Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 158: KEPERGIAN MAURA


__ADS_3

"Relax. Maura bukan wanita yang lemah. Tarik nafas, lalu hembuskan secara perlahan. Aku tidak buru-buru memeras emosimu."


Persetujuan Maura mengakhiri satu tahap pekerjaan Zack. Pria itu langsung mengirim pesan pada sang Bos agar mendapatkan perintah lanjutan. Pasalnya, semua harus terjadi sesuai rencana dan keinginan Bos Altra. Jika tidak, bisa jadi apa yang menjadi tujuan berubah menjadi malapetaka baru.


Zack pergi meninggalkan rumah bordil dengan membawa surat perjanjian yang sah, sedangkan Maura langsung memerintah duo K untuk menutup tempat hiburan malamnya selama beberapa waktu. Tanpa berpikir panjang, wanita itu mengemas sebagian pakaian yang tersimpan rapi di satu bagian lemari.


Sebuah koper sedang menjadi pelabuhan para kain yang kini akan menemani harinya. Maura juga menyiapkan uang cash serta beberapa perhiasan dan juga kartu ATM. Setelah memastikan semuanya lengkap. Barulah bersiap untuk pergi meninggalkan rumah bordil.


Tiga puluh menit kemudian. Semua anak buah dan juga para wanita penghibur berkumpul di aula. Aroma wine yang menusuk, masih menjadi penghias lantai. Terlihat bisik-bisik dari semua penghuni, tetapi tidak satupun bisa berteriak sesuka hati. Ketika suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga, semua mata terkesiap.


Seorang wanita dengan wajah cantik pemilik mata hitam mengkilap berkelopak mawar, bulu mata lentik. Rambutnya terurai dengan hiasan bando tipis bunga. Suara gemericik gelang hitam di tangan kiri dengan jam tangan di tangan kanan. Gaun sepanjang lutut, sedangkan atasannya belahan dada rendah. Ditambah sepatu sneakers ala anak jaman now.


Siapa yang akan menyangka? Jika MamCa berubah menjadi wanita muda, bahkan semua anak buahnya jauh kalah cantiknya. Kemana kecantikan itu bersembunyi? Apakah ini yang menjadi rahasia? Semua pertanyaan, tidak akan ditanyakan karena wajah cantik itu. Tidak menyunggingkan senyuman.


Koper diletakkan, lalu Maura duduk di kursi yang sudah disediakan duo K. Tatapan matanya menelusuri seluruh wajah yang selama ini bekerja padanya. Meskipun, dia kejam. Bukan berarti akan memaksakan para anak buah untuk melayani pria yang sesuka hati. Sebagai seorang muc!kari, dia tahu cara menghargai seluruh pekerjaan di rumah itu.


"Rumah ini, bukan hanya sekedar rumah. Aku membangunnya dengan hasil jerih payahku bekerja sebagai pelayan club selama tiga tahun. Selama ini, aku berusaha untuk adil dengan kalian semua. Pasti kalian bertanya-tanya, siapa aku sebenarnya? Kenapa wajah ini selalu bersembunyi dibalik make up?"


Maura menundukkan pandangan, kedua tangan saling bertautan. Suara cambukan terdengar begitu keras menggema di gendang telinganya. Semakin sering, hingga kedua tangannya saling mengepal. Wanita itu berusaha menahan seluruh mimpi yang hinggap di dunia nyata.


"Mam, apa kamu baik-baik saja?" tanya Duo K berbarengan, meskipun keduanya preman bengis. Tetap saja, Maura adalah penyelamat hidup mereka.


Maura mengangguk, "Disaat kehidupan memberikan jalan berduri. Aku mencoba bertahan. Kalian menjadi pemuas nafsu pria hidung belang, tapi kalian tidak pernah merasakan menjadi anak pemuas hewan."


Semua orang yang mendengar itu, seketika saling pandang, membuat Maura menghirup udara sebanyak mungkin. Kisahnya akan selalu penuh luka penghinaan dengan air mata derita seorang gadis belia. Ingin sekali bercerita agar tidak ada Maura lain yang menjadi korban keluarga atas nama balas budi.


"Duo K, kalian akan tetap menjadi penjaga dan selalu lindungi anak rumah ini. Satu lagi, meskipun kalian harus melayani para tamu. Pastikan, hanya pelanggan yang sudah sering kemari. Jangan izinkan pelanggan baru untuk masuk ke kamar, selama aku tidak disini."

__ADS_1


Maura beranjak dari tempat duduknya, lalu menarik koper yang siap menjadi pendampingnya, "Jaga diri kalian baik-baik."


Akhirnya, wanita itu harus berpamitan pada tempat yang selama lima tahun terakhir menjadi tempatnya berlindung dari panas dan hujan. Perjuangan yang lalu, seperti sejarah yang tidak bisa diubah kembali. Kini, yang tersisa hanya secuil harapan.


"MamCa, tetaplah di rumah. Kami mohon," bujuk semua orang, tetapi hanya sekilas senyum yang mereka dapatkan.


Tidak peduli sekeras apapun. Semua orang tidak mungkin bisa menghentikan langkahnya untuk memulai sesuatu yang baru.


Langkah kakinya perlahan menjauh dari kerumunan para anak buahnya. Dia tahu, ini yang terbaik untuk semuanya. Apapun yang akan terjadi. Sudah pasti menjadi garis hidupnya. Meskipun untuk masa depan. Dia harus menjadi seorang pelayan, lagi.


Kepergian Maura, ternyata sudah ditunggu sebuah mobil sedan hitam di depan rumah bordil. Wanita itu bergegas memasukkan koper, lalu ikut masuk ke kursi belakang. "Jalan, Pak!"


Mobil sedan itu kembali melaju meninggalkan rumah yang selalu memberi pundi uang dengan cara menjual diri. Pasti semua berpikir. MamCa wanita tidak punya hati. Memang benar, tapi apakah kalian tahu. Jika seorang wanita bisa menjadi buruk, kehidupan seperti apa yang pernah mereka lalui? Tidak.


Secara rasional. Semua orang akan mengecam. Jika pekerjaan para wanita malam adalah pekerjaan terburuk. Cobalah tengok dari sudut pandang lain. Lihatlah, dunia ini tidak sesederhana kuncup bunga yang mekar. Semakin banyak siksaan batin yang dirasakan. Maka semakin luka itu memberikan pelajaran yang tak ternilai.


Selama beberapa jam terakhir. Surat pemberitahuan akan komplain dan permintaan ganti rugi terus saja berdatangan, hingga menumpuk di meja kaca. Akan tetapi, tak satupun surat dilirik oleh si pemilik kontrak. Wanita itu adalah Hazel.


"Zel, apa kamu ini masih sadar?" tanya seorang pria dengan penampilan ala wanita, dia itu si penata rias yang menjadi MUA sepanjang karir Hazel.


Hazel enggan untuk menjawab, tapi sudah cukup mendengarkan celotehan si MUA, "Bisa diem, gak? Aku tidak peduli dengan semua ini."


Wanita itu, menyempar semua tumpukan kertas yang di matanya hanyalah sampah, hingga berserakan ke seluruh ruangan. Sontak saja, Si MUA mengelus dadanya karena terkejut. "Zel, Loe ini dibilangin susah. Terserah deh, mau masuk penjara atau ganti rugi. Gue mending cabut."


Si MUA sudah jenuh dengan sikap arrogant model yang semakin hari. Justru semakin menjadi over. Padahal, kali ini masalah sudah sangat serius. Tetap saja, wanita itu tidak mau mendengarkan saran ataupun nasehatnya. Maka, lebih baik untuk meninggalkan ruangan yang semakin memanas.


MUA itu menutup pintu ruangan Hazel tanpa perasaan. Suara gebrakan membuat semua orang yang ada di luar ruangan terkejut. Wajah gemulai berubah menjadi geram dan kesal. Tidak seorangpun berani bertanya karena bukan rahasia umum lagi. Jika model satu itu perlahan mulai jatuh popularitasnya.

__ADS_1


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


.


.


.


.


*Setiap jalan kehidupan adalah pilihan.


Terkadang, kita lupa.


Jika kehidupan ini terlalu singkat.


Ada kalanya, ambisi mengubah haluan arah.


Jangankan waktu, takdir pun mampu terlepas dalam sekejap mata.


Seperti malam tanpa rembulan dan bintang.


Seperti hujan tanpa pelangi.


Mungkinkah, tangkupan doa menjadi akhir segalanya?


Biarlah mengalir pada harapan yang semu.

__ADS_1


Biarlah mengetuk pada Asa yang tersisa*.


__ADS_2