Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 179: Rumah Sakit Medika


__ADS_3

Setelah menyelesaikan administrasi. Darren membawa Ara ke rumah sakit rujukan tanpa menunggu wanita itu sadar. Apapun akan dia lakukan, agar pujaan hatinya kembali pulih dan bisa hidup dengan normal. Hari ini, kehidupan tenang di Villa berakhir.


Suara ambulance membelah jalanan perkotaan. Proses pemindahan berlangsung tanpa kendala yang berarti hingga memasuki pelataran rumah sakit Medika. Rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Seakan takdir ingin menyatukan cinta. Disaat bersamaan. Bryant juga standby di rumah sakit tersebut.



Yah, rumah sakit itu adalah tempat Mama Bella dirawat. Hari ini, berita baik di dapatkan. Dimana sang Mama sudah kembali sadarkan diri. Tentu saja, membuat seluruh keluarga berkumpul ditempat yang sama. Ruangan khusus yang dipesan Om Al.



"Assalamu'alaikum, semuanya." Laungan salam. terdengar bersamaan pintu ruangan terbuka menampakkan wajah seorang pria yang membawa sebuket bunga.



Tatapan mata semua orang teralihkan ke arah pintu, "Wa'alaikumsalam. Kenapa baru sampai Bry? Bukankah ini terlalu lama dari ....,"



"Sorry, tadi ban mobilku kempes tiba-tiba." Bryant memotong keluhan Sam yang memberikan tatapan menyelidik, "Bunga untuk Mama tercinta. Alhamdulillah, Bryant seneng bisa lihat senyuman Mama lagi."



'Nak, kenapa repot bawa bunga? Mana Ara? Mama kangen istrimu, Bry." Tukas Mama Bella yang menghadirkan sembilu tajam di benak sang putra.



Bagaimana akan mengatakan. Jika Ara hilang selama ini, dan ketika harapan datang. Justru cahaya itu kian meredup menjadi kegelapan. Sungguh serba salah. Bryant mencoba menetralisir emosi yang membelenggu jiwanya. Di sisa keberanian, ia merengkuh tubuh sang Mama.



"Ma, maafin Bryant karena sebagai seorang suami tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Aku tidak tahan lagi untuk menanggung semua duka ini," Bryant menghembuskan nafas kasar, lalu, "Saat ini, Ara tengah melakukan pemulihan pasca keguguran."



"What's?!" Seru semua orang yang mendengar penuturan Bryant terkejut tiada kira.



Kenapa tiba-tiba. Pria itu mengatakan omong kosong sebesar itu? Padahal semua tahu, jika Ara masih belum ditemukan. Sayangnya, sikap dingin dengan tatapan mata nanar. Menyentak kesadaran semua orang hingga saling pandang.



Apakah itu artinya, Ara telah ditemukan. Jika iya, dimana wanita itu berada saat ini? Tatapan penuh tanya, tak mengubah luka yang Bryant rasakan. Ingin sekali berlari kembali ke villa, lalu membawa Ara pulang bersamanya. Namun, cinta dimata Darren semakin menambah penyesalan yang pernah dilakukannya.

__ADS_1



Usapan tangan lembut bersambut senyuman tulus sang Mama, memberikan kesejukan di tengah badai yang menerpa. Percuma jika mengeluh karena semua yang terjadi tidak bisa diubahnya. Dirinya telah meninggalkan wanita itu, ditangan pria yang tepat.



"Nak, pulanglah. Ara membutuhkan dirimu. Ingat, di saat seorang wanita mengalami penderitaan kehilangan calon bayinya. Maka, kesehatan mental dan emosi harus dijaga. Mama tidak mau, menantuku mengalami tekanan emosional hingga menjadi trauma."



"Ayo, Bry. Aku akan antar kamu pulang. Jangan sampai karena fokus ke tempat lain, malah terjadi hal yang tidak diinginkan." Sambung Samuel dengan maksud lain, ia sadar ada hal yang tidak beres.



Bryant tidak menolak. Apalagi membantah. Terlebih tatapan Mama Bella sungguh membuatnya pasrah tanpa kata. Langkah kaki menjauh meninggalkan ruangan khusus itu, tentu saja ditemani Samuel yang bersikeras.



"Bry, apa yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya Sam tanpa melihat kanan dan kiri, dimana keduanya tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah pelan seakan tak memiliki tenaga.



Alih-alih menjawab. Bryant justru menghentikan langkah kakinya, lalu duduk dengan wajah lesu. Suara helaan nafas terdengar begitu jelas, membuat Samuel ikut duduk disebelah pria yang nampak tak memiliki semangat hidup lagi.




Tahu bagaimana hembusan angin? Yah, terabaikan. Begitu juga dengan pertanyaan serta kesabaran Samuel untuk menghadapi sahabatnya. Meski hanya memiliki kemungkinan satu persen. Tetap saja dilakukannya dengan sebuah harapan yaitu mendengar kebenaran.



Lima belas menit berlalu. Namun, Bryant masih menangkupkan tangannya menyembunyikan wajahnya yang kusut. Sam masih tenang dengan pikiran positif hingga tatapan matanya yang berpendar ke sekeliling. Malah tidak sengaja melihat siluet seorang pria yang dikenal.



"Bry, bukankah kamu baru saja bertemu dengan Darren?" tanya Sam spontan, sontak saja dilepaskannya kedua tangan dari wajah. Kemudian menoleh ke arah sang sahabat tapi yang ditatap justru fokus ke arah lain.



Bryant mengikuti arah tatapan Samuel. Di depan sana hanya ada beberapa suster yang tengah berbincang dengan seseorang. Orang yang berdiri membelakangi dan juga setengah tubuhnya terhalangi seorang dokter. Jadi tidak jelas siapa keluarga pasien yang tengah berdebat dengan team media itu.


__ADS_1


"Ada apa disana? Kenapa kamu menatap se-intens itu, Sam." Bryant menegur Samuel bahkan secara reflek tangannya terangkat menepuk bahu sahabatnya itu.



Samuel menunjuk ke arah pria yang sibuk berbincang dengan team medis. "Darren, ngapain anak itu disini? Papa nya sudah dipulangkan, bahkan tengah melakukan terapi khusus."



Memang benar. Jika kabar Tuan Wiratama tengah menjadi rawat jalan, bukanlah hal baru lagi. Sebagai rekan bisnis. Maka sudah sewajarnya tahu kehidupan dari partner kerjanya. Namun, ketika Sam mengucapkan nama Darren. Ada sesuatu yang siap mencuat dari dasar lubuk hatinya



"Darren?" tanya Bryant memastikan, tatapan matanya fokus ke depan.



Takdir selalu mempertemukan jalan kehidupan. Disaat Bryant mencoba untuk menghilangkan pikiran negatifnya, dokter dan para suster meninggalkan Darren sendirian. Pria itu berbalik, membuat tatapan matanya terpaku pada netra sang sahabat. Tidak ada suara lonceng seperti di film, tetapi keheningan menyapa menghilangkan semua suara.



Gumaman di bibirnya jelas menyebutkan nama Bryant, begitu juga dengan Bryant yang mengucapkan nama Darren. Seperti pertemuan setelah perpisahan lama. Kedua pria itu berjalan saling mendekat, layaknya magnet dengan daya tarik menarik yang kuat.



Aneh sekali kelakuan dua pria itu, membuat Samuel beranjak dari tempat duduknya. Lalu mengikuti langkah Bryant dari belakang. Tatapan mata yang saling terpaku, hingga isyarat tubuh mengatakan banyak hal. Tiba-tiba saja, kedua pria itu saling berpelukan seperti teletubbies.



"Apa mereka masih normal?" Gumam tanya Sam pada dirinya sendiri. "Ekhem! Apa yang kalian lakukan? Ini rumah sakit."



Terabaikan.



Apapun yang Sam ragukan. Sama sekali tak mengubah emosi kedua pria itu hingga sebuah bisikan dari Darren. Justru membekukan tubuh Bryant. Pelukan itu terlepas begitu saja. Ditatapnya wajah sahabat yang ia percaya untuk menjaga Ara.


Tidak ada sorot mata penipuan.


"Dimana Ara?" tanya Bryant dengan suara tertahannya.


Pertanyaan yang menusuk menyentuh gendang telinga Darren. Bibirnya kelu untuk sekedar mengatakan. Jika Ara tengah dirawat, alih-alih menjelaskan. Tangannya terangkat menunjuk lorong di sisi kiri. Dimana salah satu ruangan yang ada di barisan itu adalah tempat Ara terbaring lemah tak berdaya.

__ADS_1


"ARAAA!"


__ADS_2