Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 103: JEJAK SEMALAM


__ADS_3

"Wanita nakal. Apa kita akan melakukan di sini. Ayolah, lihat suamimu saja masih terlelap. Jangan sampai, suara kita membangunkannya. Kamu tahu, itu tidak baik. Jadi, mari kita ke tempat yang memang hanya untuk bersenang-senang. Aku tidak sabar merengkuh kenikmatan dari kesayangan ku," bisik pria yang langsung merengkuh tubuh Hazel ke dalam gendongannya, bahkan wine yang ada di dalam gelas tumpah ke lantai.


Hazel dan kekasih gelapnya meninggalkan kamar. Langkah yang pasti menyusuri lantai hingga menaiki anak tangga. Permainan kali ini, bahkan tidak tanggung-tanggung. Dimana wanita itu telah membuat semua orang di rumah itu, terlelap dalam pengaruh obat tidur. Kedua insan yang dimabuk asmara itu, langsung bermain pagutan bibir sembari berjalan menuju kamar atas.


Meskipun semua terlelap. Namun tanpa keduanya sadari. Apapun yang mereka lakukan terekam dalam kamera tersembunyi. Setiap detail sentuhan dengan hasrat tak tahu malu. Malam ini adalah malam panas untuk Hazel bersama kekasih gelapnya. Wanita itu berpikir, jika malam ini terlewatkan dengan olahraga ranjang. Maka, semua akan menjadi miliknya kembali.


Esok dia bisa berkata, bahwa ia telah bermalam dengan suaminya sendiri. Rencana yang sempurna. Malam itu berlalu begitu indah untuk Hazel. Wanita itu, memberikan segalanya untuk sang kekasih dengan godaan nafsu dan juga kenikmatan dunia. Suara yang menginginkan lebih, lagi dan lagi terus berulang kali terdengar sepanjang malam, dari dalam kamar utama. Sentuhan yang menggelora berakhir menjadi kepuasan jiwa dan raga.


Kedua insan itu tenggelam dalam buaian tanpa sehelai benang pun. Malam berlalu begitu cepat. Sang rembulan menghilang bergantikan sinar mentari pagi yang berambut suara kicauan burung terdengar begitu merdu. Pagi yang indah dengan semangat baru dan harapan baru. Akan tetapi, seseorang tengah merasakan sakit di ujung kepala. Baru saja, dia membuka mata, tapi rasa berputar itu terasa begitu menyakitkan.


Sesaat ia memperhatikan dimana dirinya berada. Dia melihat sang istri terlelap di sisinya, tapi warna merah yang terlihat jelas di leher Hazel. Seketika satu pertanyaan melintas. Apa semalam mereka melakukan malam panas? Jika iya, kenapa tidak mengingat itu. Kesadaran yang masih diatas awan, membuat pikiran tidak bisa berpikir jernih. Tiba-tiba saja, sang istri membuka mata, lalu tersenyum begitu manis.


"Pagi, Suamiku tercinta. Terima kasih untuk semalam. Kamu yang terbaik," Hazel memuji Bryant, seakan memang benar semalam adalah malam panas keduanya.


Jujur saja, pria itu tidak percaya. Ingatan semalam masih terekam jelas. Dimana setelah makan malam bersama. Dia memilih untuk masuk ke kamar tamu, lalu mengerjakan pekerjaan kantor. Bayang-bayang akan malam panas, tidak sekalipun terlintas. Jadi, bagaimana bisa mereka menghabiskan malam bersama? Apalagi, disaat bangun tidur. Kepala berputar karena merasakan pusing yang luar biasa. Sudah pasti, itu bukan hal wajar.


Pikirannya, perlahan kembali mulai tenang. Meski, tetap saja tatapan Hazel menjelaskan, bahwa memang benar semalam terjadi sesuatu diantara keduanya. Tak ingin memperpanjang sebuah masalah atau mencari kebenaran dengan cara bertanya. Bryant menyingkirkan selimut, "Aku akan mandi karena hari ini harus pergi ke kantor untuk rapat penting."

__ADS_1


"Sayang, ayolah libur hari ini. Please, kita bisa habiskan waktu bersama seperti semalam," bujuk Hazel berusaha membuat sang suami kebingungan. Akan tetapi, suaminya tidak mendengarkan dia dan justru pergi begitu saja.


Langkah Bryant tetap meninggalkan sang istri. Pria itu bergegas masuk ke dalam kamar mandi tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Hazel. Di saat ia telah berada di dalam kamar mandi. Pintu tak lupa di kunci. Kini ditatap nya tubuh polos dari pantulan cermin. Memang benar, saat terbangun tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.


Akan tetapi, bagaimana bisa tubuhnya tetap putih? Jika benar terjadi malam panas. Kenapa jejak dari kenikmatan dunia tidak meninggalkan bekas meski hanya satu stempel merah. Bukankah itu mustahil. Lagi pula, selama ini ketika mereka melakukan hubungan suami istri. Maka, baik dia ataupun Hazel akan selalu memiliki tanda-tanda bukti dari jejak cinta keduanya. Lihatlah, sekarang tidak ada satu jejak pun.


Rasa panas di dalam hati dengan pikiran yang terbang melayang, membuat ia mengepalkan tangan dengan erat. Ada yang mengusik batinnya. Alasan itu adalah tentang apa yang terjadi semalam. Jejak di tubuh tidak ditemukan, tapi jejak di tubuh Hazel begitu jelas. Warna merah kehitaman yang berjejer dari leher hingga ke ujung dada. Apakah mungkin semalam seseorang datang untuk memuaskan sang istri?


Jika iya, kenapa dia tidak tahu? Keanehan-keanehan itu, semakin bergelut di dalam kepalanya. Rasa penasaran yang ia miliki hanya bisa ditenangkan dengan kucuran air shower yang dingin. Sejenak menikmati tetesan air yang membuat kepala dingin dan bisa kembali berpikir jernih. Satu persatu potongan ingatan ia kumpulkan, lalu mencoba untuk mengambil beberapa kesimpulan.


Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa. Semua sudah cukup jelas. Makan malam yang ditemani keheningan, lalu kesibukan masing-masing. Permintaan Hazel yang kemarin untuk bermalam di hotel D'Lux Garden. Belum lagi suara-suara yang tidak bisa ia ingat. Akan tetapi, saat ia mengingat kembali dari semua rangkaian peristiwa. Ia ingat, ada sesuatu yang tumpah di lantai dan juga aroma wine dari bibir sang istri.


"Jadi, bagaimana caraku memberikan hak seorang istri? Ketika aku saja tidak dalam keadaan sadar. Sudahlah, aku terlalu banyak berpikir. Akan lebih baik, aku periksa CCTV langsung. Yah, nanti saat aku telah sampai di kantor," Monolog Bryant pada dirinya sendiri dan bergegas memulai ritual mandi, apa yang dirasakan dan dipikirkan pria itu cukup menjadi miliknya seorang.


Apa yang dialami pria itu. Dia berusaha mencerna, lalu menjabarkan dengan harapan agar tidak kembali melakukan kesalahan seperti di masa lalu. Dimana ia tidak berpikir dua kali untuk mengucapkan janji. Sementara itu, Hazel memilih kembali terlelap. Sungguh tubuhnya terasa sangat lelah dan kehilangan semua tenaga. Apalagi setelah melayani sang kekasih selama beberapa ronde. Beda lagi ketika ia bermain ranjang bersama sang suami.


Bryant bukan tipe pria yang akan membiarkan wanitanya kelelahan. Pria itu cukup tahu dan sadar berapa banyak harus melakukan hubungan suami istri. Namun, tidak dengan kekasihnya. Sang kekasih akan terus bermain, hingga merasakan puas dengan pelepasan berulang kali. Maka, ketika olahraga masih diambang batas normal. Bisa dipastikan suara derit ranjang akan terus berlanjut. Tidak peduli, jika harus sampai dini hari atau mungkin siang hari.

__ADS_1


Jika ingin jujur. Sebenarnya, lebih memuaskan ketika bermain ranjang dengan kekasih gelapnya. Daripada dengan sang suami. Meski Bryant mampu untuk memberikan kepuasan yang jauh lebih nikmat. Tetap saja, pria itu terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting. Namun dari semua itu, sebagai wanita yang hanya ingin mendapatkan kepuasan. Sekaligus mampu memberikan kepuasan yang begitu menggila. Hazel tidak puas dengan treatment dari Bryant.


Pada intinya. Sang suami tidak bisa memberikan apa yang kekasih gelapnya bisa berikan. Ia ingin pria yang bisa menyeimbangkan seperti imajinasi liarnya. Maka, tidak heran. Ketika dia bisa membuat banyak para pria tergila-gila dengan permainan ranjangnya. Siapapun yang berani membayar dan menikmati sentuhan seorang Hazel. Bisa dipastikan tidak satupun akan menolak. Jika ditawarkan untuk kembali menikmati malam bersama.


Meninggalkan pikiran seorang istri yang hanya memikirkan kepuasan lahiriah. Istri lain tengah menatap Sang suami yang baru saja datang di pagi hari. Tatapan mata penuh kerinduan. Namun, ia tak berani untuk menyapa atau sekedar memberikan pelukan. Sungguh, ia tidak bisa mengekspresikan rasa rindunya pada pria itu.


Rasanya ingin sekali menangis dan berteriak mengatakan maaf. Bukan karena ia menyadari bahwa semua ucapannya salah, tapi ini semua karena ia benar-benar tidak bisa hidup tanpa sang suami. Dilema di hati dengan pikiran kacau. Rasa sesak di dada. Semua itu menjadi satu. Lihatlah pria di depan sana yang masih tak peduli dengan keberadaannya. Apalagi hanya sekedar menatap, atau mengucapkan selamat pagi.


Apapun yang wanita itu pikirkan. Dia hanya berpikir seperti apa yang diinginkan. Akan tetapi, pria yang diharapkan untuk menoleh sudah menyadari semua perubahan itu, "Mau sampai kapan, kamu melihatku seperti itu? Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu, tapi tatapan matamu menjelaskan banyak hal. Apakah kamu melupakan ucapanku yang terakhir. Kemarilah! Kita bisa duduk bersama dan membicarakan apapun yang menjadi isi hati dan pikiranmu."


...****************...


......................


Reader's tersayang, jangan bosen ya, setiap hari, othoor kasih rekomendasi novel yang bisa menemani kalian di waktu senggang. Yuk kepoin, tinggalkan jejak juga 😁 mari kita sebarkan semangat. Berkat kalian, Author lanjut nulis, loh. 🤭


__ADS_1


......................


__ADS_2