Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 115: PENANTIAN TUAN MER - HARI SABTU


__ADS_3

Kenapa begitu? Semua itu karena dirinya seorang pemain ulung. Dimana untuk bermain di atas ranjang. Ia tidak puas, jika hanya untuk satu ronde saja. Orang-orang biasa menyebut sebagai hyper s3x. Dimana kelainan ini merupakan sebuah penyakit ketidaknormalan.


Anggun menjadi tempat pelampiasan oleh orang tak dikenal. Namun tidak dengan orang itu karena ia tahu benar. Siapa itu Anggun yang menjadi tawanannya. Pergulatan itu berakhir dengan deru nafas teratur karena terlalu lelah. Sementara nasib tak jauh berbeda menjadi milik Hazel. Di mana wanita itu harus berhubungan dengan orang-orang yang cukup menekan batinnya.


Awalnya, ia sudah senang karena Bryant percaya mereka melakukan hubungan satu malam. Akan tetapi, siapa sangka, apa yang ia lakukan itu akan menjadi boomerang. Ternyata pergulatan semalam direkam oleh sang kekasih dan tanpa izin darinya. Video itu menjadi sebuah tontonan gratis untuk menerima layanan dalam satu malam. Hidup bukannya semakin baik, tapi justru semakin rumit.


Waktu terlalu begitu cepat. Siang berganti malam. Kegelapan hanya sesaat berganti gemerlapnya lampu. Di sebuah club, seseorang sedang duduk menikmati pemandangan di depan mata. Dimana para bartender mondar-mandir melayani pelanggan dan para penari yang sibuk menggoyangkan pinggul di atas panggung. Namanya juga club. Tentu saja menjadi tempat bersenang-senang.


Suara jemari mengetuk meja berulang kali terdengar. Hal itu, ia lakukan hanya untuk menghilangkan kebosanan. Sudah hampir pukul 09.00 malam, tapi kenapa orang yang ditunggu masih belum juga muncul. Meskipun ingin menghubungi, tetap saja itu akan menimbulkan kecurigaan. Akan lebih baik, bersabar menunggu sebentar lagi. Berharap tidak ada kekecewaan yang melanda setelah membuang waktu dengan percuma.


Benar saja. Setelah menunggu selama beberapa menit, kemudian seseorang terlihat masuk ke dalam club. Pria dengan pakaian sedikit tertutup dan topi besar yang menutupi separuh wajah. Penampilan yang aneh dan justru menarik perhatiannya. Itulah orang yang dia tunggu, hampir selama dua jam terakhir, bahkan langkah kaki pria itu juga menghampiri mejanya.


"Selamat malam, Tuan Mer. Saya Mr. Smith. Boleh saya duduk?" tanya Mr. Smith tanpa menunggu dipersilahkan, pria itu langsung menarik kursi, lalu duduk di depan klien yang sudah menunggunya.


Orang yang menunggu langsung memperlihatkan jam tangan di pergelangan kiri. Di mana ia memberitahukan bahwa waktu pertemuan sudah terlewat terlalu jauh, menggunakan bahasa isyarat, "Kita batalkan saja kerjasama. Lagi pula, Anda tidak menepati waktu sesuai jadwal. Apakah Anda pikir, saya bukan orang sibuk?! Selamat malam."


"Maafkan saya, Tuan Mer, tapi saya datang terlambat karena memiliki alasan. Lihatlah! Siapa yang saya bawa," Mr. Smith mengulurkan tangan ke arah pintu masuk. dimana seorang wanita cantik masuk dan berjalan di antara kerumunan tamu club, "Model terkenal dengan body goal. Wanita itu yang akan memberikan Anda travelling kepuasan. Saya jamin, servicenya pasti memuaskan. Saya rasa, ini sepadan dengan penantian Anda, Tuan Mer."

__ADS_1


Sebuah lirikan mata, membuat senyuman pria di depan Mr Smith tersinggung. Pria itu, benar-benar merasa puas dengan apa yang akan didapatkan, "Apa dia memang wanita terbaik atau hanya seperti wanita lain? Semoga tidak mengecewakan. Jika dia berhasil memberikan malam istimewa. Kerjasama kita deal. Bukankah itu perjanjian kita?"


"Seperti yang Anda inginkan. Jika semua berjalan lancar. Maka kerjasama akan terus berlanjut. Jadi, saya tidak keberatan untuk memberikan orang yang terbaik agar bisa memuaskan malam Anda," Jawab Mr Smith dengan senyum licik.


Meski, beberapa pertanyaan mungkin tidak akan mendapatkan jawaban, tapi senyuman itu menandakan ia telah berhasil menaklukkan hati Sang klien. Jujur saja pemikiran itu terlalu dangkal. Jadi, biarkan saja, lagi pula ini namanya permainan kehidupan. Sudah pasti, ada kalanya orang harus merasa puas terlebih dahulu. Sebelum akhirnya jatuh. Mr Mer mengambil dompet, lalu memberikan sebuah kartu hotel pada Mr Smith.


Tidak ada satu kata pun, untuk menjelaskan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Keduanya tahu bagaimana peraturan transaksi itu akan berlangsung. Kali ini bukan tentang seberapa besar bayaran, tapi seberapa banyak hasil dari satu malam. Dimana nanti akan tergantikan dengan kontrak kerjasama pembangunan sebuah gedung real estate. Sungguh iming-iming yang luar biasa.


Transaksi itu berjalan dengan baik. Di mana Tuan Mer memilih langsung meninggalkan tempat yang ia duduki dan keluar dari pintu lain. Sementara Mr. Smith meminta sang wanita untuk ikut bersamanya meninggalkan klub menuju hotel. Apapun yang akan terjadi, biarlah menjadi malam transaksi. Diantara doa dan harapan, akan selalu ada pengorbanan. Terkadang pengorbanan itu hanya melepaskan, tapi kehidupan selalu bukan tentang keadilan.


Dua hari berlalu, hari ini adalah hari sabtu.


Terlihat Ara duduk bersanding dengan Mama Bella dan Bunga. Sementara Ocy, Kinara memilih untuk membantu Samuel menyiapkan sarapan pagi. Papa Angkasa, Bryant dan Om Al masih sibuk memeriksa beberapa file di ruang kerja. Semboyan pria adalah tiada hari tanpa bekerja, membuat para istri harus menghela nafas panjang karena merasa terabaikan.


"Ara, apa kamu tidak ingin sesuatu pagi ini?" tanya Mama Bella, membuat sang menantu berpikir keras tentang perasaan yang saat ini ia rasakan.


Bunga yang memperhatikan perubahan wajah Ara dari datar menjadi manyun. Sontak saja merasa gemas, lalu tanpa aba-aba langsung mencubit pipi si bumil, "Uft, menggemaskan. Ayo buat lebih embem lagi,"

__ADS_1


Mama Bella terkekeh melihat tingkah Bunga, tapi Ara mendelik sebal seraya mengusap pipinya sendiri, "Sakit tau, nanti gak bisa balik lagi pipiku. Gimana? Kenapa gak cubit pipi bibi aja? Tuh lihat, lebih tembem."


Ara yang menunjuk ke arah bibi pelayan yang sedang membersihkan jendela di sisi lain ruangan. Sontak membuat Mama Bella dan Bunga mengikuti arah tangan si bumil. Memang benar, bibi itu memiliki pipi tembem, tapi kan karena memang melar tubuhnya. Jadi ya beda rasa, masa mau di samaain. Lagian, usia juga lebih tua. Bisa jadi kualat malah.


"Kamu yang menggemaskan, kenapa jadi beralih ke bibi? Pipi di kembangin gitu, kan jadi pengen nyubit," tukas Bunga tidak mau kalah, dan Ara langsung mengamankan kedua pipinya menggunakan tangan, "Hehehe, gak sakit kok, sini, mau cubit dikit."


"Bunga lama-lama menakutkan, Ma. Mending Ara pindah aja duduknya," Ara bukan hanya sekedar berucap, tapi wanita itu beneran memilih berpindah tempat agar tidak duduk di antara sang ibu mertua dan istri sang paman, "Tiba-tiba pengen nasi goreng, ya."


Mama Bella tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Ara, "Mau mama buatin? Nasi goreng kesukaan suamimu, bagaimana?"


"Serius, Ma? Boleh, boleh." jawab Ara dengan tatapan mata yang menggemaskan.


...****************...


...----------------...


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭

__ADS_1



...----------------...


__ADS_2