
"Dimengerti. Bry, kamu dengar keputusan Ara? Silahkan keluar!"
Kejam, tapi bisa apa? Selain menyeret langkah kakinya untuk meninggalkan ruangan itu. Kepergian Bryant yang lesu, membuat Sam tak tega. Namun, dia tak ingin menarik hak Ara atas hidupnya sendiri. Sepertinya semua pria setuju, dan mencoba memahami keputusan wanita itu.
Setelah menjelaskan titik permasalahan. Alkan memberikan file yang dibawanya, lalu diserahkan ke Ara agar wanita itu mempelajari dengan seksama. Kasus perceraian bisa dikatakan sebagai kasus yang lazim. Akan tetapi, sidang perceraian tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Beberapa poin yang menjadi garis besar akan menjadi titik balik kehidupan. Ara mendengarkan tanpa memberi keluhan, apalagi pertanyaan, sedangkan yang lain ikut menyimak. Come on. Alkan itu seorang pengacara handal. Jadi, semua akan beres, tetapi untuk menyelesaikan formalitas.
Ara sendiri yang harus mengajukan gugatan cerai terhadap Akbar Wijaya. Singkat cerita. Wanita itu mendatangi kantor pengadilan agama dan ditemani tiga pria sekaligus yaitu Om Alkan sebagai pengacara, Samuel sebagai seorang kakak dan Papa Angkasa sebagai ayah sambung.
Kenapa Papa Angkasa menjadi ayah sambung? Semua itu demi melindungi hak Ara. Dimana ia tak ingin pihak pengadilan, apalagi Akbar mempertanyakan kehidupan pribadi, ketika diadakan sidang pertama yang biasanya bertujuan untuk melakukan musyawarah dari hati ke hati.
"Ok, sekarang kita tunggu disini. Sebentar lagi, Akbar akan didatangkan dari penjara untuk menerima panggilan dari pengadilan agama. Aku sudah mengatur agar semua berjalan dan menyelesaikan perceraian kalian hari ini juga." Jelas Alkan, membuat yang lain mengangguk paham.
Ketiga pria itu bekerja sama untuk melindungi Ara. Sungguh, wanita itu beruntung mendapatkan dukungan keluarga. Walaupun, bukan keluarganya sendiri. Satu sisi, sidang perceraian sesi pertama akan berlangsung, sedangkan di sisi lain. Akbar yang tiba-tiba dibawa untuk naik ke mobil polisi hanya bisa menebak, apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan hanya mencoba mencari cara untuk melarikan diri. Sayangnya, pihak kepolisian tidak bisa diremehkan. Dimana kepergiannya dari penjara diiringi pawai mobil patroli. Benar-benar ketat, hingga tidak bernafas. Borgol di tangan menunjukkan posisinya saat ini.
"Pak, kita akan segera sampai ke pengadilan agama." Lapor opsir yang duduk di kursi depan melalui walkie talkie.
Benar saja. Iringan mobil itu memasuki halaman pengadilan agama. Seketika warga biasa yang tengah ditempat itu, menghentikan aktivitas mereka. Tatapan mata terpusat pada tahanan yang memakai seragam orange seperti buah jeruk matang. Tahanan itu, dikawal begitu ketat.
Suara kehebohan mengalihkan perhatian semua orang. Termasuk pihak keluarga Ara yang duduk di ruang tunggu, tetapi Al tidak membiarkan siapapun untuk keluar dari ruangan itu karena orang kepercayaannya sudah mengirimkan pesan. Jika Akbar sudah sampai di pengadilan.
Sepuluh menit kemudian. Para hakim, saksi, tergugat dan yang digugat sudah duduk di kursi masing-masing. Ara yang duduk ditengah dan di dampingi ketiga pria tampan, membuat Akbar terperangah. Bagaimana mungkin perubahan itu terjadi secara signifikan?
Pak Hakim memulai sidang perceraian sesi pertama. Dimana memberikan kesempatan untuk Ara dan juga Akbar mengungkapkan niat hati masing-masing. Sontak saja, pihak pria menyatakan tetap ingin menjadi suami Ara, bahkan begitu menggebu-gebu dan dengan lantang menyatakan wanita itu sebagai istri sahnya.
Bukannya mendapatkan sanjungan dari Ara. Wanita itu menatap jengah dengan tindakan tak normal Akbar. Ia baru sadar telah menikah dengan pria tidak waras. Tatapan mata haus belaian jelas terpancar dari pria yang duduk di depannya. Jijik ketika mata itu pernah menjadi tujuan kehidupannya.
"Yang Terhormat, Bapak Hakim. Saya, Ayesha Ramadhani memutuskan untuk tetap menggugat cerai Saudara Akbar Wijaya. Sebagaimana yang telah pengacara saya katakan. Bukti dan saksi dari pelecehan, kdrt dan penyimpangan sosial telah diberikan. Mohon untuk segera ditindaklanjuti. Terima kasih."
__ADS_1
Skakmat. Rasanya bukan lagi hujan air, tetapi sudah menjadi hujan pisau. Ingin berteriak, tapi percuma. Akbar bukan hanya terkejut, pria itu mendadak kejang-kejang, membuat petugas kepolisian langsung bergegas mengambil tindakan. Dibawanya pria itu meninggalkan ruang sidang.
Ara kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi. Menghembuskan nafas panjang untuk menetralisir rasa sesak di dada. Ada kelegaan, ketika bibir meluapkan seluruh emosi dengan keputusannya. Apalagi orang-orang begitu menyayangi, bahkan memberikan dukungan sepenuh hati.
"De, are you okay?" tanya Sam, lalu memeriksa kening wanita itu untuk memastikan keadaannya. "Tidak panas, tapi kenapa nafasmu memburu."
Al yang mendengar itu, menepuk bahu Sam. "Ara fine. Dia hanya mengalami tekanan karena harus mengalahkan rasa takutnya yang selama ini merantai tangan dan kakinya. Mulai hari ini, langkah baru akan menuju masa depan yang lebih baik. Bukan begitu, putriku?"
"Putri?" tanya Sam dan Papa Angkasa serempak saling pandang tak mengerti.
Tatapan mata curiga dari kedua pria itu, membuat Ara menahan senyumnya. Seakan sepakat melalui isyarat mata. Al mengulurkan tangan yang langsung disambut hangat. Kemudian berjalan meninggalkan Samuel dan Papa Angkasa yang masih termenung dalam kebingungan.
"Sam, apa mungkin, jika Ara putri Alkan?" Tanya Papa Angkasa yang lebih tepatnya bertanya pada dirinya sendiri.
Sam hanya bisa mengedikkan, "Sebaiknya kita susul mereka, Pa."
__ADS_1