Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 163: Misi yang GAGAL


__ADS_3

"Akhirnya, dia muncul juga. Tetap waspada. Kita harus membuat bukti malam ini menjadi original. Paham?"


Zack menatap ke depan tanpa berkedip. Pria itu tak ingin kehilangan satu adegan pun ketika melakukan misi kali ini, namun ada yang aneh. Kenapa orang yang baru saja melihat dari jendela justru tidak keluar-keluar dari dalam rumah. Apakah wanita yang dia suguhkan masih kurang seksi atau ada sesuatu yang membuat pria itu, tak mau keluar dari rumah.


Heran dan bingung, tetapi masih tetap optimis untuk menyelesaikan misi kali ini. Meskipun malam semakin larut tak membuat Zack patah semangat. Dia berusaha yang terbaik agar kepercayaan sang Bos kembali padanya. Meski untuk itu, dia harus kehilangan setengah dari stok darah di dalam tubuhnya.


Satu jam berlalu, tapi tetap tidak ada perubahan apapun. Bahkan, membuat si wanita bayaran menghentakkan kaki, lalu berjalan meninggalkan halaman rumah itu. Wanita itu meninggalkan kediaman Akbar dengan mengendarai mobilnya kembali.


Jujur saja, itu semakin mencurigakan. Bagaimana bisa pria yang terbiasa menikmati kesenangan malam, tetapi malam ini tak mau membukakan pintu untuk wanita yang benar-benar berpenampilan begitu menggoda.


"Apa kamu yakin, jika apa tidak tahu tentang semua rencana kita. Bukankah kalian melakukan semua sesuai yang Aku perintahkan?" Cecar Zack pada anak buahnya, membuat si anak buah sedikit kebingungan karena memang dia merasa tak melakukan kesalahan apapun.


Di dalam kegelapan itu. Zack dan anak buah sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mereka tidak tahu, jika saat ini, Akbar bukannya tahu tentang apa yang dia rencanakan. Akan tetapi, pria itu memang tidak berminat untuk menikmati seorang wanita malam hanya untuk memuaskan hasratnya.


Dia tengah merasa lemah dengan dilema hati. Semua itu karena seluruh ingatan yang ada pada kehidupan masa lalunya kembali. Padahal perutnya sudah kembung dengan wine, hingga banyak botol yang sudah berserakan di dalam ruang tamu.


Zack penasaran. Apa yang terjadi di dalam sana. Disaat akal pikiran mulai menuntut rasa ingin tahu. Tiba-tiba ada suara benda pecah dari dalam rumah. Sontak saja tanpa berpikir panjang Zack keluar dari persembunyian, lalu berlari perlahan mengendap-endap untuk mendekati rumah itu.

__ADS_1


Begitu juga dengan anak buahnya yang memilih untuk mengikuti dari belakang. Kini keduanya mencari sebuah lubang untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana. Dari salah satu jendela. Dimana ventilasi udara yang tidak tertutup tirai, dari situlah Zack mengintip dan betapa terkejutnya dia.


Ketika melihat Akbar sudah terkapar dengan darah yang mengalir dari tangan kanan pria itu. "Cepat dobrak pintu itu! Kita harus membawa Akbar ke rumah sakit."


Sungguh malam ini menjadi begitu runyam, membuat misi menjadi gagal total. Apalagi sasarannya justru berusaha melenyapkan diri sendiri. Sekarang, apa yang akan dia katakan pada bosnya? Apakah harus jujur atau harus melakukan sesuatu agar semua bisa kembali normal.


Zack membiarkan anak buahnya bekerja, dan membawa Akbar pergi meninggalkan rumah itu. Sementara dia, terduduk di teras rumah. Di tengah kemelut pikiran. Zack masih berusaha untuk tetap tenang dengan menghela nafas panjang. Pria itu ingin menyelesaikan masalah, tapi nyatanya tak bisa untuk menyelesaikannya secara cepat.


"Aku bimbang. Sebaiknya aku kabari Bos tentang masalah ini atau tidak? Jika tidak, bagaimana kalau nanti menjadi masalah baru, lagi."


Meskipun ia tak ingin memberikan beban baru pada bos. Tetap saja, harus memberikan kabar yang memang sangat penting. Mau, gak mau. Tangannya sudah menekan beberapa tuts number untuk mendial panggilan, "Come on, Bos. Angkatlah. Aku sangat membutuhkanmu."


Sayangnya ponsel yang tengah ia hubungi dalam keadaan silent dan justru tersimpan di dalam tas sang istri yang sudah terlelap di dalam kamar. Tidak ada yang dengar, jika sang anak buah menghubungi pria itu untuk keadaan darurat. Zack mencoba beberapa kali, tapi tidak ada yang mengangkat panggilannya dan itu membuatnya menahan nafas.


Niat hati ingin mencoba sekali lagi. Akan tetapi, kedatangan salah satu anak buahnya mengalihkan fokusnya. Dimana pria yang mengenakan topi tentara itu, memberikan ponsel dengan layar yang menyala. "Dokter ingin berbicara dengan Anda tentang kondisi pasien. Silahkan."


Ponsel itu diterima, lalu beberapa saat. Zack sibuk melakukan obrolan singkat dengan dokter yang menangani Akbar. Dokter itu mengatakan keadaan pasien masih krisis dan kehilangan banyak darah. Jadi memerlukan stok darah lagi yang kebetulan di rumah sakit itu tidak memiliki persediaan.

__ADS_1


"Oke, saya akan usahakan untuk mendapatkan donor darah secepat mungkin untuk pasien, tapi tolong pastikan pasien akan kembali sadar dan sehat. Apa ada masalah lain, lagi, Dok?" tanya Zack berusaha menggali informasi lebih jauh lagi.


Sehingga, dokter yang berada di seberang juga menjelaskan beberapa pernyataan yang cukup mengejutkan, membuat Zack tersenyum. Senyuman yang penuh arti, bahkan anak buahnya yang berdiri tak jauh malah bergidik ngeri. Bukan apa-apa. Cukup paham aja, bagaimana tabiat sang pemimpin ketika sudah mendapatkan jalan keluar secara kilat.


Apapun yang dijelaskan sang dokter, membuat hidup Zack membaik. Seakan rintik hujan membasahi tubuhnya. Setelah merasakan ketegangan tak berujung. Akhirnya ia bisa bernafas lega dengan apa yang baru saja didengarnya. "Siapkan semua berkas dan pastikan, setiap catatan dari Anda adalah benar dan nyata. Saya akan datang ke rumah sakit membawa donor darah yang memang dibutuhkan pasien."


Panggilan itu berakhir, setelah mengembalikan ponsel anak buahnya. Zack bergegas meninggalkan rumah itu, lalu membawa sisa pasukannya untuk meninggalkan tempat yang tidak akan memberikan bukti apapun. Sementara di dalam hotel, Al baru saja masuk ke kamar. Pria itu terlihat cukup lelah.


Tentu saja, dia kembali setelah mendengarkan semua keluh kesah dari sang keponakan dan juga kakaknya. Setidaknya, menjadi pendengar yang baik bisa meringankan beban keluarga sendiri. Akan tetapi, ketika ia memasuki kamar. Tatapan matanya langsung mendapatkan pemandangan yang menenangkan hati.


Dimana Bunga istrinya dengan nyaman memeluk dan menjaga Almaira sebagai seorang ibu. Jika ingin berkata jujur. Al tidak berniat untuk memberikan kehidupan rumah tangga yang begitu rumit pada sang istri. Tetapi takdir hidup berkata lain. Dimana takdir mereka penuh kejutan, bahkan ia pun tak bisa mengendalikan itu.


Cintamu telah mengubah banyak hal, tapi dengan bersamaku. Justru hidupmu menjadi penuh luka. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik, tetapi mulai malam ini, aku akan berusaha untuk terus belajar mencintaimu. Kalian berdua adalah hal terbaik yang pernah ada selain keluargaku.~ batin Al, mengangkat Almaira dengan hati-hati ke ranjang khusus bayi agar Bunga bisa tidur lebih nyaman.


"Selamat malam istriku. Kamu memang wanita tangguh. Aku tidak ingin menjadikanmu sebagai pelarian. Aku akan berusaha menjadikanmu sebagai pelabuhan terakhir. Semoga cintamu bisa melepaskan ku dari masa lalu yang masih terdiam di sudut hatiku." Al berbisik dengan tangannya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Bunga.


Wajah cantik dengan usia muda. Wajah itu cepat sekali menjadi wanita dewasa. Al mengecup kening istrinya, "Selamat malam, Istri kecilku."

__ADS_1


__ADS_2