Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 69: KEHEBOHAN DAN KEKHAWATIRAN


__ADS_3

"Ayolah, Bro, angkat. Kamu kemana, sih? Kok nggak angkat-angkat. Jangan buat aku khawatir," Muel berusaha untuk menghubungi Bryant. Akan tetapi, setelah berulang kali tetap saja tidak ada yang menjawab. Sontak ia pun merasa khawatir.


"Sebaiknya, aku, hubungi tante Bella saja. Semoga Tante mau langsung menjawab teleponku," Muel mengalihkan telepon ke nomor tante Bella. Hitungan detik panggilan langsung terjawab suara sapaan dari seberang membuat pria itu bernafas lega, "Selamat pagi, Tante. Apa kabar, sudah lama tidak bicara dengan Tante ku yang cantik."


"Pagi juga, Muel. Wah dokter ganteng pagi-pagi sudah menghubungi tante. Ada apa, Nak. Kenapa pagi-pagi sudah call, tumben sekali. Bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak main kerumah," balas Tante Bella dengan antusias karena dokter yang sekaligus sahabat putranya menghubunginya.


"Aku, baik, Tante dan baru kembali dari tempatku bekerja di luar kota. Boleh tidak, Tante, panggilankan Bryant. Muel sudah usaha untuk menelponnya, tapi benar-benar tidak diangkat. Ntah kemana anak itu pergi," Muel berusaha setenang mungkin agar tidak membuat khawatir Tante Bella.


"Boleh banget buat putra dokter ku. Tunggu sebentar, ya. Mama akan datang ke kamar Bryant." Jawab tante Bella sembari menggerakkan kursi rodanya melalui remote control, wanita itu memasuki lift khusus yang dibangun untuk dirinya agar bisa mencapai lantai dua.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian. Wanita itu sampai di kamar sang putra, tapi pintu masih tertutup rapat. Ia juga memegang kunci duplikat yang selalu bersamanya dan disengaja ia bawa kemana-mana. Tanpa menunggu lama wanita itu memutar knop pintu. Tentu saja setelah membuka kuncinya. Tepat di saat pintu terbuka, Mama Bella terkejut melihat apa yang ada di depan mata. Tubuh Sang putra terkapar di bawah lantai dengan foto-foto yang berserakan.


"BRYANT!" Teriak Mama Bella membuat semua orang terkejut.


Al, yang memang kamarnya bersebelahan dengan sang keponakan. Pria itu langsung bergegas keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi dan kenapa kakak iparnya berteriak begitu kencang. Untung saja kamarnya masih dalam mode bukan kedap suara. Begitu juga dengan sang suami Bella, Angkasa dimana pria itu yang sedang berada di taman bergegas berlari memasuki rumah.


"Kak, ada apa? Kenapa berteriak." tanya Al dengan tergesa-gesa.


Pria itu berlari keluar rumah tanpa memberitahukan apapun. Sikap Muel yang mencurigakan, membuat ketiga wanita saling pandang.

__ADS_1


"Ocy, kemana Kakak akan pergi? Aku merasa terjadi sesuatu yang emergency. Ayo, kita menyusul, Ka Muel." Ara meminta dengan perasaan semakin tak tenang.


"Oke. Ayo, kita pergi menyusul. Aku tahu ke mana kita harus pergi. Kinara kamu tetap di rumah. Aku ingin, kita berbagi tugas," ucap Ocy dengan serius.


Kinara mengangguk paham. Dia juga tak ingin kembali menjadi patung di antara keharmonisan keluarga. Setidaknya saat ini memang Ocy yang dibutuhkan Ara dan entah ke mana mereka semua akan pergi. Saat ini yang ia pahami adalah tengah terjadi sesuatu dan mungkin itu memang harus diketahui semua orang yang bersangkutan.


Muel mengendarai mobilnya begitu cepat. Begitu juga dengan Ocy, tapi wanita itu masih memiliki kesadaran. Dia tidak ingin membahayakan istri sang majikan. Jadi hanya melajukan mobil sedikit lebih pelan dari biasanya. Hal itu membuat Ara semakin gelisah, "Ocy, bisa lebih cepat? Aku merasa semakin gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa, kakak begitu cepat mengendarai mobilnya."


Tatapan mata khawatir terlihat jelas dari mata Ara. Ntah kenapa feelingnya benar-benar buruk. Ada rasa sesak di dalam hatinya. Ia merasa ada yang terjadi diluar sana. Perjalanan itu semakin cepat hingga selama tiga puluh menit akhirnya sampai di depan sebuah rumah mewah.

__ADS_1


"Ayo, turun. Kita sampai," ajak Ocy membuka pintu mobilnya.


__ADS_2