Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 118: ARA DAN DARREN - NGELAMAR


__ADS_3

"Teriak lah! Siapa yang melarangmu."


Ada yang memberi jawaban tanpa diminta dan seketika Ara menoleh ke arah suara itu. Seorang pria dewasa dengan tinggi setidaknya hampir sama seperti Bryant, tapi saat mengamati sekilas. Tiba-tiba, ada tanda luka yang sangat ia kenal. Sebuah luka seperti terkena benda tajam di lengan tangan kiri. Luka itu mengingatkannya pada seseorang.


Meski seperti mengenal, Ara tetap kembali menatap danau dan tidak berkata apapun. Tindakan wanita itu cukup mengejutkan bagi Darren. Jujur saja, baru kali ini ada wanita yang begitu cuek, bahkan tidak melirik pada ketampanan yang ia miliki. Aneh bin ajaib. Wanita seperti itu hanya ada satu banding seribu. Sungguh unik, tapi gengsi juga untuk mengajak kenalan.


Meski jarak begitu dekat. Keduanya kembali diam seperti patung tak bernyawa. Yah, namanya juga orang asing. Pasti seperti itu. Keheningan itu menjadi ketenangan, membuat Ara yang memang kondisi mengikuti mood seorang bumil. Wanita itu justru mulai merasa mengantuk. Mata yang semakin menyipit dengan bibir manyun.


"Kembalilah ke keluargamu. Jangan sampai terjatuh ke danau," cetus Darren, membuat Ara kembali terjaga, "Jangan tidur di tepi danau."


"Makasih," Ara beranjak dari tempatnya, tapi tatapan mata masih saja memastikan luka di tangan kiri Darren. Sontak saja pria itu menurunkan lengan kemejanya, membuat Ara semakin berpikir, "Apa kita pernah bertemu?"


Darren menaikkan satu alisnya, lalu menggeser posisi tubuh, kemudian menatap Ara. Wajah manis dengan pipi yang chubby, "Benarkah? Dimana?"


"Entahlah, luka di tanganmu itu...," ucap Ara terhenti karena ia mengingat sesuatu yang menyakitkan, kenangan itu masih tersimpan rapat di dalam hatinya.


Tingkah yang ambigu dengan wajah penuh misteri. Sungguh menjadi tanda tanya yang besar. Namun, Ara memilih untuk berjalan meninggalkan Darren. Dimana pria itu menggulung kemejanya dan menatap bekas luka yang selalu menjadi tanda persahabatan diantara dia dan seseorang yang hingga detik ini masih menjadi ratu di hatinya.


"Sudahlah, mana mungkin ada yang tahu kisah luka ini. Dia tidak akan kembali, meski aku berdoa ribuan kali. Ayolah, move on Darren," gumam pria itu kembali menikmati pemandangan danau dan melepaskan semua pertanyaan yang tidak seharusnya singgah kembali, sedangkan Ara sudah kembali bersama para wanita.

__ADS_1


Ara dan Darren. Ada apa di balik luka itu? Apakah keduanya saling mengenal? Jika iya, kenapa tidak saling mengingat? Apakah semua hanya kebetulan atau memang kedua insan itu adalah orang asing. Ntah apa yang menjadi garis takdir. Kini keduanya kembali ke tempat masing-masing. Dimana kehidupan mereka berjalan. Siapa yang tahu hari esok?


Hari ini menjadi hari piknik keluarga Putra. Dimana kebersamaan keluarga terasa begitu lengkap. Bryant yang berdampingan dengan Ara, Alkan berdampingan dengan Bunga, Mama Bella berdampingan dengan Papa Angkasa, dan Samuel bersama Ocy. Meski Kinara hanya seorang diri, tetap saja tidak merasa kesepian. Keluarga itu benar-benar merangkul dirinya sebagai anggota keluarga juga.


"Nak, kapan kita akan adakan syukuran untuk kehamilan Ara?" tanya Mama Bella dengan lirikan mata ke arah Samuel.


Bryant yang sibuk menjadi sandaran sangat istri tersenyum, ia tahu. Jika, sang mama tengah berusaha untuk menyindir sahabatnya, "Kenapa buru-buru, Ma? Pernikahan harus dilangsungkan, siapa tahu nanti ada yang nyusul punya anak. Jadi bisa buat acara syukuran double. Iya gak, Bro?"


"Uhuk! Kurang asem, ngapain pake nampol lengan juga? Keselek tahu," komplain Samuel seraya menerima gelas air putih yang diulurkan Ocy, "Makasih, Ay."


"Udah panggil Ay, aja nih. Mau dipanggil kan pak penghulu sekalian, gak?" tanya Om Al ikut meledek Samuel, membuat pipi Ocy merona merah.


"Sttt! Ocy malu, kasian. Jangan ledekin trus," Samuel meraih tangan kekasihnya, lalu menatap mata yang beberapa waktu menjadi alasannya untuk tetap tersenyum, "Bodyguard yang bawel dan juga nyebelin. Maukah kamu menjadi istri dan calon ibu dari anak-anak ku nanti?"


Ocy tertegun dengan pernyataan Samuel. Dirinya memang tidak begitu menyukai romantis, tapi gak dingin juga kaya es batu. Nasibnya benar-benar gak salah. Julukan untuk babang dokter tampan memang tepat. Begitu juga dengan anggota yang lain. Tatapan mata tajam dan siap mengomel dengan sikap Samuel yang absurd. Mana gak ada bunga, apalagi cincin buat melamar. Anak satu itu harus dikasih pelajaran.


"Aku bawel dan nyebelin, ya?" tanya Ocy pelan, tapi menyindir, membuat Samuel menganggukkan kepala tanpa rasa bersalah, "Cari aja yang manis, aku gak mau jadi obat pegal linu."


Shock. Yah begitulah reaksi Samuel. Apa arti dari obat pegal linu? Ini kan lamaran, bukannya lagi promo produk obat-obatan. Emang ada yang salah, ya? Sikap Sam yang tak peka, membuat Mama Bella tak mampu menahan tawa. Sementara Bunga langsung mengambil bungkus snack yang digulung-gulung, lalu di lempar tepat mengenai pundak si pelamar.

__ADS_1


Para pria memilih untuk diam, bukan karena tidak peduli. Akan tetapi, mereka ingin membiarkan Samuel menjalani fase ini seperti impiannya selama ini, sedangkan Ara tak tega melihat situasi kakaknya. Wanita itu mengingat memiliki sesuatu yang selalu bersama nya, "Mas, boleh ajak Ka Samuel ngobrol sebentar?"


Bryant mengusap kepala Ara, membuat wanita itu tersenyum manis. Kemudian tanpa permisi menarik lengan Samuel. Keduanya menjauh dari tempat keluarga mereka berada. Sejenak menikmati suasana sekitar. Pria itu tak paham dengan sikap adiknya, tapi tak ingin berkomentar sebelum tahu keinginan dari sang adik.


"Duduklah!" Ara mengarahkan Samuel untuk duduk di kursi kayu yang tersedia di beberapa tempat, lalu ia sendiri memilih untuk tetap berdiri, "Apa kakak mencintai Ocy?"


Samuel mengangguk, "Saat ini, kakak tidak berpikir terlalu jauh. Hati ini percaya, jika Ocy bisa menjadi pelengkap di dalam hidup ku yang tidak sempurna. Apa Ara tahu, sebelum ini, ada seorang wanita yang sangat begitu aku cintai. Hanya saja, dia seorang pengkhianat. Kehidupan mengajarkanku untuk memilih dengan hati-hati, tapi Ocy berbeda."


Samuel menjeda ucapannya. Sesaat menikmati kesejukan udara untuk mengembalikan ketenangan di dalam hati dan pikirannya. Rasa sesak akan masa lalu perlahan berubah menjadi keikhlasan. Kini, semua sudah baik. Tidak ada lagi rasa takut untuk melangkahkan kaki. Tidak ada lagi beban untuk memulai dunia yang baru.


"Ocy adalah satu wanita yang mampu bertahan dengan semua kekurangan ku. Dia tidak pernah memandangku seperti pria nakal. Meski tahu, kehidupan ku memang tidak lurus. Kepercayaan dan cintanya selalu bertambah setiap waktu. Dulu, aku benar-benar merasa jengah. Setiap kali melihat sikap absurd dan godaan seperti anak kecilnya, tapi sekarang. Aku bersyukur karena Ocy mau bersabar dan membuktikan cinta itu sederhana.''


Ara tersenyum mendengar ungkapan hati Samuel. Tanpa pria itu sadari, jika adiknya juga melakukan sesuatu agar bisa mengabadikan setiap momen yang berharga. Wanita itu merekam perbincangan mereka dengan bantuan ponsel dari Mama Bella. Setelah mendengarkan dengan seksama. Barulah ia mengambil sesuatu dari kalung yang selalu bersembunyi di balik pakaiannya.


"Lamarlah Ocy dengan cara yang benar. Ini akan membantu kakak," Ucap Ara seraya memberikan sebuah cincin emas putih yang memiliki ukiran sederhana ke Samuel.


Sam menerima cincin itu dan memperhatikan desain yang terlihat tidak asing, "Apa Bryant memberikan ini untukmu?"


"Tidak, Ka. Cincin ini milikku. Selama ini memang aku sembunyikan, tapi hari ini rasanya ingin memakainya saja. Apa ada yang salah?" Ara bertanya balik karena heran dengan reaksi dari kakaknya.

__ADS_1


Rasa khawatir perlahan menyergap dan untuk memastikan. Samuel memeriksa cincin itu dengan seksama. Betapa terkejutnya dia. Ketika melihat simbol inisial yang memang seperti dugaannya. Cincin itu berasal dari sebuah tempat dan didesain oleh seseorang. Namun, darimana Ara mendapatkan cincin langkah seperti yang ada di tangannya? Lagipula untuk memiliki perhiasan itu, orang harus mengeluarkan uang yang cukup banyak.


"Ara, jujur padaku. Cincin ini milik siapa?"


__ADS_2