Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 87: HENRY VINCENT


__ADS_3

"Ada apa lagi denganmu, selalu saja disaat jatuh baru ingat rumah."


Orang itu membawa Hazel masuk ke dalam rumah. Ia hanya tahu satu hal. Wanita yang tidak menganggap dirinya ada, akan selalu datang ke rumah lama dan itu pasti dalam keadaan tidak baik. Terakhir kali, cerita yang ia dengar tentang pemecatan dari sebuah agensi dan kali ini, ntah apa lagi. Jika boleh jujur, ingin sekali menolak kedatangan saudara kembarnya itu.


"Gue gak mau miskin... Apapun yang udah jadi milik gue...,"


Bruug!


Orang itu menghempaskan tubuh Hazel ke ranjang yang keras, membuat wanita itu meringis kesakitan. Namun, apa dayanya. Saat ini, pandangan mata pun sudah mulai buram. Kepalanya juga terasa berat, tidak ada yang bisa membantu disaat minuman beralkohol mulai mempengaruhi kinerja otak menjadi tidak seimbang.


"Sampe kapan kamu sadar, Zel?" tanya orang itu seraya melepaskan sepatu hak tinggi Hazel, lalu menyelimuti tubuh wanita racauan yang tidak jelas.

__ADS_1


Sejenak, tatapan matanya memperhatikan wajah Hazel. Wajah yang bisa mengatakan begitu banyak kebenaran, tapi akan selalu menjadi rahasia. Dulu ada masa, dimana kehidupan begitu sederhana dan hanya ada kebahagiaan sederhana. Namun, semua berubah karena rasa iri yang tumbuh di hati saudaranya. Andai saja, mereka berdua tetap tinggal di desa. Sudah pasti tidak akan serumit hari ini.


"Zel, bukannya aku tidak tahu keburukanmu. Terkadang aku juga memberikan kutukan agar kamu sadar diri, tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan nasehatku. Ego dan iri hatimu terlalu besar, bahkan rasa sayangku sebagai saudara menjadi tidak berarti. Aku tahu, kamu membutuhkan ku saat ini, tapi aku tidak ingin terlibat apapun."


"Sejak hari itu, Aku masih berusaha untuk menjadi saudara yang baik. Mungkin usahaku masih kurang atau memang aku tidak pernah ada dihidupmu. Ingin rasanya, aku menamparmu sekali lagi, dan berharap kamu sadar. Sayangnya, itu hanya harapan palsu. Kamu sudah terlalu jauh melangkah ke dalam kubangan dosa."


"Istirahatlah, ini malam terakhir mu disini. Maaf, aku tidak bisa menjadi saudara yang baik. Kamu terlalu jauh kugapai, jangankan untuk ku peluk. Sekedar memanggil nama saja. Aku tidak sanggup. Selamat tinggal Hazel Vincet."


Tak ingin ada yang mencari jejaknya, orang itu memilih untuk menggunakan mobilnya sendiri. Perjalanan di malam dengan cuaca yang buruk, tak membuatnya menunda kepergian. Hatinya sudah cukup untuk menetapkan tekad. Meski, ada rasa tidak tega. Namun, kenyataan tidak akan bisa diubah. Kisah masa lalu yang menancapkan ribuan duri beracun. Semua rasa sakit itu hanya karena keputusan Hazel seorang.


Mobil itu melaju melewati jalanan raya utama ditemani kabut yang cukup menutupi pandangan. Bukannya mengurangi kecepatan, sang pengemudi justru menambah kecepatan. Ntah apa yang merasuki orang itu, hingga sorot lampu dari arah berlawanan yang datang tiba-tiba, membuatnya terkejut. Tanpa pikir panjang, ia membanting setir ke arah kiri.

__ADS_1


Suara dentuman benda bertabrakan menggema menghilangkan keheningan alam. Dua mobil mengalami kecelakaan cukup parah, dan itu mengakibatkan terjadinya kemacetan. Beberapa mobil lain yang melewati jalur itu, terpaksa harus berhenti dan menunggu pihak kepolisian dan rumah sakit datang. Tragedi itu, membuat empat orang mengalami luka parah dan satu orang luka ringan.


Meninggalkan malam tragedi, mentari datang untuk menghangatkan bumi dengan sinar harapan baru. Suara kicauan burung beterbangan di langit. Hari baru menjadi langkah baru, tapi tidak dengan Hazel. Dimana wanita itu terbangun menikmati denyut rasa sakit dikepalanya. Tatapan mata menelusuri seluruh kamar, tapi tidak ada sosok yang bisa diharapkan.


"Ini anak kemana, sih? Sakit banget kepalaku, menyebalkan. Awas aja kalau nongol, nanti...," Hazel menghentikan ocehannya, disaat tak sengaja melihat noted yang tertempel di gelas berisi setengah air, "Salam dari Henry Vincent. Zel, aku tidak tahu kenapa kamu datang kerumahku. Apapun alasanmu, aku tidak ingin tahu dan tidak ingin ikut campur. Terakhir kali, kamu mengatakan jika aku tidak pantas menjadi saudaramu. Maka, uruslah urusanmu sendiri. Jangan pernah cari aku."


Noted itu seperti air hujan berganti menjadi hujan api yang membakar rencananya. Niat hati ingin meminta bantuan pada saudaranya. Ia ingin, Henry bisa menculik istri siri Bryant. Benar-benar s!al sekali hidupnya sekarang. Di rumah kediaman Putra dan rumah saudaranya sendiri, ia terusir yang menyisakan penghinaan besar untuk seorang Hazel.


Sontak saja, Hazel menyambar gelas diatas nakal, lalu melemparkannya ke dinding. Suara benturan dengan pecahnya gelas terdengar cukup keras. Emosi yang meletup, membuat Hazel menggenggam kertas noted itu begitu erat. Tidak seorangpun bisa diharapkan. Kini, semua rencana tidak berguna. Bisikan dari miss bodo amat untuk bersikap baik di depan mertua juga tidak berhasil.


Henry yang menjadi harapan terakhir juga pergi meninggalkan dirinya sendirian. Rasanya seluruh amarah naik ke puncak kepala. Tatapan mata tajam dengan gurat otot leher menegang. Hazel terperangkap dalam dunia yang dia ciptakan tanpa memakai logika. Semua orang meninggalkan tanpa mau memberikan kesempatan.

__ADS_1


"Jika tidak ada yang peduli denganku. Jangan salahkan aku untuk menjadi monster. Aku pastikan untuk menjadi nyonya Bryant Putra satu-satunya. Meski dunia menolak, aku tidak peduli." Hazel bersumpah pada dirinya sendiri.


__ADS_2