
"What's keguguran? Bagaimana mungkin ....,"
Dokter menepuk pundak Darren. Sebagai sesama pria, ia tahu bagaimana perasaan seorang suami yang baru merasakan kebahagiaan akan kehamilan sang istri harus direnggut karena takdir. "Sabar, Tuan. Banyak wanita yang mengalami keguguran, tapi beberapa bulan kemudian hamil lagi. Bayi Anda disayangi Allah, sekarang emosi pasien harus dijaga."
"Ketika seorang wanita kehilangan calon bayinya. Maka, tingkat kepercayaan diri semakin berkurang, tetapi apakah Tuan tahu. Jika pasien memiliki sebuah penyakit yang memang tidak bisa mengalami tekanan fisik ataupun tekanan batin terlalu berlebihan. Kondisi rahim istri tuan bermasalah."
Penjelasan si dokter benar-benar semakin memberikan kejutan. Seingatnya, Ayra wanita yang selalu memiliki pola hidup sehat, meski sangat mencintai makanan jalanan. Namun, ia tahu, wanita itu tidak suka berpikir segala sesuatu secara overthinking. Jadi, bagaimana bisa mengidap penyakit seperti itu?
Pria itu juga tidak ambil pusing ketika dokter berpikir Ara adalah istrinya. Status itu akan memudahkan ia untuk memberikan hak menyelesaikan formalitas dari pihak rumah sakit nanti.
Hanya saja, Darren tidak tahu, jika kehidupan Ara berubah drastis setelah orang tuanya yang meninggal dunia. Kemudian menikah dengan Akbar, lalu menjadi istri siri Bryant. Masih banyak hal lain, lagi, yang tidak dia tahu, selama ingatannya menghilang dan tidak bisa menjadi pelindung sang pujaan hati.
"Tunggu dulu, Dok." Darren mengangkat tangannya, menatap sang dokter serius. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Ayra? Bisa jelaskan secara detail pada saya!"
"Begini maksud saya, Tuan. Saat ini pasien tengah dalam kondisi mengandung, lalu ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kehamilannya itu keguguran. Jadi pasien harus beristirahat total agar bisa kembali pulih, bahkan untuk ke kamar mandi pun, harap diusahakan untuk tidak berjalan. Kondisinya begitu lemah. Mungkin karena memang saat ini emosional dari pasien sendiri tengah mengalami banyak tekanan"
Sang dokter melanjutkan penjelasannya, membuat Darren menyimak tanpa membiarkan satu informasi pun ia abaikan. Satu kenyataan, jika saat ini Ara mengalami keguguran ia merasa terkejut. Namun, tak ingin mengambil pusing karena baginya yang terpenting adalah kesehatan Ara. Apapun akan dia lakukan untuk mengembalikan keadaan wanita itu menjadi sedia kala.
Perbincangan selama 10 menit berakhir. Darren juga meminta dokter untuk memberikan izin. Bahwa dia akan melakukan rawat jalan untuk Ara, dan dia akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kesehatan pasukan. Meski, awalnya sang dokter menolak dengan alasan kondisi pasien harus diawasi selama dua puluh empat jam.
Darren tetap membujuk, hingga Sang Dokter menyetujui dengan beberapa klausul persyaratan di surat hitam diatas putih. Meskipun ia diperbolehkan membawa pasien pulang. Tetap saja, Ara harus menginap satu malam di rumah sakit. Pemantauan akan dilakukan agar keadaan pasien lebih terjamin.
"Terima kasih, Dok. Siapkan ruangan VVIP untuk Ayra. Saya sendiri akan berjaga di rumah sakit, dan siapkan juga surat perjanjiannya. Saya akan segera kembali." ucap Darren sekaligus berpamitan, membuat dokter itu mengangguk, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Bryant dan Sam harus menelan kekecewaan. Setelah satu jam lebih dengan mengunjungi beberapa rumah sakit. Keduanya tidak berhasil menemukan Ara, kedua pria itu kini duduk di bawah pohon di pinggir jalan. Sam menatap ke arah jalanan. Dimana banyak kendaraan berlalu lalang, sedangkan Bryant menatap ke bawah mencoba berpikir keras.
Ingatan akan awal mula kepergian Ara semakin mengusik pikirannya. Rasa bersalah itu, semakin menyiksa batinnya. Tiba-tiba, dadanya seperti ditusuk. Nyeri dan terasa begitu sakit, hingga tubuhnya merosot ke bawah. Sam yang melihat itu, langsung menopang tubuh sang sahabat.
__ADS_1
"Bry, kamu kenapa? Sadarlah." Sam berusaha menyadarkan Bryant yang terlihat seperti orang sekarat. Jujur saja, rasa cemasnya menjadi berlipat ganda, tak ingin terjadi sesuatu pada Bryant.
Sam berteriak meminta tolong, membuat beberapa orang yang berada disekitarnya mendekat. Setelah mendapatkan pertolongan untuk membawa Bryant kedalam mobil. Sam langsung menginjakkan gas, menyetir mobilnya untuk kembali ke rumah sakit yang baru saja mereka kunjungi.
Rumah sakit Bunda Cinta. Sebenarnya itu rumah sakit yang tidak terkenal, tapi menjadi tempat orang-orang sekitar menanyakan keluhan mereka pada dokter yang bertugas di sana. Jarak dari tempat Bryant terkulai ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu sepuluh menit kurang.
Mobil yang harus terparkir di luar, membuat Sam memapah Bryant perlahan untuk masuk ke dalam. Pria itu mengerahkan seluruh tenaganya hingga kemunculan beberapa suster pria segera membantunya. Akhirnya, Bryant bisa segera ditangani oleh salah satu dokter.
Sementara Sam sibuk berjalan mondar-mandir di depan sebuah ruangan. Apa yang tengah ia pikirkan? Pikirannya bercabang. Antara Ara dan Bryant. Belum juga menemukan adik angkatnya, kini harus mencoba untuk bersabar menunggu hasil pemeriksaan kondisi Bryant yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri
Setelah menunggu selama dua puluh menit. Dokter dengan hijab putih keluar dari ruangan itu, "Keluarga pasien!"
"Saya, Dok." Jawab Sam menghampiri si dokter dengan wajah tegangnya.
"Pasien sudah dalam keadaan stabil, tapi Saya terpaksa memberikan obat bius agar pasien bisa beristirahat. Apakah belakang ini, pasien mengalami tekanan batin? Atau memiliki masalah yang begitu berat hingga menyebabkan kondisi psikisnya menurun drastis."
"Saya akan memeriksa keadaan pasien dua jam lagi. Semoga sudah lebih baik, kalau begitu Saya permisi." Dokter berpamitan karena masalah pribadi bukan ranah tempatnya untuk ikut campur, sedangkan Sam memilih untuk masuk ke dalam ruangan rawat Bryant.
Wajah pucat dengan infus di tangan. Dulu, pria yang terbaring itu, tidak pernah sekalipun masuk rumah sakit meski wajahnya babak belur karena berkelahi dengan anak sekolah lain. Bahkan, disaat melihat sahabat melakukan bunuh diri. Kondisinya masih baik, dan hanya terkena guncangan sesaat. Lalu, kenapa hari ini sampai jatuh lemah seperti tidak memiliki harapan hidup.
Sam menarik kursi, lalu duduk. Kemudian meraih tangan Bryant yang terbebas dari infus, "Apa begitu berat masalahmu? Aku ada disisimu, tapi kenapa tidak meringankan bebanmu dengan bercerita padaku. Apa kita ini saudara? Bryant yang ku kenal itu tangguh. Cepatlah kembali, Bry."
"Jangan salahkan aku. Jika karena mu, Aku harus menjadi kakak yang tegas. Ayo, bangun! Bukankah kita harus mencari Ara? Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa menjadi seperti ini."
Sam tidak tahu harus berkata seperti apa. Kepalanya seperti dihantam banyak pertanyaan yang selalu menyembunyikan jawaban. Pria itu lupa, jika siang ini pernikahannya akan dilangsungkan. Jangankan tentang menikah. Perutnya yang terus meronta kelaparan pun, diabaikan begitu saja.
Sementara di dalam hotel. Mama Bella merasa panik ketika gelas yang ia genggam merosot jatuh pecah menjadi beberapa bagian. Perasaan seorang ibu seakan memberitahu, bahwa ada sesuatu yang terjadi pada orang terkasihnya. Akan tetapi, apa yang terjadi dan siapa yang tengah mengalami masalah?
__ADS_1
"Ka, boleh Aku titip Almaira sebentar?" Al masuk kedalam kamar tanpa permisi, niatnya ingin memberikan kejutan pada Bunga dan menitipkan putrinya pada sang kakak ipar satu jam saja.
Sayangnya, ia tak menyangka. Wajah Mama Bella begitu pucat dengan suara dzikir yang lirih. Melihat hal itu, Al meletakkan Almaira ke atas ranjang. Lalu menarik kursi roda kakak iparnya agar menjauh dari pecahan gelas yang tajam. Tatapan matanya menyelidik.
"Kakak kenapa?" tanya Al menangkup wajah sang kakak ipar.
.
.
.
...🤧🍃🍃🍃🍃🤧🍃🍃🍃🍃🍃🤧...
Malem, para pembaca. Aku cuma minta satu aja, andai kalian gak suka cerita yang kusajikan. SKIP AJA.
JANGAN LANJUT BACA. GAK PP, KOK.
cuma jangan main kasih RATE KOMEN BINTANG TIGA, APALAGI SATU.
Jujur saja, seorang author nulis satu Bab itu butuh kerja keras. Saat mood lagi kacau karena masalah dunia nyata. Atau karena kesibukan yang gak bisa dipastikan. Seorang author tahu kewajiban buat update ceritanya.
Setiap karya membawa kisahnya masing-masing. Boleh banget kalian kecewa, mungkin karena cerita tidak sesuai ekspektasi kalian. Tetapi, bukan dengan memberikan rate komen bintang satu.
Seorang author bahkan harus menahan rasa kantuk, melawan penyakit mager hanya untuk melanjutkan karya yang dia buat. Aku gak melarang kalian, ketika tidak menyukai cerita ku.
ATTENTION PLEASE. JUST SKIP. NO RATE COMMENT BINTANG 1⭐ karena itu bikin PENULIS DOWN.
__ADS_1