
Dokter Rahadi mengangguk, lalu memberikan ponselnya pada sang pasien. Ia membiarkan pasiennya menghubungi keluarganya sendiri. Lagipula berita yang seserius itu, akan lebih baik dari orangnya langsung. Jika tidak, pasti membuat kepanikan yang luar biasa.
Ponsel usang dengan merk samsung J2 Core. Saat di genggam begitu pas di tangan, dan juga terasa begitu enak dimainkan. Ntah kenapa, tiba-tiba saja masih sempat memikirkan soal jenis ponselnya. Pikiran seperti oleng karena kepala kebentur stir mobil. Beberapa kali tekan nomor yang ia hafal, lalu tak lupa mendial hingga sambungan telepon tersambung. Sekali mencoba, dan tidak ada jawaban.
Ini anak kemana? Ditelpon gak diangkat, mana mungkin aku telfon Bunga. Bisa-bisa klinik ini kena gempa. Aku coba telpon Samuel aja.~batin pria itu yang merupakan Alkan.
Al yang baru saja berniat untuk menemui Bryant dan lainnya di rumah lain karena ada sesuatu yang penting. Justru harus mengalami insiden kecelakaan. Dimana di saat ia tengah mencoba mengambil air dari belakang kursi dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil yang cukup memotong jalan dari sisi bahu jalan untuk kendaraan arah lain.
Kini pria itu harus menikmati rasa pusing di kepala dan juga sedikit goresan di tangannya. Setelah mencoba tiga kali, akhirnya panggilan terjawab dan itu bukan Bryant. Melainkan Samuel yang mungkin memang tengah memegang ponsel, "Sam, datanglah ke klinik Dokter Rahadi di jalan xxx. Bawa uang cash juga, aku tunggu disini."
[Om, ngapain di klinik dokter itu? Apa yang terjadi?]~ jawab Samuel dari seberang.
"Datang saja dulu, nanti ku jelaskan. Jangan kabari yang lain. Jika bisa suruh Bryant tetap dirumah untuk hari ini," Ujar Al tak ingin membuat yang lain ikut khawatir dan panik.
Panggilan telepon langsung diakhiri, lalu ponsel dikembalikan pada yang punya. Hanya saja, satu hal harus dipastikan dan tanpa permisi. Al menyingkap tirai yang menjadi pembatas. Terlihat seorang wanita dengan luka memar di kening, sedangkan tangan kanan harus dibedong seperti bayi. Jika melihat situasinya. Mungkin tangan mengalami patah atau terkilir.
Dokter Rahadi yang sibuk membuat laporan baru menyadari tingkah si pasien, "Apa dia kekasih Anda, Tuan?"
Pertanyaan sang dokter mengalihkan fokus Al. Dimana pria itu kembali menarik tirai pembatas dan pasien wanita kembali tak terlihat. Lalu, ia turun dari atas brankar, kemudian berjalan menghampiri Si Dokter. Jarak diantara tempatnya dan si pemilik klinik hanya sekitar dua meter lebih sedikit. Jadi hanya membutuhkan beberapa langkah kaki yang panjang. Barulah, ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Dokter Rahadi.
"Kami bertemu karena insiden. Aku tidak kenal wanita itu, tapi tetap saja akan bertanggung jawab untuk seluruh biayanya. Jadi satukan langsung semua biaya administrasi beserta resep yang harus ditebus," tukas Al tanpa basa-basi, membuat si dokter manggut-manggut paham dan melakukan apa yang diminta sang pasien.
__ADS_1
Kedua pria itu menikmati keheningan bersama, sedangkan di tempat lain. Suara teriakan berulang kali terdengar, tapi tidak seorangpun bisa mendengar. Apalagi akan membantunya. Sekeras apapun usahanya meminta pertolongan. Pasti tidak ada yang peduli, bahkan termasuk dua pria yang harus terbangun karena terkejut akibat toa alami yang mendadak memekakkan telinga.
Kedua pria itu mendengus sebal, lalu mengambil headset bluetooth, kemudian menyalakan musik dengan volume tertinggi. Setelah memastikan suara teriakan mulai teredam, kini keduanya kembali memilih untuk terlelap ke alam mimpi. Sementara di dalam kamar pengap, si wanita mulai kehilangan suara karena berteriak-teriak selama sepuluh menit terakhir. Rasa haus juga datang menghampiri.
"Uhuk!"
"Uhuk!"
"Uhuk!"
Wanita itu terbatuk dengan rasa haus dan juga sakit di tenggorokannya. Ingin sekali menikmati segelas air agar merasa lebih baik. Akan tetapi, kondisinya saja kedua tangan dan kaki terikat. Blum lagi mata yang tertutup kain, dan hanya mulut yang bebas tanpa hambatan. Ntah siapa yang melakukan penyekapan. Satu hal pasti adalah orang itu sudah mencari masalah.
Meninggalkan dilema yang dirasakan Anggun karena kini menjadi korban penyekapan. Samuel baru saja turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam klinik yang ternyata tempatnya tidak begitu jauh dari persimpangan jalan utama. Pria dengan penampilan santai itu. Tanpa permisi langsung membuka pintu ruangan yang bertuliskan ruang pemeriksaan.
Benar saja, di dalam ia langsung bisa melihat Om Al yang duduk dengan tangan bersedekap di depan dada, sedangkan seorang pria lain sibuk menulis ntah apa di sebuah buku, "Siang, semuanya. Om, apa yang terjadi?"
"Maaf, kamu siapa?" tanya Si dokter seraya berdiri menatap Sam, tapi yang ditatap tidak menggubris dan justru berjalan menghampiri pasiennya.
Al ikut bangun, lalu menggulung kemejanya, "Urus administrasi, dan bereskan semua ini, mana kunci mobilnya? Aku akan menunggu di mobil."
Samuel langsung menepuk keningnya. Bagaimana bisa di saat ia khawatir. Justru si paman bersikap santai. Tanpa menjawab om Al, Muel mengambil beberapa lembar dari dalam dompet, lalu meletakkan di atas meja si dokter yang masih terdiam dengan sikap bingung melihat tingkah si pasien dan keluarga. Disaat ketiganya sibuk saling menatap, tiba-tiba suara rintihan terdengar dari balik tirai.
__ADS_1
"Maaf, permisi sebentar dan tolong jangan pergi dulu," Dokter Rahadi bergerak cepat berjalan menghampiri pasien yang ada di brankar satunya, membuat Al ikut menyusul.
Samuel yang tidak paham, akhirnya ikut menyusul juga. Pria terakhir itu berjalan sedikit malas, hingga tepat di saat netra matanya melihat siapa yang ada di atas brankar. Sontak saja, ia tertegun. Ntah kenapa, lagi dan lagi harus bertemu wanita itu. Baru beberapa waktu yang lalu mereka bertemu. Kini sudah harus bertemu lagi.
Al yang menyadari perubahan Sam, masih tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, melihat pasien itu kembali sadar. Tentu ada rasa bersyukur. Setidaknya semua akan baik dan tidak harus menunggu di klinik. Padahal niat awalnya ingin meminta Sam untuk merawat wanita itu. Sementara dokter Rahadi tersenyum dengan helaan nafas lega.
"Siapa namamu? Apa ada yang bisa di hubungi?" tanya si dokter, tapi wanita itu justru menatap keluarga dari pasien lain, "Apa dia keluargamu juga?"
"Bukan. Om, aku tunggu di luar," Sam memilih meninggalkan ruangan itu, bahkan tanpa menunggu persetujuan dari yang lain.
...----------------...
Nb: crazy up udah selesai ya, 😘
......................
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
......................
__ADS_1