saat ini, di dalam sebuah rumah sakit yang berbeda. Darren berusaha untuk tetap tenang, tetapi hatinya semakin gelisah ketika melihat lampu dari ruang ICU menyala. Ia tahu, jika saat ini Ara tengah mengalami pendarahan.
Namun, ia tidak paham. Kenapa wanita itu ada di tengah jalan dalam keadaan tak sadarkan diri. Apalagi, raganya memang masih berdiri, tapi ia masih sangat mengingat. Ketika sorot mata Ara, sepintas bertemu dengan netranya. Tatapan Itu menjelaskan banyak hal. Sorot mata sedih yang mendalam dan juga entah rahasia apa lagi yang tersimpan di dalam hati wanitanya itu.
Ingatannya sudah kembali pulih. Iya sangat mengenal siapa Ara. Hanya saja, ia tak tahu jika saat ini Ara sudah menikah dengan sahabat lamanya. Satu kenyataan yang dia tahu adalah Ara dalam keadaan tidak baik-baik saja dan untuk melindungi wanita yang ia cintai, maka apapun akan ia lakukan.
Satu jam berlalu. Akhirnya lampu dari ruang ICU yang menandakan operasi telah berakhir padam. Darren bergegas menghampiri pintu yang masih tertutup hingga seorang dokter muncul menampakkan diri dengan wajah yang cukup terlihat begitu tegang.
"Dokter, bagaimana keadaan Ayra? Apakah kondisinya baik-baik saja." Darren menatap sang dokter penuh harap, sayangnya sang dokter justru menggelengkan kepala. "Bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi! Saya harap, Anda berkata jujur."
Si dokter membuat wajahnya terlihat ambigu. Lalu, mengajak Darren untuk berdiri di depan jendela yang menghadap ke luar sana, "Maafkan, kami, Tuan. Kondisi pasien cukup memprihatinkan karena pasien mengalami keguguran akibat benturan keras."
"What's keguguran? Bagaimana mungkin ....,"
__ADS_1