
"Katakan sekali lagi!" titahnya mencoba untuk tetap berpikir positif.
Ara menarik tangannya, lalu kembali berbalik menatap angkasa malam. Tatapan mata yang kosong menyisakan sembilu hati. "Bayi yang kamu harapkan. Calon pewaris keluarga Putra telah keguguran akibat kecelakaan yang kualami."
Runtuh sudah rasa yang baru menyentuh hati. Suara Ara lirih, tetapi terdengar seperti suara kilatan petir yang menyambar. Nyatakah? Benarkah? Bagaimana mungkin itu terjadi. Tubuh kekar tak lagi meninggalkan kekuatan. Luluh jatuh tak berdaya.
Bryant terjatuh dengan sisa kesadarannya. Sungguh pilu, hati terasa ditikam. Sakit tak berdarah. Bayi yang menjadi harapan keluarga, kini tak lagi bisa direngkuhnya. Suara itu, layaknya malaikat pencabut nyawa.
"Bayi kita ... Kamu pasti bohong. Iya 'kan?" tanya Bryant dengan suara gemetar membayangkan semua itu nyata, namun Ara berbalik.
Kehancuran yang terlihat dari mata Bryant, membuat Ara ikut mensejajarkan diri. Tidak ada kata, dibimbingnya tangan kekar pria itu mengusap perut ratanya. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Apalah arti kata, ketika semua hanya menjadi ingatan semu.
Jatuh tanpa rasa. Bryant tidak merasakan kehangatan dari Ara, ia hanya bisa melihat kehampaan dan kesendirian. Jatuhnya air hujan dari kedua pelupuk mata sang istri mengakhiri segalanya. Kini hati tak mampu menanggung derita.
Ntah siapa yang memulai. Pasutri itu saling merengkuh tubuh membenamkan diri dalam pelukan luka. Temaram malam menenggelamkan duka, namun hati tak seorangpun tahu. Ditemani air mata, rembulan menjadi saksi rasa kehilangan keduanya.
Keesokan harinya. Darren seperti biasa, sebelum bersiap ke kantor. Dia akan menemui Ara untuk memberi sarapan dan obat yang harus diminum rutin. Langkah pria itu selalu semangat ketika menyiapkan sarapan untuk sang pujaan hati. Setiap waktu yang didedikasikan atas nama cinta.
"Bi, kalian pergi saja. Aku hari ini libur, jadi kalian bisa berbelanja bulanan." Kata Darren tak ingin merepotkan bibi hanya karena menunggu dirinya masak.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Permisi, tapi Tuan. Kemarin Nona Ara ingin buah strawberry. Apa kami harus membeli banyak stock kali ini?" tanya Bibi tanpa sungkan, membuat Darren tersenyum mengedipkan mata.
Setelah melihat punggung pelayannya menghilang dari balik pintu dapur. Darren kembali memotong sayuran yang akan dimasak tumis. Tangannya begitu cekatan ditemani senyuman yang terus tersungging membuat wajah tampan pria itu terlihat begitu bersinar.
Pepatah lama memang benar. Dimana berkat cinta. Maka, tak seorangpun akan merasakan duka karena cinta pemicu kebahagiaan. Bukan hanya itu saja. Ketika seseorang jatuh cinta. Maka seluruh masalah terasa begitu kecil, mood selalu baik seperti mekarnya bunga sakura. Indah, menawan dan menggoda.
Seperti virus yang bisa menyebar seluruh penjuru tanpa diminta. Namun, cinta akan selalu berlabuh dalam dua jalan. Dimana satu jalan untuk penyatuan hubungan, dan satu jalan lain untuk perpisahan. Hari ini, cinta menjadi cahaya, tetapi esok? Siapa yang akan tahu, lika-liku takdir yang digariskan Allah.
Tiga puluh menit kemudian. Masakan akhirnya jadi, tapi kali ini. Darren menyiapkan sarapan bersama di bawah karena dia ingat ada Bryant juga. Aroma masakan yang menggoda menyebar ke seluruh ruangan. Harum menggelitik hingga perut siapapun akan keroncongan.
Lihat saja, diatas meja sudah tersaji tumis capcay campur, sop ayam, sambel cabe rawit yang merah dan juga udang tepung crispy. Menu makan pagi yang lengkap. Tak menunggu lama, langkah pria itu menapaki anak tangga. Naik terus naik hingga mencapai lantai atas.
Tanpa mengetuk pintu, diputarnya knop pintu. Lalu didorong ke depan, kamar itu nampak gelap. Meski secercah sinar mentari memberikan sedikit cahaya. Tetap saja, membutuhkan cahaya lebih. Tanpa meminta persetujuan. Ditekannya saklar sisi kanan dekat pintu.
Awalnya semua baik dengan emosi cinta yang membahagiakan. Seketika aliran darah memanas hingga ke ubun-ubun. Tatapan matanya terpaku dengan pemandangan luar biasa menyesakkan. Selama ini, dia menjaga Ara, tetapi dengan mudahnya Bryant menikmati pelukan pujaan hatinya.
Di depan mata, kedua lawan jenis itu terlelap sembari saling memeluk. Sakit tiada tara. Bagaimana bisa seperti itu? Apa maksud semua itu? Pengkhianatan macam apa? Tangan Darren mengepal, tanpa kata langkah kakinya meninggalkan kamar tamu, bahkan pintu masih terbuka dengan lampu yang menyala.
__ADS_1
Kepergian Darren berteman amarah. Sementara Ara masih terlelap seakan sudah lama tidak bisa tidur nyenyak, namun tidak dengan Bryant. Pria itu langsung membuka mata setelah suara langkah kaki terdengar semakin menjauh. Bukan tidak tahu kedatangan sahabatnya, tetapi dia ingin memastikan sesuatu.
Apakah Darren akan langsung bertindak kasar, atau justru memilih pergi bersama rasa yang pasti meledak. Sekarang, dia paham. Jika sahabatnya mencintai Ara tanpa syarat dan siap berkorban, tetapi kenyataan itu seperti belati. Dilepaskannya tubuh Ara agar tidak terganggu dengan pergerakannya.
"Aku pergi. Jaga dirimu. Aku memang mencintaimu, tapi Darren lebih mencintaimu. Jika aku egois hari ini, maka kehidupan kita bertiga akan hancur. Aku akan menyelesaikan semuanya, dan memberi kebahagiaan yang pantas kamu dapatkan."
Dikecupnya kening Ara, kecupan terakhir sebagai perpisahan. Bukan hanya sadar diri, tapi ketika ini tentang cinta. Maka, sebagai orang baru. Dirinya tahu, Darren lebih berhak karena sahabatnya itu rela berkorban dan bisa melindungi wanita yang menjadi pusat kebahagiaan.
Langkah pelan, menjauh dari ranjang. Bryant tak kuasa untuk meninggalkan Ara tetapi keputusannya sudah tepat dan paling benar. Pria itu tak berpikir. Apa yang dimau Ara? Apa isi hati wanita itu? Jangankan bertanya dulu, bahkan menoleh saja tidak.
Pintu kamar kembali tertutup, langkah yang menjauh menuruni anak tangga dengan tatapan mata berpendar mencari sang pemilik villa. Setelah ke sana kemari. Akhirnya siluet pria yang selalu menjadi sahabatnya ditemukan. Darren tengah berdiri di depan kebun matahari di bawah sebuah pohon oak.
"Darren!" Panggil Bryant, sontak membuat pria di depannya berbalik dengan mata merah tangan bersedekap. "Listen me."
"Bawalah dia pergi." ucap Darren tegas dengan suara gemeretak.
Begitu jelas saat ini, pria itu tengah menahan emosinya. Namun, bukan itu yang diinginkan Bryant. Tak ingin memperpanjang perdebatan. Bryant menarik nafas, lalu. "Cinta ku, tidak sebesar cintamu. Aku telah menjadi pria tidak bertanggung jawab. Darren, aku titipkan Ara padamu. Selamat tinggal."
__ADS_1
Perpisahan kembali terjadi, tetapi kali ini menjadi dua perpisahan sekaligus. Setelah memberikan pelukan terakhir. Bryant pergi meninggalkan Villa, membuat Darren terkulai lemas. Hati yang membara seketika tersadar. Persahabatan diatas cinta, namun ini tidak adil. Jika memang keduanya saling mencintai, kenapa tidak melakukan sportif kompetisi saja?
Bukan hanya Darren yang terkejut akan semua itu. Dibalik pintu, Ara mendengar semuanya. Wanita itu menjatuhkan diri, tubuhnya melorot ditemani hujan air mata yang mengalir begitu deras. "Kenapa, Mas? Apa aku ini barang yang bisa kamu berikan secara sukarela."