Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 55: BRYANT WITH BUNGA II


__ADS_3

Pertanyaan Bunga, membuat Bryant mengubah posisinya. "Janji yang mana?"


"Hadiah pernikahan ku. Apa kamu ingat?" tanya balik Bunga.


Seketika Bryant paham kemana arah pembicaraan gadis itu, "Kapal pesiar sudah ku pesan atas nama mu. Kapan kamu akan menikah?"



(Janji Bryant sebagai hadiah pernikahan Bunga 🧐)


"Wow, sungguh?" Bunga membulatkan mata tak percaya, "Apa kapal pesiar pribadi seperti impian ku?"


"Janji adalah hutang. Kapal pesiar seperti keinginanmu sebagai hadiah pernikahanmu nanti. Apa harus ku kirim sekarang?" Ucap Bryant meyakinkan saudara perempuannya.


Bunga menahan diri untuk tetap merahasiakan pernikahannya dengan Al. Namun, ekspresi wajah tak bisa berbohong. Semburat warna merah di kedua pipi gadis itu, membuat Bryant menerka-nerka. Seketika ingatan akan buku nikah di dalam lemari kembali hadir. Keranjang buah di letakkan ke bawah, lalu berjalan menghampiri lemari kembali. Kemudian ia membuka lemari.


"Eh, Bro. Apa yang kamu....,"


Isyarat tangan Bryant menghentikan ucapan Bunga. Gadis itu merasa gugup, dan berpikir keras apa yang harus ia lakukan. Jika kebenaran terbongkar tanpa ada Al. Siapa yang akan menjelaskan situasinya pada saudara lelakinya itu?


"Bro," panggil Bunga dengan gugup.

__ADS_1


Braak!


Suara kencang lemari ditutup mengejutkan Bunga. Bryant menggenggam kedua buku nikah di tangan kanannya yang terangkat menghadap gadis itu dengan tatapan mata serius. Raut wajah tegas tanpa ekspresi.


"Bisa jelaskan ini apa?" tanya Bryant tegas.


"Bro, itu buku nikah. Apalagi....,"


"Bunga Alkan Putra!" Bryant melangkah maju mendekati bunga, tindakannya membuat gadis di depannya menundukkan wajah, "Apa kamu tidak bahagia menikah dengan paman Al?"


"Aku sangat bahagia." jawab Bunga tanpa menatap Bryant.


Bryant memegang bahu Bunga seraya satu tangannya ia gunakan untuk merengkuh dagu sang adik, hingga tatapan keduanya saling bertemu.


Bunga menggelengkan kepala.


"Jadi, apa alasanmu menundukkan wajah?" tanya Bryant lagi.


"Aku, takut, kamu salah paham dengan pernikahan kami. Jangan marah dengan Om Al. Semua terjadi karena diriku." Jelas Bunga, tetapi tangan yang saling bertautan menjelaskan hal lain.


Bryant menghela nafas pelan. Ia sadar gadis di depannya masih menuju masa kedewasaan. Tak ingin membuat Bunga takut padanya. Maka lebih baik mengajak gadis itu untuk duduk bersama di sofa. Segelas air kembali diberikan agar meredakan emosi yang pasti bergejolak tak tenang.

__ADS_1


"Minumlah!" titah Bryant tak ingin di bantah.


Bunga hanya menerima gelas tanpa berniat meminumnya. Tindakannya membuat Bryant menggelengkan kepala pelan, lalu mengusap kepala sang adik penuh kasih sayang. Sentuhan seorang kakak perlahan mengubah ketegangan di wajah Bunga menjadi normal.


"Good girl. Sekarang ceritakan bagaimana pernikahan ini bisa terjadi. Aku tidak mau kehilangan sedikit moment kehidupan adik dan pamanku. Ayo, ceritakan!'' Ucap Bryant lembut.


Bunga mendongak membalas tatapan mata Bryant yang tenang meneduhkan. Satu kedipan mata sang kakak menghadirkan senyuman indah di bibirnya. Kebahagiaan yang tengah ia rasakan tak lagi terbelenggu rasa takut. Buih-buih cinta memuncak seperti letusan gunung berapi.


"Kakak tahu 'kan bagaimana Om Al. Pria dingin dengan pesona mematikan. Sungguh aku jatuh hati. Semua terjadi karena takdir kami berjodoh." Bunga mulai bercerita awal mulai drama sebelum akhirnya bisa menikah dengan Al, tetapi ia tak menyertakan kebenaran hidup seorang Alkan.


Apapun yang menjadi rahasia Al suaminya. Maka itu adalah rahasianya juga. Ia tak ingin mengurangi rasa hormat, dan cintanya tak akan pernah berubah. Bryant menjadi pendengar setia curahan hati sang adik. Cerita nyata yang diiringi senyuman kebahagiaan dan juga air mata haru. Namun, berbeda dengan kebersamaan keduanya. Ditempat lain suara kencang musik siap menggetarkan panggung di tengah ruangan.


Goyangan para penari begitu liar. Penampilan yang fantastis minim bahan, dan deretan minuman impor. Bartender yang hilir mudik memberikan pelayanan terbaik. Tak lupa beberapa pengunjung yang siap merogoh kocek dalam untuk bersenang-senang sudah duduk manis di kursi panas.


Seorang pria dengan topeng duduk di kursi paling sudut. Satu jentikan jarinya membuat seorang bartender mendekati meja yang letaknya sangat strategis. Langkah kaki sang bartender berhenti di depan pelanggan VVIP Club D'Mouza.


"Siang, Tuan. Mau pesan apa?" tanya bartender itu siap melayani.


Tidak ada kata selain isyarat jari telunjuk. Sang bartender mencoba memahami bahasa tamunya, hingga tatapan mata menangkap maksud pria itu. Dimana seorang pelanggan lain yang duduk dengan jarak lima meter tengah meneguk minumannya.


"Tuan ingin saya memesannya?" tanya Bartender memastikan.

__ADS_1


Pria yang duduk di kursi VVIP langsung bangun, tetapi tangannya meletakkan sebuah kunci kamar hotel ke atas meja. Bartender menganggukkan kepala paham apa keinginan tamunya yang satu itu.


"Saya akan kirimkan pesanan Anda." Ucap bartender, membuat pria itu berjalan meninggalkan tempatnya.


__ADS_2