Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 123: SATU PERTANYAAN SAJA


__ADS_3

Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Apapun yang terjadi. Aku siap memperjuangkan cintaku karena aku tahu. Abang tampan dokter ku akan aman bersamaku. Semangat Ocy.~batin Ocy menyemangati dirinya sendiri seraya mengusap lengan sang kekasih agar tetap tenang.


Keduanya meninggalkan rumah Nancy. Kondisi Sam yang terlihat masih tenggelam dalam rasa tidak percaya, membuat Ocy mengambil alih untuk menyetir mobil. Bagaimanapun keselamatan adalah yang utama. Jadi, kini pria itu duduk di kursi penumpang seraya menatap kartu undangan acara pertunangan berwarna silver di tangan kiri dan amplop coklat di tangan kanan.


Ntah kemana pikirannya melayang membawa angan yang tanpa tujuan. Selama perjalanan, Ocy membiarkan Sam untuk diam merenung. Apalagi bisikan Nancy sebelum mereka pulang, masih saja terngiang di telinga. Dimana pria jadi-jadian itu memintanya untuk menjaga hati seorang Samuel. Jangan sampai hati yang hancur, kembali terluka dan menjadi arang.


Mobil bukan melaju di jalanan umum setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit. Justru, Ocy membawa mobil itu memasuki sebuah tempat parkir yang ada di taman impian. Dimana taman itu menjadi tempat terbaik untuk menenangkan pikiran. Mesin mobil dimatikan, lalu melepaskan sabuk pengaman. Tak lupa mengusap lengan Sam agar ikut turun bersamanya.


"Ngapain kita kesini?" tanya Sam bingung, tapi melihat Ocy turun dari mobil, mau, tak mau, ia pun juga ikut turun dan menyusul langkah sang kekasih.


Beberapa langkah dari tempat parkir. Ocy melihat ke sekeliling, hingga melihat sebuah bangku kayu di bawah sebuah pohon ntah apa namanya. Bunga-bunga yang berwarna kuning dengan campuran putih juga berjatuhan. Tanpa permisi, tangannya meraih tangan Sam, lalu mengajak pria itu untuk duduk di bangku yang menjadi pilihannya.


"Duduklah! Apapun yang menjadi isi hati dan pikiran kita. Maka, kita akan selesaikan itu disini dan saat kembali kerumah. Wajah murung dengan tatapan mata sayu, harus kita sembunyikan. Jangan sampai, keluarga memberikan kereta pertanyaan. Dimana kita tahu, tidak ada jawaban yang bisa disampaikan," Ocy menatap Sam begitu dalam, membuat pria itu menurut dan duduk bersama di bangku kayu.


Beberapa saat hanya ada keheningan dan helaan nafas yang kesekian kali menjadi bukti keberadaan kedua insan itu. Keduanya seperti bingung mau memulai dari mana, hingga Sam menggeser posisi tubuh dan menjadi menghadap ke arah sang kekasih, "Apa kamu masih penasaran. Siapa itu Rachel?"

__ADS_1


"Saat ini, semua cukup jelas. Temanmu memberikan penjelasan tanpa meninggalkan sisa pertanyaan di kepalaku, tapi aku akan tetap bertanya. Apa yang terjadi pada hidupmu? Aku tidak bisa mengubah masa lalu, dan tidak mempermasalahkan itu. Hanya saja, aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman. Jangan sampai, masa lalu menjadi penghalang kepercayaan diantara kita."


Sekali lagi, Ocy mengutarakan uneg-uneg yang ada di hati dan pikirannya. Sungguh itu menjadi satu poin penting dalam hubungan mereka. Tidak ada rasa takut, atau sungkan. Maka, hubungan terbentuk semakin kuat dari waktu ke waktu. Sam tersenyum seraya menatap lembut netra wanitanya itu. Ia bersyukur memiliki kekasih dengan pemikiran yang dewasa.


"Saat itu, usiaku sekitar delapan belas tahun. Dimana aku menjadi salah satu mahasiswa kedokteran. Di jurusan itu ada gadis yang terkenal putri salah satu dewan sebuah rumah sakit umum. Semua berawal dari tugas kelompok karena intens menjadi partner. Perasaan itu tumbuh begitu saja. Aku tidak tahu, kapan kami mulai pacaran. Hanya saja, setelah setahun berlalu...,"


Sam menjeda karena ingatan memintanya untuk berhenti. Hati yang terasa diperas semakin terasa begitu menyakitkan, "Hari itu, aku berniat memberikan kejutan pada Rachel. Kejutan dimana aku telah terpilih menjadi mahasiswa yang melakukan pertukaran pelajar, selama musim panas. Di saat aku melihat pacar sendiri memeluk sahabat ku. Sakit, dan di saat bersamaan,"


"Rachel mengatakan sebuah kenyataan yang menghancurkan hatiku. Dia sengaja menjadikan ku sebagai pacar agar bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Semua itu karena tuntutan dari sang ayah. Jujur, aku terkejut, tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah gadis itu mencintai Darren. Itulah pemicu kemarahanku dan Bryant hingga terjadi baku hantam."


"Sejak kejadian itu, aku tidak lagi berangkat kuliah karena mengalami depresi. Benar. Aku sempat beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri, dan penyesalan terbesarku adalah karena yang melihat darah di tubuh ini untuk pertama kali yaitu Bryant. Wajar saja, dia murka ketika melihat Rachel. Semua itu karena masa lalu yang masih tersimpan rapat di dalam hati kami. Ini kisah kelam kehidupanku."


Sudah hampir dua jam lebih, tapi tidak ada tanda orang yang ingin dia lihat. Bahkan dua cangkir kopi sudah habis dan hanya menyisakan ampasnya saja. Panas dari cahaya matahari tidak memudarkan niat di hatinya. Satu yang ditunggu. Dia ingin mendapatkan separuh ingatan yang menghilang tanpa jejak. Ratusan kali menemui dokter ternama. Tetap saja, tidak ada perubahan apapun.


"Sampai malam pun, aku siap menunggu. Come on, keajaiban tidak akan terjadi dalam satu kedipan mata. Tidak peduli harus bersabar sebesar apa. Aku siap menghilangkan kewarasan ku hanya demi kembali normal dan memiliki seluruh hidup yang terlupakan."

__ADS_1


Kehidupan ini memberikan apa yang kita butuhkan. Bukan, apa yang kita inginkan. Setiap kali mengalami masalah dan cobaan. Percayalah, masalah dan cobaan datang bersama penyelesaiannya. Tenang dan pikirkan dengan kepala dingin. Semoga kerumitan dalam kehidupan menjadi sederhana karena kita percaya bisa melewati semua tahap kehidupan.


Orang itu menjadi setrikaan. Hilir mudik dari satu sudut ke sudut yang lain, sedangkan rumah yang selalu diawasi tengah menikmati kebersamaan. Termasuk pasutri yang saling menatap satu sama lain di dalam kamar. Tatapan cinta yang memberikan ketenangan dan juga perlindungan.


"Bagaimana dengan nama Islam? Mungkin Raihan atau Amir, jika anak kita laki-laki. Humaira atau Aisyah, jika anak kita perempuan. Itu nama yang bagus, iya 'kan?" Bryant meminta persetujuan, tapi hanya dibalas gelengan kepala oleh istrinya.


Padahal, saran nama yang dia berikan itu, sudah kelima dari awal perbincangan. Jadi bingung sendiri. Ara tidak mau nama yang ke barat. Tidak mau nama yang ke timur. Beberapa nama yang terlintas justru tidak mendapatkan persetujuan. Akhirnya yang di dapat bibir manyun sang istri semakin mengembungkan pipi yang seketika menjadi chubby.


"Semua nama kamu tolak. Begini saja, katakan nama yang kamu inginkan untuk anak kita. Aku akan mempertimbangkan, atau jika perlu. Kita bisa minta voting dari semua anggota keluarga. Bagaimana?"


...----------------...


Done crazy up buat hari ini, HAPPY READING READER'S 🔥😘🥰


Jangan lupa jejak kalian, moga perbab ya 🥺

__ADS_1



...----------------...


__ADS_2