
"Kenapa Anda melamun?" tanya Pak Manager.
Sang dokter hanya menggelengkan kepala, "Baik, Saya akan siapkan ruangannya terlebih dahulu. Maaf, tadi saya memang sedang beberes ruangan. Jadi sedikit berantakan, boleh menunggu sebentar agar kalian lebih nyaman?"
"Dokter Wina, tinggalkan saja ruangan Anda karena saya sudah menyiapkan ruang khusus untuk pemeriksaan. Jadi, mari kita ke sana bersama-sama," ujar Pak Manager tak ingin mengulur waktu lagi.
"Baiklah, Saya menerima pekerjaan ini," ucap sang dokter keluar dari ruangannya, lalu menutup pintu. Wanita itu tak ingin lebih berlama-lama lagi dan memilih untuk pergi bersama pasien barunya.
Kepergian semua orang, meninggalkan seorang pasien di dalam ruangan Dokter Wina. Namun, tidak seorangpun tahu karena saat ini, pasien itu masih tak sadarkan diri. Perjalanan hanya membutuhkan beberapa waktu, hingga menuju sebuah ruangan yang memang disebut ruangan khusus.
"Ara, ayo ikut bersamaku," ajak Muel mengulurkan tangannya, sedangkan yang diajak malah menatap Bryant untuk meminta izin dan persetujuan dari sang suami.
Bryan mengangguk, memberikan izin sang istri untuk meninggalkannya. Kini hanya Ocy dan Bryant yang menunggu di ruang tunggu. Sementara yang lain, masuk ke ruangan khusus untuk memulai pemeriksaan. Beda lagi dengan Pak Manager, pria itu memilih untuk kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan.
__ADS_1
"Bos, Aku sangat mengantuk. Semalam malah begadang, boleh keliling rumah sakit? Sebentar saja, dan untuk mencari kopi juga," ujar Ocy meminta izin bosnya
Bryan mengangguk, "Pergilah dan jangan lupa, belikan sesuatu untukku juga."
"Mana uangnya, Bos?" tanya Ocy dengan senyuman nakal.
"Apa kamu mau uang tambahan?" tanya balik Bryant dengan alis terangkat dan senyuman tipis.
"Feelingku, nggak enak ini. Nggak jadi, Bos. Mending, pakai uangku aja, bye-bye. Bos, jangan lupa. Awas, nanti ada pasien yang datang terus peluk si Bos, ya," ejek Ocy, lalu berlari kecil meninggalkan Bryant.
"Semoga saja, apa yang menjadi prediksiku, benar terjadi. Jika benar, Ara hamil. Aku harus melakukan tindakan secepatnya. Tidak mungkin, aku membuat situasi semakin rumit. Hubungan ini, tidak akan bisa berlangsung lama. Jika aku tidak memilih salah satu diantara istriku. Akan tetapi, aku masih harus menemukan bukti. Bukti yang tidak akan bisa terelakkan lagi oleh hazel."
"Hidupku seakan terjebak di antara sungai dan lautan. Sementara, aku sendiri tidak bisa berenang. Bagaimana aku akan melakukan semua ini? Aku rasa, paman pasti tahu semua yang terjadi. Sebaiknya, aku bertemu paman setelah ini. Sudahlah, sekarang aku harus memikirkan dan fokus pada Ara terlebih dahulu. Sisanya, aku akan pikirkan nanti," Bryant menyilangkan kedua tangan, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Pria itu masih tetap bertahan menatap pintu di depannya.
__ADS_1
Entah apa yang dilakukan di dalam ruangan itu. Kini ia, hanya bisa menunggu, menunggu dan menunggu. Meskipun, kesabaran itu masih ada. Tetap saja, dirinya dilanda kekhawatiran. Sementara di ruangan lain, Hazel baru sadar kembali. Wanita itu memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut.
"Aduh sakit, Si Dokter ke mana sih? Enak banget, main tinggal aja. Awas aja nanti," ucap Hazel dengan geram, wanita itu turun dari ranjang dan tidak lupa, ia mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaiannya sendiri.
Langkah kakinya berjalan terseok-seok karena masih dalam pengaruh obat. Meski begitu, tetap saja berjalan meninggalkan ruangan dokter yang telah membantunya melakukan inseminasi buatan. Wanita itu berjalan ke arah sisi utara, tapi seharusnya ia berjalan ke sisi selatan untuk keluar dari rumah sakit.
Wanita itu melupakan sesuatu yang ia sendiri tidak menyadari karena pengaruh obat masih mempengaruhi dirinya. Wajahnya tidak berbalut syal dan kacamata hitam pun terlupakan. Tiba-tiba, ketika ia berbelok ke arah kanan. Netra mata menangkap bayangan seorang pria yang memiliki postur tubuh mirip suaminya. Tanpa berpikir dua kali dan panjang kali lebar. Hazel menghampiri orang yang kini berjarak sekitar empat meter, dari tempatnya berdiri.
Langkah demi langkah. Semakin mendekati pria itu, hingga pada akhirnya. Hazel sampai di dekat sang pria, "Bryant, kamu di sini?"
Briyant yang tengah memejamkan mata sejenak. Sontak membuka mata, pria itu benar-benar terkejut, melihat siapa yang ada di depannya saat ini. Tidak ingin, membuat curiga. Ia berusaha menetralkan perasaan dan ekspresi wajah, lalu memberikan senyuman terbaik untuk wanita yang ada di depannya, "Iya, Aku di sini. Kamu sedang apa di rumah sakit, Sayang?"
Bryant tersenyum menyambut istrinya, tak lupa memberikan pelukan seperti biasa. Hazel hanya tersenyum tipis, lalu melepaskan pelukan sang suami, "Aku hanya menjenguk temanku yang kebetulan masuk rumah sakit, dan kamu sendiri. Apa yang kamu lakukan, disini, Sayang?"
__ADS_1
"Aku hanya sedang duduk," Bryant menatap Hazel dengan keraguan di dalam hati, "Kamu, sudah mau pulang?"
Hazel mengangguk, lalu menggandeng lengan suaminya, "Ayo, kita pulang bersama."