
"Darimana kamu tahu tentang Hazel?" tanya balik Bryant dingin.
Bagaimana ini? Tidak mungkin aku mengatakan jika malam pertama kami atas nama wanita lain, bukannya cinta. Apakah aku harus jujur? Tidak! Lebih baik aku simpan kebenaran ini hingga nafas terakhir ku. Mungkin saja Hazel adalah kekasih Tuan Bryant. ~ batin Ara.
"Maaf, Tuan. Aku hanya....,"
Bryant menatap Ara seperti ingin menelan istrinya bulat-bulat, membuat wanita itu semakin ragu untuk melanjutkan rasa penasarannya tentang Hazel. Melihat kegelisahan di mata Ara, Bryant melembutkan tatapan mata seraya menarik tangannya dari dagu sang istri siri.
"Darimana kamu tahu tentang Hazel?" tanya Bryant sekali lagi dengan pelan.
Jika kamu berkata jujur. Maka aku akan mengatakan kebenaran hidupku tanpa terkecuali, tapi jika kamu memilih diam untuk menutupi ntah apa yang kamu sembunyikan. Akan kupastikan semua tentang Hazel tidak terungkap hingga waktu yang ku inginkan. ~batin Bryant menatap Ara tanpa teralihkan.
Lima menit kemudian.
Hening!
"Aku pergi ke kamarku. Kamu istirahat saja." Bryant berjalan melewati samping kanan Ara, dan berhenti setelah tepat di belakang sang istri siri. "Diammu mengatakan banyak hal. Apa yang kamu sembunyikan?"
Ucapan Bryant sontak membuat Ara berbalik. Tatapan keduanya kembali terpaut satu sama lain. Ntah siapa yang memulainya. Wajah dua insan sah itu saling mendekat, lalu melakukan perkenalan ulang dengan bibir masing-masing.
Pagutan tak terelakkan, membuat keduanya lupa tempat. Bryant membimbing Ara agar berjalan mundur memasuki kamar. Begitu keduanya berpindah tempat, Bryant menendang pintu kamar hingga tertutup sempurna.
"Bernafas lah!" titah lembut Bryant setelah melepaskan pagutan nya seraya mengusap bibir manis Ara, membuat wanita itu malu dengan pipi memerah.
__ADS_1
Apa yang terjadi padamu, Ara? Kenapa tidak bisa melawan perasaan menuntut yang menerobos masuk ke dalam hatimu? Ara sadarlah! ~batin Ara.
Bryant menangkup wajah Ara. Ada rasa bersalah karena sekali lagi merebut ciuman tanpa izin. "Maaf, Aku tidak bermaksud mengambil kesempatan dalam kesempitan."
"Sentuh Aku! Lakukanlah penyatuan tanpa pengaruh alkohol." pinta Araa membuat Bryant tercengang.
Puk!
Puk!
Puk!
Bryant menepuk pipinya sendiri. Berharap ucapan Ara hanyalah khayalan semata. Akan tetapi istri sirinya justru menatap dengan serius seraya menganggukkan kepala.
Cup!
Bola mata membulat dengan tubuh yang menegang. Ketika tanpa aba-aba, sang istri siri mendaratkan ciuman singkat. Ara menatap lembut Bryant seraya menekan bibirnya, membuat pria itu memejamkan mata seraya merengkuh leher Ara. Lalu menekannya hingga pagutan kembali terjadi.
Perlahan tapi pasti. Bryant mengajarkan Araa cara bermain saat melakukan pagutan panas. Nasib Ara yang polos dan memang belum pernah disentuh mantan suaminya. Justru kini posisi wanita itu seperti gadis penurut, membuat Bryant gemas dan ingin menjahili sang istri.
"Kamu ingin penyatuan?" tanya Bryant berbisik di telinga Ara setelah pagutan di akhiri.
Hembusan nafas hangat, membuat tubuh Ara merinding disko. "Tuan....,"
__ADS_1
Cup!
"Bantu aku membuka bajuku!" Bryant mundur satu langkah setelah mencuri satu kecupan.
Ara melotot mendengar permintaan Bryant, tapi tangan pria itu sudah menggenggam kedua tangannya dan mengajari cara membuka kancing satu persatu. "Tuan, saya bisa sendiri!"
Ara menarik tangannya. Lalu memejamkan mata seraya meraba dada bidang Bryant untuk membuka kancing kemeja yang tersisa. Hingga tangannya terasa di bimbing sebuah tangan. "Buka!"
Bryant membuat Ara memegang benda keramat nya. Terlihat alis Ara naik seperti tengah berpikir apa yang dipegang.
"Tuan, ini apa? Kenapa seperti es lilin? Eh tidak. Jika es lilin sebesar ini pasti aku kembung." Ara tanpa sadar meremas tongkat ajaib Bryant, membuat pria itu menahan gelenyar aneh yang seperti sengatan listrik menjalar di seluruh tubuhnya.
Bukannya berhenti bermain. Ara justru seperti menikmati menerka-nerka apa yang ada di genggaman kedua tangannya. Hingga suara berat Bryant mengakhiri pejaman matanya.
"Araaaa! Hentikan! Kamu menyiksaku." Bryant tak kuat menahan reaksi tubuhnya yang berlebihan.
Padahal selama ini, Hazel selalu memberikan service yang terbaik dan memuaskan. Lalu apa yang terjadi sekarang? Kenapa sentuhan Araa jauh berbeda.
Bukan hanya tercengang ketika melihat tongkat ajaib tergenggam seperti es lilin ditangannya. Belum sempat bereaksi, tubuhnya sudah di rengkuh Bryant dalam pagutan.
Dua insan yang dimabuk kabut hasrat memulai perjalanan mereka. Saling berebut start mengatur nafas. Bryant mengangkat tubuh Ara untuk di gendong. Lalu membawanya ke ranjang yang berjarak tiga meter tanpa melepaskan pagutan.
Kebersamaan Bryant dan Ara dalam memadu kasih. Berbanding terbalik dengan perdebatan sengit dua lawan jenis di dalam sebuah rumah yang sederhana. Bantingan pintu depan, membuat lelehan air mata jatuh tanpa diminta.
__ADS_1
"Seharusnya, Aku tidak menceraikannya."