
"Miss you," ucap Bunga lirih.
Papa Bram melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah cantik pemilik mata hazelnut. Setelah menyelesaikan pekerjaan di luar kota. Baru hari ini bisa menemui sang putri tercinta. Sungguh, rasa rindu itu semakin besar. Setelah melepaskan tanggung jawab seorang ayah. Ternyata ada rasa kehilangan sosok gadis nakal yang periang dari kediaman dan kesehariannya.
Bunga tersenyum manis untuk menyambut pria yang selalu menjadi pahlawannya itu, "Ada apa, Pa? Aku bahagia dengan pernikahan ini, jangan khawatir, ok. Lagipula, Papa tahu, keluarga kita menjadi semakin besar. Kalian selalu ada dan mendukung satu sama lain. Jadi, tersenyumlah, Pa."
Bukan tanpa alasan. Kenapa wanita itu berusaha meyakinkan sang papa. Lihat saja tatapan mata Papa Bram yang berusaha mencari celah kebenaran. Jangan sampai putri semata wayangnya tidak bahagia. Apalagi pernikahan yang dadakan, pasti menimbulkan pro dan kontra di antara suami istri. Namun, sikap dewasa Bunga, membuat hati seorang ayah lega.
Sekali lagi, direngkuhnya tubuh Bunga dengan membenamkan kecupan hangat di kening sang putri. Rasa rindu yang terpendam mulai berkurang, kini hatinya tenang. Gadis kecil yang dulu selalu mengekor, sekarang menjadi seorang istri pengusaha hebat. Meskipun, umur terpaut jauh. Ia tahu, putrinya sanggup beradaptasi dengan dunia baru. Pertemuan ayah dan anak harus berhenti sesaat, ketika suara panggilan dari dalam rumah terdengar.
"Ayo, kita masuk! Papa bawa hadiah dari perjalanan kemarin," Ajak Papa Bram tanpa melepaskan tangan Bunga, keduanya berjalan meninggalkan pinggir kolam renang, lalu masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga.
Terlihat seluruh anggota keluarga sudah berkumpul, dan yang menjadi pusat perhatian tetaplah Ara. Dimana istri siri Bryant harus menerima banyak pertanyaan dari Mama Milea. Melihat hal itu, Mama Bella berusaha menyelamatkan sang menantu agar tidak menganggap tekanan karena kehebohan adik iparnya.
"Nah, itu Bunga udah datang. Masa Ara terus yang di tanyain, gak mau tanya kabar anak gadis satunya lagi, nih?" Mama Bella mengalihkan perhatian dengan sindiran halus, tentu saja agar tidak menyakiti hati Milea yang notabene adalah adik iparnya.
Mama Milea beranjak dari tempat duduknya, lalu menyambut Bunga dengan merentangkan kedua tangan. Sontak Papa Bram melepaskan tangannya membiarkan anak dan istri saling berpelukan. Namun, tatapan matanya teralihkan karena wajah Ara terlihat sangat familiar. Wajah dengan mata teduh, tapi polos. Dimana ia pernah melihat itu?
Bukan hanya itu saja, postur tubuh. Rambut hitam yang panjang, warna kulitnya. Keseluruhan yang ada pada Ara seperti cetakan sama. Namun, satu hal ia sadari. Usia gadis itu, pasti sama dengan usia bunga. Jadi, tidak mungkin orang yang sama, seperti yang terlintas di dalam benaknya.
__ADS_1
"Ka, siapa gadis itu?" tanya Bram penasaran, membuat Bella menyambar bantal lalu melemparkan ke adik bar-barnya. Tanpa kesulitan, ia menangkap bantal itu, "Eh, kok malah dilempar bantal. Kakak ini kenapa?"
"Pa, dia Ara, istri siri Bryant. Jadi, dia juga putri kita. Baru aja bercanda dikit, ibu mertua sudah bertindak," Milea memberikan jawaban agar rasa penasaran sang suami tidak berkembang, sedangkan Bunga terkekeh karena merindukan momen yang penuh kehangatan keluarga, "Cantiknya mama, apa sudah ada kemajuan?"
"Kemajuan apa, Ma?" tanya Bunga tak paham, lagian si mama tiba-tiba tanya kemajuan. Kan bukan negara, jadi apa yang harus dimajukan.
Mama Bella paham maksud dari adik iparnya, sedangkan Papa Bram masih saja mengamati wajah Ara. Dimana istri Bryant selalu menundukkan kepala. Sekilas ingatan masa lalu terdengar melalui suara tawa dan juga gemerincing gelang tangan. Tanpa mengindahkan percakapan para wanita. Pria itu mencoba mengingat hal yang sudah terlupakan. Wajah dengan pesona anggun, tapi terdiam seribu bahasa.
Apakah mungkin, gadis itu anak dari dia? Tidak. Jangan sampai masa lalu itu kembali lagi. Aku tidak mau, putriku terluka. Oh my god, kenapa aku kembali mengingat dia. Ini sudah terlalu lama. Namanya saja sudah ku hapus dari ingatan.~batin Bram seraya menghirup udara sebanyak mungkin untuk menormalkan perasaannya.
Untung saja, semua orang sibuk. Jadi tidak ada yang menyadari perubahan ekspresi wajah Bram, bahkan semua anggota duduk di sofa ruang keluarga untuk mendengarkan cerita dari Mama Milea. Sementara Bunga sibuk memeriksa setiap kotak kado. Satu kebiasaan gadis itu, tidak akan duduk diam ditempat, membuat Kinara yang memperhatikan setiap gerakan Bunga merasa heran.
Sorak bahagia Bunga mengalihkan perhatian semua orang, dimana gadis itu menatap kado berukuran sedang dengan bungkus warna putih polkadot. Ntah apa isi dari kado itu, tapi melihat reaksi istri Al. Jelas, ada barang yang sangat berharga. Mama Milea tersenyum, lalu mengambil satu kado lagi dengan bungkus yang sama.
"Bunga, bukan itu, tapi ini punyamu. Mama memasang tanda khusus, ini," Ujar Mama Milea mengulurkan kado ditangannya, membuat Bunga salah tingkah, ''Ambil juga kado itu, keduanya memang untukmu. Ka Bella, aku tidak tahu kalau istri Bryant akan tinggal disini. Jadi, hadiah akan ku kirim sore ini...,"
"Tidak usah, Milea. Doakan saja pernikahan Ara dan Bryant langgeng. Semoga anak mereka bisa sehat, dan ibunya juga, sampai proses persalinan nanti," Mama Bella sengaja memotong ucapan sang adik ipar, jujur saja ada rasa takut yang menyusup. Jangan sampai ada yang salah sebut, hingga nama menantu pertama diungkit.
"Wah, Ara hamil. Selamat ya, sayang. Akhirnya, aku bisa jadi nenek, maafin semua candaan tadi ya. Sebagai rasa syukur...," Mama Milea menjeda ucapannya, lalu melepaskan kalung liontin yang ia pakai, kemudian mengalungkan ke leher Ara tanpa permisi, "Hadiah untukmu, semoga ibu dan anak tetap sehat. Doaku menyertaimu, Nak."
__ADS_1
"Maaf, tapi...," ucap lirih Ara ingin menolak pemberian Mama Milea, tapi gelengan kepala Mama Bella menghentikan niatnya.
Kebahagiaan itu seperti virus. Dimana satu senyuman bisa memberikan semangat baru. Begitu juga disaat kita menunjukkan kesedihan. Maka, rasa lelah terasa mencengkram. Sesungguhnya, kebahagiaan itu selalu sederhana. Hanya saja, manusia terlalu memikirkan banyak hal dalam ketidakpastian dan juga negatif thinking. Cobalah tetap tenang dan tanamkan pada diri sendiri. Semua baik dan akan membaik.
Keluarga Putra memulai kehidupan baru mereka dengan banyak kebahagiaan. Hari ini, mereka bersatu ditemani suka cita. Esok, siapa yang tahu? Roda kehidupan akan terus berputar. Kebahagiaan, kesedihan akan selalu menjadi babak kehidupan yang tidak mungkin dipisahkan dan berakhir menjadi misteri. Kebersamaan itu mengikat banyak hubungan.
Namun, di lantai atas. Seseorang terdiam memperhatikan segalanya, tapi dia tidak berniat untuk turun dan berkumpul bersama keluarga. Jujur saja, ada yang tengah mengusik hatinya. Angan yang melambai dengan harapan tinggi, andai saja dulu sama seperti hari ini. Apakah dia bisa melihat tawa dan juga kebahagiaan semua orang? Tiba-tiba saja, ada tepukan di bahu mengagetkan, menghapus jejak sang angan.
"Kebiasaanmu tidak berubah. Mau sampai kapan meratapi nasib malang mu? Ayolah, boy. Bersyukur dengan semua yang kamu punya. Jangan sampai ada penyesalan lain di kemudian hari, mungkin aku tidak lagi berdiri untuk menjadi pendukungmu."
...****************...
......................
Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭
......................
__ADS_1