Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 131: DENIS


__ADS_3

"Ouh, **!*. Kenapa harus istri orang. Tamat riwayatmu, Ka."


Denis menghentakkan kaki seraya mengumpat dalam bahasa asing. Suaranya begitu lirih. Pemuda itu memang terkejut karena melihat kakaknya sekamar dengan istri orang. Meski, posisi keduanya tidak seranjang dan tidak juga dalam keadaan bermesraan. Tetap saja, itu bisa menjadi masalah besar. Apalagi, jika suami wanita itu tahu, apa yang dia lihat saat ini.


Situasi di ballroom pasti semakin memanas, dan untuk berkata jujur. Sudah pasti tidak mungkin, di saat yang genting. Otaknya berhenti bekerja. Ingin sekali berteriak, tapi tidak mungkin juga. Denis berjalan mondar-mandir mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Pemuda itu lupa untuk memeriksa keadaan Darren dan juga Ara.


"Aha," Denis menjentikkan jari, begitu mengingat, jika kamar itu bersebelahan dengan kamar pribadinya, dan demi menyelamatkan sang kakak, maka sebagai adik. Dia harus melakukan sesuatu, "Aku gunakan pintu rahasia aja. Jadi, setelah memindahkan Ka Darren ke kamar sebelah. Aku bisa mengabari dan mengatakan istri orang itu, sudah ditemukan."


Pemuda itu bergerak cepat menjalankan rencana yang dibuat, lalu memastikan semua seperti baik-baik saja. Melalui pintu samping dari kamar mandi. Tubuh Darren sudah berpindah ke kamarnya, dan Ara masih tetap di kamar sang kakak. Pekerjaan Denis terlalu cepat hingga tanpa sadar. Pemuda itu tidak melihat jam tangan sang kakak yang tertinggal di sebelah Ara.


Kembali ke ballroom. Perdebatan sengit berlangsung cukup alot. Dimana Tuan Erlangga memaki keluarga Wiratama. Acara pertunangan yang gagal total, membuat sifat asli calon besannya terbongkar seketika. Mau bersyukur atau mengeluh? Keduanya harus dilakukan secara bersamaan. Setidaknya, Darren tidak jadi memiliki mertua yang bermuka dua.


"Saham yang sudah kita sepakati. Batal. Mulai detik ini, hubungan kerjasama kita berakhir," tegas Tuan Erlangga, membuat Tuan Wiratama tersenyum kecut.


Jujur saja, kondisi keuangan keluarganya tengah di ambang kebangkrutan. Semua itu karena pengobatan yang harus di jalani Darren cukup menyita banyak biaya. Meski, sang putra sudah menghandle banyak pekerjaan. Tetap saja, perusahaan membutuhkan suntikan dana agar produk yang dirancang bisa mencapai pasaran.


Bisnis perhiasan yang mereka miliki. Tidak hanya membutuhkan biaya sedikit selama proses berlangsung. Jika bahan utama seperti berlian, emas dan lainnya datang dari suplier. Maka, pembayaran dilakukan di waktu yang sama. Jadi, tidak ada yang namanya bahan baku utama diambil secara hutang.

__ADS_1


Suasana yang begitu tegang, tepat dengan kembalinya Denis. Dimana pemuda itu berlari menuju para orang tua, lalu berhenti tepat di sebelah Bryant. Sesaat mengatur nafasnya, kemudian mengulurkan tangan, "Apa kamu akan menjadi mitra kerja kakakku? Jika iya, jabat tanganmu."


"What?!"


Bryant tak paham dengan sikap ambigu Denis. Yah mana ada yang paham, pemuda itu datang dan langsung meminta berjabat tangan. Aneh bukan? Namun, tidak juga. Om Al melangkahkan kaki, lalu menjabat tangan Tuan Muda bungsu, "Dimana istri keponakan ku?"


"Apa kamu sudah menemukan Ara?" Tanya Bryant harap-harap cemas, tentu saja akan bernafas lega, jika benar Ara ditemukan.


Denis mengangguk, tapi lirikan matanya sinis menatap Tuan Erlangga. Sebagai seorang putra, mana bisa tahan mendengar kedua orang tuanya dihina. Apalagi hanya karena uang yang tidak seberapa. Meski harus menjadi penjual mie ayam pun, dia tidak keberatan. Kehidupan bukan tentang kekayaan, tapi tentang kebahagiaan keluarga.


Bry yang memperhatikan arah mata si pemuda. Seketika, perasaan bersalahnya kembali menelusup menggerogoti hati, "Aku akan menjadi penanam saham di perusahaan keluarga Wiratama. Selain sebagai bentuk menepati janji. Aku juga ingin meminta maaf atas perbuatan ku beberapa tahun yang lalu."


Belum juga usai mengucapkan rasa penyesalan. Tiba-tiba, nyonya Wiratama berjalan menghampirinya, lalu memberikan pelukan seorang ibu. Al tersenyum, akhirnya perselisihan dua keluarga berakhir dengan baik. Selama ini, secara diam-diam. Sang paman berusaha untuk membujuk keluarga Wiratama. Namun, hanya ada penolakan.


"Bry, aku tidak bisa menemukan Ara di area hotel dan sudah mencari di luar juga, tapi tetap tidak menemukannya," lapor Samuel begitu bergabung dengan yang lain, tentu saja si dokter datang bersama Ocy.


"Ayo, Aku antar ke kamar kakak ku. Sepertinya, istri kakak minum wine dan pingsan. Jadi, demi keamanan. Ka Darren membawa ke kamar. Jangan panik karena kakak sendiri sudah kembali ke rumah. Dia tidak bisa melanjutkan pertunangan," jelas Denis seraya menyerahkan ponselnya ke sang papa untuk memberikan bukti pesan singkat dari Darren.

__ADS_1


Tentu saja, pesan itu dia juga yang kirim. Apapun akan dia lakukan demi kakak tercintanya. Meski harus bertindak licik. Akibat dari pesan itu, Tuan Erlangga membawa keluarganya meninggalkan hotel, sedangkan Bryant mengikuti Denis untuk menjemput Ara. Kemudian yang lain memilih untuk kembali ke kamar masing-masing.


Secara tiba-tiba, Om Al meminta seluruh pasangan agar sekalian memesan kamar. Lagipula, malam sudah larut dan tidak baik untuk menyetir dalam keadaan pikiran campur aduk. Berhubung Sam dan Ocy belum menikah. Akhirnya Bunga diminta untuk menemani kekasih dari Sam. Kedua wanita itu, mau, tak mau, hanya bisa menurut.


Semua orang sudah di dalam kamar masing-masing. Termasuk Bryant yang diizinkan untuk tinggal di kamar Darren mengingat kondisi Ara yang masih tidak sadarkan. Sementara di kamar lain, Denis menghempaskan tubuh lelahnya ke sofa yang empuk. Perasaan lega jelas menghampiri pemuda itu. Drama yang dia buat berakhir tanpa ada kecurigaan. Sang kakak selamat dan perusahaan juga aman.


"Jika ku pikirkan, kenapa Ka Darren begitu tertarik dengan istri orang? Bukankah, selama ini anti bersentuhan dengan wanita, ya? Jadi, apa ada something diantara keduanya. Jika iya, something seperti apa?"


Denis tengah berusaha mengingat semua peristiwa yang dia habiskan bersama sang kakak. Dulu, saat kakaknya masih SMA dan melanjutkan kuliah. Pertemuan akan terjadi setiap seminggu sekali, dan itu seperti jadwal yang tetap. Semua itu karena sang kakak memilih untuk tinggal di apartemen sendiri dan meninggalkan rumah utama.


"Apartemen!" Seru Denis melonjak kaget dengan satu kata yang bisa menyegarkan ingatan masa lalunya, pemuda itu bangun dari sofa, lalu menyambar kunci motornya. Tidak peduli dengan jarum jam yang menunjuk ke arah pukul sebelas malam.


Kepergian Denis seperti hembusan angin. Pemuda itu meninggalkan hotel dengan motor kesayangan membelah malam yang dingin. Cahaya lampu jalanan menjadi teman yang setia. Perjalanan selama dua puluh menit, hingga akhirnya motor memasuki parkiran khusus para pemilik apartemen. Pak Satpam yang hafal dengan wajah Denis. Tidak ambil pusing, dan membiarkan pemuda itu masuk.


Setelah memarkirkan motor, Denis berlari kecil menuju lift khusus, tak lupa menekan tombol lantai sembilan. Sesaat terkurung di dalam lift, hingga pintu terbuka dengan bunyi ting. Barulah langkah kakinya berjalan kembali menuju apartemen sang kakak. Demi menjaga keamanan, pintu apartemen itu menggunakan kunci sidik jari.


"Ting-tong!"

__ADS_1


Suara pintu terbuka, pintu di dorong ke depan. Posisi ruangan yang gelap, membuat Denis menggunakan senter dari ponselnya untuk mencari saklar lampu. Setelah ketemu, barulah ditekan dan lampu utama menyala. Kamar yang luas dengan perabotan lengkap. Kakaknya menyukai seluruh ruangan tanpa sekat dan hanya memiliki batasan rak buku atau rak furniture.


"Aku harus semangat. Disini akan ku temukan masa lalu dari Ka Darren."


__ADS_2