
Drama kecil diantara Bryant dan Ara semakin sering terjadi. Apalagi sikap Ara yang selalu menggemaskan dengan kepolosan, sedangkan Mama Bella berharap. Semua kebahagiaan itu tidak akan surut seperti hempasan ombak di lautan.
Mama Bella hanya diam sembari mengabadikan moment antara putra dan menantunya. Kini bukan hanya foto, tapi video akan menjadi kenangan indah saat anak pasangan itu lahir. Bisa dijadikan sebuah inspirasi. Kurang lebih seperti itu.
Sepuluh menit kemudian. Bryant meletakkan mangkuk ke atas meja, lalu memberikan beberapa lembar tisu agar Ara bisa membersihkan bibirnya yang masih terkena yogurt. "Ara, Aku harus melakukan pekerjaan di luar. Jadi, jaga diri, makan tepat waktu dan jangan banyak pikiran. Mama dan yang lain akan ada bersamamu."
"Apa malam ini, kamu tidak pulang, Mas?" tanya Ara hampir terdengar samar.
Satu pertanyaan yang seharusnya tidak menyakiti hati bumil. Meski, memang banyak malam yang tidak mereka habiskan bersama. Keduanya bisa bersama setelah surat perpisahan yang menjadikan Bryant memiliki waktu tanpa harus dibagi untuk wanita lain.
"Nak, Bry pasti pulang tapi setelah pekerjaan selesai. Iya 'kan, Nak?" Mama Bella menggerakkan kursi rodanya untuk menghampiri pasutri itu, "Ara, bukankah kamu mau belajar cara memakai hiasan kepala yang kemarin? Ayo, kita belajar bersama."
"Mau, Ma. Baiklah, Mas boleh pergi, tapi pulangnya bawa mangga ya." Ucap Ara akhirnya setuju dengan permintaan kecil yang tidak boleh suaminya lupakan, membuat Bryant tersenyum. Lalu beranjak dari tempatnya duduk, kemudian mengecup kening sang istri agar tetap bisa tenang.
Ntah sejak kapan. Kebiasaan yang sederhana menjadi candu baginya. Kecupan kening sebelum berangkat kerja, atau setelah kembali bekerja. Ara melambaikan tangan seraya tetap menatap kepergian Bryant yang menjauh darinya. Tatapan bumil terkesan tidak rela, tapi tetap berusaha untuk menahan air matanya sendiri.
Mama Bella mengusap kepala menantunya yang memang memiliki mood jumping bak roller coaster. Kehamilan menantunya itu, sama persis seperti di saat dirinya hamil Bryant dulu. Jadi, ini seperti dejavu. Meski yang mengalami beda orang.
Kini tanggung jawab Ara ada di tangan Mama mertuanya, sedangkan Bryant terburu-buru meninggalkan hotel. Pria itu tak ingin menunda apapun. Lihatlah tangannya saja juga sibuk berselancar di atas papan ketik ponselnya.
Tiing.
__ADS_1
Suara lift yang terbuka, membuat Bryant meninggalkan lobi hotel dan langsung pergi ke tempat parkir. Dimana mobilnya berada. Sejenak pria itu fokus berjalan menyusuri parkiran yang cukup luas, hingga masuk ke dalam mobil. Barulah kembali fokus menatap layar ponsel dan tak lupa mengambil earphones agar bisa melakukan panggilan selama perjalanan.
Nomor pertama yang menjadi tujuannya adalah pengacara keluarga. Seharusnya memanggil Om Alkan, tetapi masih ada satu pengacara lagi yang menjadi asisten pamannya itu. Yaitu Pak Salim. Panggilan yang tersambung langsung teralihkan suara sapaan dari seberang.
"Pak Salim, Aku tunggu di pengadilan agama sekarang juga!" Bryant memberikan perintah, dan tanpa menunggu balasan. Panggilan diakhiri begitu saja. Kini panggilan beralih ke nomor lain, dimana seseorang yang selalu memberi perkembangan tentang Hazel akan menjadi tujuannya untuk mencari informasi kembali.
Namun, panggilan teralihkan. Ntah kenapa si agen detective yang biasanya sigap menjawab teleponnya. Tiba-tiba saja sudah dihubungi. Aneh, tapi tetap stay positif. Mungkin saja, pria itu semalam begadang karena kelelahan. Bisa jadi.
Singkat cerita. Mobil Bryant memasuki halaman yang cukup luas dengan tempat parkir di bawah pepohonan rindang. Tak perlu menunggu lama. Nampak mobil lain memasuki tempat parkir yang sama. Di saat yang sama kedua pria itu keluar dari dalam mobil masing-masing.
Pak Salim bergegas menghampiri Bryant, "Siang, Tuan Muda. Apa ada yang mendesak?"
Sontak saja, pria paruh baya itu mengamati penampilannya. Tidak ada rasa malu karena memang dia habis berkebun. Namun, disaat selesai membersihkan daun yang menyangkut. Tuan muda sudah berjalan di depan dan hampir memasuki pintu kaca pengadilan agama.
Tanpa menunda-nunda, Pak Salim berlari kecil menyusul Bryant. Dimana dia sendiri tidak tahu apa penyebab tuan mudanya mendatangi pengadilan agama. Padahal baru kemarin surat perpisahan dikeluarkan. Apa mungkin mau rujuk? Jika iya, sudah pasti bisa dipenggal kepalanya oleh nyonya besar.
Tak ingin berasumsi sesuka hatinya. Pak Salim ikut masuk ke dalam ruangan seorang hakim yang kemarin menangani perceraian Hazel dan Bryant. Dimana Tuan mudanya sudah dipersilahkan duduk oleh pemilik ruangan ber AC itu, "Permisi, maaf saya terlambat."
"Silahkan ikut duduk, Pak Salim. Jadi, kedatangan Tuan hari ini apa? Bisa katakan kepadaku." Ucap Pak Hakim mencoba untuk mendengarkan keluhan pria berkuasa yang selalu meminta keputusan cepat dalam setiap kasus yang bergulir.
Bryant mengambil ponselnya, lalu melakukan scrolling gallery sesaat. Kemudian meletakkan ponsel itu ke atas meja. "Namanya Ayesha Ramadhani. Aku ingin mendaftarkan pernikahan kami, dan pastikan pernikahan berlangsung hari minggu pagi. Tepat bersama ijab kabul saudaraku Samuel."
__ADS_1
Pak Hakim melihat foto yang ternyata adalah potret identitas seorang wanita muda dengan senyuman manis. "Sebaiknya, kita periksa dulu catatan wanita ini."
Bryant mempersilahkan, membuat Pak Hakim menghubungi asistennya agar mengambil semua informasi tentang Ara. Mereka bertiga menunggu dalam diam, hingga sang asisten mengetuk pintu. Sebuah file diberikan pada atasannya, lalu berpamitan undur diri.
Pak Hakim membaca dengan teliti dari informasi yang ada di dalam file itu. Ingin mengatakan banyak hal, tapi tidak akan berguna. "Anda bisa membaca semua ini." File itu diberikan ke Bryant, dimana tuan muda menerima tanpa berkomentar.
"Menurut dari catatan yang ada. Wanita bernama Ayesha Ramadhani masih tercatat menjadi istri dari pria bernama Akbar Wijaya. Jadi, jika ingin mendaftarkan pernikahan. Jawaban management manapun adalah larangan. Baik Hakim atau para ulama. Tidak bisa mengizinkan pernikahan itu terjadi."
"Kecuali, si pria menceraikan secara sah agama dan negara. Harus ada bukti surat perceraian seperti yang Anda lakukan kemarin. Sebelum surat itu ada. Maka, pernikahan tidak bisa dilangsungkan. Bukan hanya itu saja, Tuan Bryant."
Pak Hakim menarik nafas begitu dalam, sesaat menjeda penjelasannya. "Setelah perceraian sah. Wanita itu harus menjalani masa iddah selama tiga bulan sepuluh hari. Masa iddah ini demi kesehatan dan untuk memastikan. Jika dia tidak hamil dari suami sebelumnya."
"Apakah surat perceraian bisa diajukan dari pihak wanita? Ara ku, mengalami kasus tak biasa. Dia dijadikan alat penebus hutang oleh suami luknatnya." Bryant tak ingin menambah kerumitan proses perpisahan, jika memang harus mengikuti prosedur. Maka dia siap.
"Jika begitu, kumpulkan bukti dan minta wanita ini untuk mendaftarkan gugatan cerai atas kasus KDRT. Setelah itu, proses akan berlangsung sekitar sebulan. Berharap saja, pria yang menjadi suaminya mau melepaskan tanpa mempersulit keadaan." Jelas Pak Hakim yang langsung memancing gebrakan meja dari tangan Bryant.
Rasanya benar-benar geram. Bagaimana bisa, dia bersikap teledor. Setelah berjalan sejauh ini. Justru hubungan baik akan kembali menjadi rumit. Pak Salim mengambil alih kasus, agar Tuan Muda tidak semakin emosi. Ntah apa yang dibicarakan pengacara dan Hakim.
Bryant memejamkan mata mencoba menarik nafas dalam agar bisa menetralkan emosinya yang menggebu-gebu. Setelah kehamilan Ara. Kenapa baru sadar sekarang. Jika wanita itu, tetap berstatus istri pria lain? Dulu, dia merasa bersalah karena merenggut mahkota Ara dan hari ini. Penyesalan lain datang menghampiri tanpa permisi.
Tiba-tiba ingatan akan malam pertama kembali melintas, "Bagaimana hukumnya, jika selama pernikahan suami tidak memberikan nafkah batin kepada istrinya?"
__ADS_1