
Pria itu menyemangati dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa dilakukannya, selain memperkuat kepercayaan pada hati dan pikiran. Apapun cobaan akan dihadapi dengan berani.
Helaan nafas panjang dengan mata yang mulai terasa berat, membuat pria itu merebahkan kepalanya ke sisi brankar yang menjadi tempat pembaringan Ara. Darren mencoba untuk istirahat sejenak. Setelah melakukan banyak hal selama beberapa hari, baru hari ini, dia bisa duduk dengan tenang.
Tak jauh dari ruangan, dimana Ara dirawat. Sam yang baru selesai membersihkan diri keluar dari kamar mandi, lalu mengambil makanan di atas nakas. Ia sadar diri, jika tidak menjaga kesehatan. Lalu siapa yang akan menjaga keluarga? Apalagi situasi semakin memburuk. Bryant masih terlelap dalam pengaruh obat tidur.
Sesuap makanan masuk ke dalam mulutnya. Makanan yang sama sekali tidak memiliki rasa. Bukan karena makanan itu tidak enak, tetapi perasaannya mempengaruhi dari rasa yang tidak dia rasakan. Baru saja menghabiskan beberapa suap. Ponselnya berdering. Hampir saja lupa, ia melupakan benda mati itu.
Diraihnya ponsel, dan ketika layar ponsel menyala. Terlihat beberapa notif pesan dan panggilan dari keluarganya. Terutama Om Al. Bagaimana dia akan menjelaskan? Bryant saja masih tidak sadarkan diri. Tiba-tiba layarnya kembali menyala dan sebuah nama menyadarkan Sam. Nama yang kini siap menjadi pasangannya. Nama itu, benar-benar hampir terabaikan.
"Astafirullah, hari ini aku menikah." Sam beranjak dari tempat duduknya, baru saja akan melangkahkan kaki, netranya kembali melihat keadaan Bryant yang terbaring di atas brankar. "Ya Allah, kenapa serumit ini. Sekarang harus bagaimana?"
Sam melemparkan ponselnya ke atas meja, tangannya memijat pelipis yang terasa berdenyut menghadirkan rasa sakit yang luar biasa. Ara menghilang, Bryant jatuh sakit, pernikahan di depan mata. Kurang lengkap apa lagi, coba? Seperti hujan petir dengan kilatan pisau yang menusuk jantung.
Pria itu menghirup udara sedalam-dalamnya seraya melepaskan semua beban pikiran yang terasa menyesakkan, hingga kepalanya terasa seperti diikat tali begitu erat. "Apa aku hubungi Om Al saja? Jika aku hubungi Ocy. Bukan tidak mungkin menjadi kekecewaan yang mendalam. Yah, cuma Om Al yang bisa mengatasi situasi saat ini."
__ADS_1
Setelah memikirkan baik buruknya. Sam mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor yang sudah memanggilnya beberapa kali. Nada dering yang ia dengar langsung berganti suara sapaan. Tak ingin semakin menunda, apalagi membuat keluarganya merasa cemas. Pria itu menghirup udara, lalu menahan nafasnya sejenak.
"Om, dengarkan Sam dulu. Saat ini, Aku ada di rumah sakit Bunda Cinta bersama Bryant yang mengalami tekanan batin dan tengah dirawat. Satu berita lagi, Ara pergi dan mengalami kecelakaan. Sisa cerita akan Aku jelaskan saat kita bertemu." lapor Sam tanpa ingin memperpanjang penjelasannya karena poin utama sudah cukup.
Al yang berada di seberang terkejut, bahkan membuat Bunga yang duduk di depannya langsung mengulurkan segelas air. Panggilan itu berakhir dengan rasa yang tidak bisa dijabarkan. Satu sisi Sam mengalihkan panggilan ke calon istrinya. Bagaimanapun, ia harus memberitahu keadaan saat ini.
Sementara, di sisi lain, Al beranjak dari tempat duduknya tanpa menerima gelas air putih dari Bunga. "Om, ada apa? Kenapa terkejut seperti itu. Jangan buat Aku khawatir ....,"
"Aku harus pergi untuk mengurus pekerjaan emergency. Apa kamu bisa kembali ke kamar sendiri?" Al bertanya tanpa basa basi, keseriusan wajah suaminya membuat Bunga mengangguk. "Jaga keluarga! Aku harus pergi dan pastikan tidak ada yang melihat berita. Jika bisa, ajak semua orang berkumpul di satu ruangan. Jaga dirimu, Istriku."
Sebuah kecupan kening mendarat sempurna. Al melangkahkan kaki pergi menjauh dari tempat Bunga yang masih saja menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik tembok. Jangan tanya seberapa besar rasa penasarannya karena sikap misterius sang suami semakin menambahkan rasa ingin tahunya.
Kini, Al berada di dalam mobilnya. Satu tangannya fokus menyetir, tetapi satu tangan yang lain sibuk mengikuti rapat dadakan yang ternyata harus dilakukan saat itu juga. Pikirannya sudah semrawut. Namun masih mencoba untuk fokus dengan semua hal. Apalagi kemacetan terjadi di saat yang tidak tepat.
Suara klakson yang saling sahut-menyahut, membuat koneksi rapat virtual terganggu. Meski ia memakai earphones, tetap saja suara klakson terlalu keras. Mau, tak mau. Panggilan itu diakhiri dan demi melaksanakan semua tugas. Kini laju mobilnya berubah haluan. Al harus pergi ke kantor dan menunda niat awal yang ingin pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Dua jam kemudian.
Suasana begitu sunyi, bahkan tidak ada pasien yang berteriak atau percakapan antara dokter atau para suster. Benar-benar sepi seperti tidak ada penghuninya saja. Sam yang merasa kurang gerak, memilih untuk berjalan keluar meninggalkan ruangan tempat Bryant dirawat.
Tatapan matanya melihat ke sekeliling. Dimana banyak pot-pot mini dengan tumbuhan hijau yang pasti digunakan sebagai pertukaran sirkulasi udara. Beberapa bangku panjang yang biasanya digunakan untuk menunggu pasien. Ntah rumah sakit itu memiliki berapa banyak staf, tapi jelas sekali tidak sebanyak rumah sakit pada umumnya.
Lorong satu berpindah ke lorong lain, hingga langkahnya terhenti tepat di persimpangan. Dimana ke kanan menuju toilet umum dan kiri terdapat beberapa ruangan rawat pasien. Tiba-tiba hatinya merasakan debaran yang aneh. Hembusan angin menyerbu memberikan pesan tanpa kata.
Sam melangkahkan kakinya mendekati salah satu ruangan rawat pasien. Ntah kenapa hatinya ingin sekali memeriksa ruangan itu. Setiap langkah semakin mengikis jarak, hingga ia menghentikan langkahnya, lalu mengangkat tangan bersiap untuk memegang knop pintu yang ada di depannya.
"Tuan! Pasien kamar Anggrek sudah sadarkan diri." lapor seorang suster dari arah belakang, membuat Sam mengurungkan niatnya untuk memeriksa ruangan itu, lalu berlari kembali menuju tempat Abhi di rawat.
Andai Sam memeriksa. Sudah pasti akan menemukan Ara di balik pintu itu. Ara yang mulai mengerjapkan kelopak matanya, membuat Darren tersenyum senang. Kini, ia bisa bernafas lega karena wanitanya akan baik-baik saja.
Tatapan mata sendu dengan sorot kebingungan. wajahnya pucat, tetapi terlihat senyuman tipis tersinggung di bibir wanita itu. Selalu saja, bersikap seperti orang yang paling kuat. Ingin sekali memeluk Ara, tetapi kondisi wanita itu tidak memungkinkan. "Selamat datang kembali, Ayra. Apa ada yang sakit? Kalau ada, bilang langsung ke aku, ya ...,"
__ADS_1
"Kamu siapa? Kenapa memanggilku Ayra?" tanya Ara menyela ucapan Darren dengan suara lirih.
Darren menggeret kursi, lalu meraih tangan Ara. Dibimbingnya tangan wanita itu untuk meraba wajahnya. "Tutup matamu, dan ingatlah ini. Maka kamu akan tahu, siapa aku."