Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 156: CURAHAN HATI BERUJUNG SYARAT


__ADS_3

Setiap hari, ada saja yang menjadi permintaan. Memang saat hamil, akan ada fase ngidam. Satu harapannya, semoga tidak seperti Ara. Dimana pasti meminta sesuatu tanpa mau menunggu waktu. Bumil satu ini, sikapnya melebihi anak kecil.


Setelah melakukan argumen kecil. Akhirnya Sam berhasil mengajak Ara untuk meninggalkan tempat kumpul keluarga mereka. Keduanya berjalan melewati taman gantung yang ada di lantai delapan. Banyak sekali tanaman hias hijau yang memiliki bunga warna-warni seperti pelangi.


Dinding kaca yang menampilkan pemandangan indah kota pada siang hari, membuat Ara berhenti sejenak menatap keluar jendela. Tatapan matanya begitu lurus kedepan. Sam yang berjalan dua langkah di depan tersadar, tidak ada suara langkah kaki yang mengikutinya.


Pria itu berbalik, dan mendapati sang adik tengah terdiam menatap keluar jendela dengan raut wajah serius. Ntah ada apa, tiba-tiba sikapnya menjadi terlalu tegang. Sam berjalan menghampiri Ara dan berdiri di sebelah wanita itu, tetapi matanya hanya tertuju pada sang adik.


Suara helaan nafas terdengar begitu jelas. Apakah selama ini, adiknya merasa tertekan? Atau ada masalah lain yang disembunyikan? Jujur saja, rasanya tidak nyaman melihat raut wajah sendu yang menghilangkan senyuman nakal Ara. Meski sebagai kakak, dia sadar tidak selalu bisa menemani.


"De, apa ada masalah? Kakak disini, ceritalah." bujuk Sam melembutkan suaranya agar tidak menyinggung perasaan Ara, tetapi bibir merah alami itu masih memilih bungkam. "Diammu, tidak akan memberikan solusi, De. Berbagilah keluh kesah denganku. Aku ini, kakakmu, bukan?''


Ara menoleh menatap Sam dengan tatapan sayu, "Entahlah, Ka. Aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk. Apa kakak tahu, dulu sebelum aku ditalak Mas Akbar ....,"


Ucapan yang menggantung, ingin sekali meneruskan. Akan tetapi, bibirnya kelu. Tiba-tiba saja, terhenti sendiri. Mimpi buruk yang pernah dialaminya seakan baru saja semalam terjadi. Sam memegangi kedua lengan Ara, lalu menatap mata yang sendu dengan tatapan seorang kakak.


"Kakak tidak akan memaksamu untuk bercerita, tapi ingatlah. Beban di hati dan pikiran tidak baik untuk kehamilan mu. Apa kamu mau, anak yang belum terbentuk sempurna. Justru terbebani masalah ibunya? Lihat, disini hanya ada aku dan kamu."

__ADS_1


Secara sadar, Sam berusaha membujuk Ara agar mau meringankan beban pikiran yang mengusik ketenangan si bumil. Ntah apa yang sebenarnya wanita itu pikiran. Satu hal pasti adalah beban itu harus disingkirkan. Bercerita adalah cara terbaik agar bisa memperbaiki mood.


"Dulu, selama satu minggu. Di setiap malamku, aku bermimpi tenggelam ke dasar lautan. Aku berteriak meminta tolong, tapi tidak seorangpun mendengar teriakan ku. Rasanya sangat sesak, begitu banyak air yang kuminum, hingga disisa kesadaran yang aku miliki. Sebuah tangan melambai, tangan itu terulur, lalu menggenggam erat tanganku."


"Tidak ada wajah yang bisa ku lihat. Semua gelap, tetapi aku bisa merasakan dia menolongku dari kematianku. Itu adalah mimpi di malam pertama, tapi ketika mimpi berlanjut selama satu minggu. Ada hal berbeda yang masih jelas ku ingat."


Setiap kata yang terucap menggambarkan suasana hati Ara saat ini. Wanita itu memejamkan mata, mengingat setiap kisah dari mimpi selama satu minggu, hingga satu wajah muncul memberikan kesadarannya kembali. Wajah tegangnya kembali lenyap tanpa bekas.


Perubahan itu, juga tertangkap basah oleh Sam. Pria yang merasa heran dengan terbitnya senyuman manis dari bibir sang adik. "Ara, apa semua baik?"


"Tenang, Ka Sam. Semua baik, sangat baik. Terima kasih, Ka. Berkat kakak, akhirnya aku menemukan dia yang menjadi pahlawan dalam mimpiku." balas Ara dengan kerlingan mata nakal, membuat Sam terbelalak tak percaya.


"Kakak mau tahu?" tanya balik Ara yang siap memberikan jawaban, dengan sesuatu keinginan hatinya yang tiba-tiba saja datang berkunjung mengetuk pintu impian.


Ekspresi wajah jahil sudah kembali. Sam menjadi waspada, "Apa syaratnya? Asalkan, jangan minta aku terjun dari lantai ini."


"Astagfirullah, Ka Sam pikirannya itu kriminalitas, loh." Ara menyindir Sam, membuat kakaknya terkekeh pelan, "Aku cuma mau istana pasir, Ka. Boleh, ya."

__ADS_1


"Istana pasir? Kalau itu, kita bisa pergi ke Villa yang ada di Bali. Bagaimana dengan liburan bersama, setelah acara pernikahan." bujuk Sam agar tidak membuat adiknya kelelahan. Apalagi acara dua hari akan menyita waktu dan tenaga.


Namun, adiknya menggelengkan kepala menolak gagasan untuk berlibur bersama. "Aku mau, istana pasir yang ada di aquarium kaca. Trus itu, nanti bisa ditaruh di kamar, Ka. Dikasih bintang laut, terumbu karang, tapi jangan masukin ikan. Apalagi air, ya. Cuma seperti itu aja, kok."


"De, kamu ini ....," Sam menepuk keningnya sendiri setelah mendengarkan permintaan bumil yang ada aja, terkadang berpikir. Apakah benar tindakannya mengangkat Ara menjadi adik? Kemarin hidupnya hanya tentang satu orang saja dan kini menjadi seperti terkepung.


Senyuman jahil, tatapan mata menggemaskan dengan bibir manyun. Lengkap sudah pemeras emosi meminta harapannya terwujud. Selain anggukan kepala tanda setuju. Memang apalagi yang bisa dilakukan seorang kakak untuk kebahagiaan adiknya?


Perbincangan Ara dan Sam, ternyata ada orang lain yang mendengarkan. Seluruh beban hati dan pikiran luruh begitu saja, setelah mendengarkan permintaan bumil yang selalu menghadirkan rasa gemas dan ingin sekali bergegas memeluk tubuh pemilik pipi chubby itu.


Melihat senyumanmu. Semua masalah terasa lebih mudah untuk aku atasi. Bersabarlah, apapun yang akan terjadi nanti. Aku selalu bersamamu dan selalu melindungimu. Istriku, meskipun dunia melawan hubungan kita. Aku akan terus berjuang. ~ucap Bryant di dalam hati, langkahnya terhenti ketika melihat Ara dan Sam berjalan bersama beberapa menit yang lalu.


Siapa sangka. Jika curahan hati Ara, menjadi hembusan angin segar untuk pikiran yang tengah berselimut kabut kebingungan. Kini, hatinya hanya ingin melihat senyuman nakal sang istri tidak pernah pudar walau hanya sedetik sekalipun.


Meninggalkan ketiga manusia yang berdiri di tempat terpisah. Di tempat lain terjadi keributan. Suara benda yang berjatuhan sangat mengejutkan semua orang yang tengah menikmati kesenangan. Warna merah dengan aroma alkohol bercampur dengan asap rokok yang mengepul.


"Hey! Hentikan!" Teriak seorang wanita dari lantai dua seraya menunjuk ke bawah, dimana beberapa gerombolan pria kekar berseragam sudah menghancurkan setengah dari tempat usaha wanita itu.

__ADS_1


Teriakan itu menjadi angin lalu karena para pria kekar masih terus saja melemparkan botol ke tengah ruangan, membuat banyak pengunjung menepi menyingkir dengan rasa penasaran. Ntah kenapa ada yang mengusik pemilik tempat hiburan itu. Mungkin saja, telah terjadi kesalahpahaman.


__ADS_2