
"Kamu benar, maaf ...,"
"Apa aku tidak salah dengar?" Seseorang masuk ke dalam kamar, setelah semua apa yang dia dengar. Sungguh hatinya tercubit, bagaimana bisa situasi menjadi serumit itu. "Apa maafmu akan mengembalikan semua kekacauan menjadi baik dan benar?"
Sam dan Bryant serempak menoleh ke arah pintu masuk. Seorang pria dengan penampilan tak rapi lagi, bahkan dua kancing kemeja atas sudah lepas menunjukkan bulu-bulu halus di dada sang paman. Kedatangan Alkan, membuat kedua pria tanggung itu berusaha untuk bernafas dengan teratur. Namun, tetaplah rasanya seperti mengalami krisis kepercayaan.
Al berjalan menghampiri brankar tempat Bryant berada. Jelas sekali kemarahan yang tersorot dari tatapan intimidasi pria itu, membuat suasana semakin menegang. Sam yang memahami situasi akan semakin mencekam, sontak saja memberikan isyarat mata agar para suster dan dokter pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah lima menit terdiam, dan hanya menyisakan tiga pria saja. Al menatap selang infus yang masih mengalirkan cairan, terus turun hingga ke punggung telapak tangan Bryant. Ada darah yang mulai mengering. Itu berarti, sang keponakan melakukan pemberontakan. Jika begitu, Samuel pasti kewalahan menghadapi keras kepala seorang Bryant.
Lirikan matanya berulang kali teralih dari Sam ke Bryant, "Katakan satu hal padaku. Siapa yang bertanggung jawab untuk semua ini? Kamu atau kamu." Al mempertanyakan hanya dengan menatap tajam kearah dua pria dengan usia matang.
"Ini salahku." Tegas Bryant tak ingin menyalahkan orang lain, sebagai seorang pria, dia sadar telah melakukan apa. Sebagai seorang suami, dia pun juga tidak bisa menjaga istrinya. Apalagi menjadi seorang ayah, anak yang belum dilahirkan bagaimana akan menjadi kuat, jika memiliki ayah yang lemah.
Pengakuan yang dilakukan Bryant menghadirkan senyuman tipis yang tersungging di bibir Alkan. Pria itu tidak berniat bersikap tegas dan keras, tapi jika para pria tidak bisa menjaga keluarga. Bagaimana dia akan tenang? Setiap waktu, hidupnya tidak akan selalu bersama keluarga. Kadang kala, ia tahu berada jauh untuk menyelesaikan pekerjaan lain.
__ADS_1
"Bry, Aku tidak akan mengungkit masa lalu karena hidup itu kedepan. Hari ini, satu keputusanmu telah menghancurkan banyak kehidupan. Mungkin kamu tidak ingat. Jika hari ini adalah hari pernikahan Sam dan Ocy. Aku sudah mendapatkan kabar dari keluarga, dan menjelaskan situasi yang tengah kita alami."
"Om, bukan maksud Sam untuk kurang ajar, tapi aku akan tetap menikah dengan Ocy, sedangkan urusan pernikahan. Aku sudah jujur akan keadaan saat ini ....,"
Bryant meringis menahan denyut yang menyesakkan jiwa. Apa dia seburuk itu? Di hari pernikahan saudaranya, justru menjadi beban yang menyusahkan. Setelah apa yang terjadi, nyatanya Sam masih berdiri di sisinya dan memberikan dukungan. Lalu, bagaimana dengannya? Sungguh miris karena dia melupakan banyak tanggung jawab dalam setiap hubungan.
Al mengangkat tangannya menghentikan pembelaan yang dilakukan oleh Samuel. Apa arti sebuah pembelaan? Ketika semua sudah berlalu, saat ini yang harus dilakukan adalah bagaimana cara memperbaiki situasi yang ada. Setelah berpikir sejenak, akhirnya sebuah pencerahan memberikan jalan.
"Sam, kembalilah ke hotel! Bryant biar aku yang jaga." Al memainkan jari telunjuknya memberi isyarat penolakan, ia tahu Sam akan membantah dirinya. "Di hotel memerlukan kedua calon mempelai. Pernikahan boleh tertunda, tapi jangan biarkan rasa malu dan penghinaan jatuh ke hati Ocy."
"Sam, maaf, tapi Om Al benar. Pergilah. Aku akan baik-baik saja, dan tidak akan membuat ulah. Kembalilah ke hotel dan jadilah pria yang bertanggung jawab. Jangan seperti aku ....," ujar Bryant, tetapi Sam menghentikannya dengan menggelengkan kepala. "Pulahlah. Setidaknya kita bisa menjadi
Tidak ada yang bisa dikatakan lagi. Nasehat Om Al memang benar. Dia tidak boleh egois dengan memberatkan satu hubungan, tapi mengabaikan hubungan lain. Jika dia bisa menjaga Bryant di saat terpuruk. Kenapa tidak melakukannya untuk Ocy yang akan menjadi istrinya? Dia sadar, apa yang menjadi pilihan hari ini akan memiliki akibat yang mungkin saja tidak baik.
"Aku akan pulang ke hotel dan memenuhi tanggung jawab ku. Om, bisa temui dokter. Bryant tidak boleh dibiarkan sendiri, Aku pamit dulu." Sam berpamitan, langkah kakinya berjalan mendekati meja hanya untuk mengambil ponselnya, lalu kembali berjalan untuk menuju pintu keluar, sedangkan Al menghitung angka di dalam hatinya.
__ADS_1
Ketika hitungan mencapai sepuluh terdengar suara pintu terbuka, lalu tertutup kembali. Keheningan itu masih tetap bertahan hingga suara dering ponsel membuyarkan suasana yang sunyi senyap. Al mengambil ponsel dari saku celananya. Ternyata sebuah pesan dari salah satu anak buahnya. Pesan yang memberikan beberapa informasi penting.
"Om, apa ada masalah lain?" tanya Bryant mencoba menghilangkan rasa canggung yang membuatnya merasa tak nyaman, tetapi lirikan mata sang paman. Sungguh hanya menjadi helaan nafas panjang. "Om Alkan marah, ya?"
"Bry!"
Al menekankan panggilannya agar sang keponakan diam untuk beberapa waktu karena saat ini. Dia tengah mencerna semua informasi yang terlihat cukup ambigu dengan petunjuk arah yang tidak tepat dan benar. Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi apa? Tragedi kecelakaan yang terjadi di depan hotel, dengan pencarian yang dilakukan oleh Bryant dan Samuel. Kenapa rangkaian semua peristiwa itu, seperti ganjil.
"Bry, kenapa Ara pergi meninggalkan hotel?" tanya Al tanpa basa-basi, bahkan tidak juga menatap wajah Bryant yang berubah menjadi lusuh seperti pakaian tidak disetrika.
"Ara pergi. Setelah menerima telfon dari Hazel. Aku tidak tahu, apa yang Hazel katakan, tapi wajah istriku terlihat begitu terkejut. Ara mempertanyakan, siapa dia, bagiku dan juga mengingatkan. Bahwa dia hanyalah boneka yang aku beli. Kurang lebih seperti itu." jawab Bryant lirih meski cukup terdengar jelas di telinga Alkan.
Jika itu yang terjadi. Dia harus menemukan dimana siluman cicak berada saat ini. Tidak peduli dengan resiko yang akan dihadapinya, tetapi semua harus jelas. Bisa saja, kecelakaan Ara di sebabkan oleh mantan istri keponakannya. Hanya saja, sekarang, jika dia meninggalkan Bryant sendirian. Akan terjadi masalah lain.
"Bry, mau lakukan sesuatu untuk Om?" Al mengalihkan perhatiannya, ponsel itu ia sembunyikan ke tempat semula. Lalu mengulurkan tangan kanannya, "Berjanjilah untuk tetap di kamarmu. Apa kamu bisa melakukan ini, untukku, dan keluarga kita?''
__ADS_1
Bryant menaikkan satu alisnya, ia tak mengerti. Sang paman meminta sebuah permintaan atau justru mengikatnya dengan janji, bahkan jika mengatakan untuk berkorban. Ia tidak akan menolak. Ntah apa yang direncanakan sang paman. Saat ini, dia tak ingin menjadi beban, maka ia memilih menyambut tangan yang kasih menggantung diudara dengan kepasrahan.