Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 172: PERPISAHAN ITU NYATA


__ADS_3

Bryant menaikkan satu alisnya, ia tak mengerti. Sang paman meminta sebuah permintaan atau justru mengikatnya dengan janji, bahkan jika mengatakan untuk berkorban. Ia tidak akan menolak. Ntah apa yang direncanakan sang paman. Saat ini, dia tak ingin menjadi beban, maka ia memilih menyambut tangan yang kasih menggantung diudara dengan kepasrahan.


Penerimaan yang dilakukan keponakannya, membuat Al menepuk pundak Bryant. Kemudian membiarkan sang keponakan untuk istirahat kembali, kemudian ia meninggalkan kamar. Tentu saja, tidak pergi begitu saja. Demi menjaga keamanan, maka beberapa bawahannya mendapatkan tugas khusus untuk berjaga di depan ruangan rawat itu.



Sementara Al sendiri telah kembali memasuki mobilnya. Pria itu segera melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan yang cukup tinggi membelah keramaian jalanan kota. Kini tugasnya adalah menemukan keberadaan Ara. Jangan sampai berita kepergian menantu muda justru menambah keluarga mengalami shock jantung.



Apalagi, Bunga sudah mengirimkan pesan. Dimana istrinya mengatakan, Mama Bella dibawa ke rumah sakit karena terkena serangan jantung ringan dan sudah ditemani Dokter Kinara bersama Papa Angkasa. Kini, semua orang harus melakukan kewajiban masing-masing. Tidak ada yang bertopang tangan.



Pencarian Alkan hanya ditemani benda pipih yang selalu bersamanya, sedangkan yang dicari justru berada di tempat yang sama dengan Bryant di rawat. Dimana Darren baru saja memasuki ruangan dokter yang menangani proses perawatan sang pujaan hati. Pria itu duduk di depan dokter yang menatapnya serius.



"Apa Tuan serius, mau membawa pasien pulang sebelum duapuluh empat jam? Sebagai dokter, sudah saya jelaskan bagaimana kondisi pasien saat ini." Tegas Sang Dokter membuat Darren mengangguk tanpa keraguan. "Baiklah, tunggu sebentar. Akan saya siapkan berkas kepulangan pasien."


__ADS_1


Rasanya jauh lebih tenang karena dokter tidak mempersulit keinginannya. Setelah melihat sorot mata Ara yang terluka, ia tak tahan lagi untuk memberikan beban kesedihan. Apalagi, jika di rumah sakit. Sudah pasti, dokter atau suster akan ditanyai tentang kondisi kandungannya.



Maka demi mengantisipasi hal tidak diinginkan, akan lebih baik membawa wanita itu dalam pengawasannya. Setelah menunggu beberapa saat, Sang Dokter kembali berhadapan dengan Darren seraya mengulurkan dokumen yang baru saja dibuatnya, "Silahkan, tanda tangan di atas materai. Tunggu sepuluh menit agar kami menyiapkan semuanya."



"Ok, Dok. Terima kasih banyak." balas Darren lalu menjabat tangan sang dokter setelah menyelesaikan formalitas yang akan mengembalikan Ara padanya.



Seperti keinginan pria satu itu, Ara yang terlelap karena pengaruh obat dipindahkan ke kursi roda. Kini Darren menyelimuti tubuh wanitanya agar tidak kedinginan. Setelah berpamitan, barulah di dorongnya kursi roda untuk meninggalkan ruangan rawat yang menjadi saksi pertemuan dan air mata.




Setelah melihat Ara terlindungi, Darren melanjutkan perjalanannya membawa Ara meninggalkan rumah sakit, sedangkan di bawah bangku kursi tunggu di depan kamar rawat Bryant. Sebuah cincin bertahta batu ruby teronggok. Cincin itu merupakan hadiah dadakan yang menjadi tanda awal hubungan pasutri itu.


__ADS_1


Satu sisi Bryant terlelap karena pengaruh obat, sedangkan Ara bersandar merasakan kehangatan dari Darren yang setia memberikan pelukan hangat agar wanita itu tetap dalam keadaan baik. "Ayo, kita pulang. Ke tempat yang pernah kamu impikan. Semoga dengan ini, senyumanmu akan kembali, lagi. Ayra."


"Aku tahu, hidupmu tidak mudah, tapi sekarang ada aku. Aku janji akan melindungi, dan mencintaimu sebagaimana mestinya. Meksi, hatiku masih bertanya-tanya. Kamu hamil anak siapa? Apakah kamu sudah menikah?" tanya Darren pada dirinya sendiri, seketika pertanyaan itu menyadarkannya akan sesuatu.


Tanpa permisi, Darren memeriksa setiap jemari Ara, tetapi kedua tangan wanita itu bersih tanpa ada cincin. Darren memperhatikan lebih seksama hingga melihat bekas lingkaran yang pasti sebuah cincin pernah melingkar manis, tapi dimana cincin itu? Apakah mungkin, wanitanya mengalami KDRT? Jika iya, tiba-tiba hatinya mendidih membayangkan tubuh lembut Ara mengalami penyiksaan.


Sontak saja tangannya mengepal erat dengan wajahnya yang dingin. Emosi tanpa dasar itu, sekejap mata menyelimuti hati dan pikiran. Hanya sesaat, tetapi sangat menyesakkan hingga gumaman lirih Ara menghapus jejak amarah yang membelenggu. Wajahnya yang teduh selalu memberikan ketenangan. Darren membenamkan kecupan sayang menyalurkan emosinya.


Kamu bukan hanya wanita pemilik hatiku, tapi kamulah ketenangan dari bara api dihatiku. Selamat datang kembali, Ayraku.~batin Darren menikmati kebersamaan kecil itu dengan cinta yang semakin menggebu-gebu, sedangkan Al harus kesana kemari demi menemukan keberadaan menantu pertama.


Bagaimana akan ditemukan? Ketika takdir berkata hanya ada perpisahan. Waktu berlalu begitu cepat. Sungguh seperti sinar rembulan yang berganti sinar mentari, satu minggu dari semua tragedi telah berlalu. Hingga detik ini, keluarga Putra masih bersedih hati. Meski Bryant sudah kembali dan dalam keadaan sehat, sayangnya Mama Bella harus menjadi pasien tetap rumah sakit.


Wanita paruh baya itu, mengalami serangan jantung hingga tak sadarkan diri. Sehingga dokter mengatakan, jika Mama Bella mengalami koma. Sontak saja, Papa Angkasa mengalami kejatuhan yang luar biasa. Seluruh keluarga berusaha untuk tetap bersatu. Namun, sebuah fakta masih disembunyikan. Dimana itu, berita Ara yang menghilang.


Alkan sengaja mewanti-wanti seluruh anggota keluarga agar tetap diam. Setidaknya, biarkan sang kakak untuk fokus merawat Mama Bella, saja. Lalu, bagaimana dengan masalah lain? Al akhirnya mengambil alih seluruh tanggung jawab. Dimana pria satu itu, hanya meminta satu hal. Mereka akan membantu Bunga untuk menjaga Almaira, sedangkan dia sendiri akan melakukan pekerjaan lain.


Termasuk membawa Ara kembali, Al tidak bisa membiarkan keluarganya mengalami dilema. Akan lebih baik, jika yang menyelesaikan masalah hanya dirinya dengan koneksi yang dia punya. Namun sekeras apapun usaha Al, tetap saja Darren membawa Ara ke tempat yang tidak pernah orang pikirkan.


Wanita yang tengah menatap hamparan bunga matahari dengan kelopak kuning yang menggemaskan. Indah, terlebih sinar mentari dari peraduan menambah keindahan alam semakin memukau. Tiba-tiba, ada tangan yang menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Tangan dengan aroma maskulin.


"Ka Tama udah pulang? Kenapa gak denger suara mobil ....,"

__ADS_1


Darren hanya tersenyum tipis seraya mengusap kepala Ara. Tatapan mata keduanya, tidak saling memandang, namun saling menatap matahari tenggelam yang kian bersemu jingga. Indah, mengagumkan. "Bagaimana harimu? Apa ada cerita baru untuk malam ini? Aku tidak sabar untuk mendengarkan."


"Cerita? Ka Tama tahu sendiri, aku hanya dirumah, berjalan di kebun, dan ngobrol bareng Bi Inah, dan lainnya sambil bikin lutisan. Jadi, bagaimana dengan kakak? Apa dikantor semua lancar."


__ADS_2