Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 96: TAKDIR - FOTO DAN BUNGA


__ADS_3

"Satu pertanyaan, kenapa kamu mau tahu seluk beluk dunia model yang dijalani istrimu. Padahal selama ini, kamu begitu percaya pada Hazel."


Bryant hanya tersenyum smirk, lalu berjalan meninggalkan Natasya begitu saja. Langkahnya menuju tangga, membuat manager Hazel tertegun dengan tatapan mata melongo. Benar-benar menyebalkan, bagaimana bisa ada pria bersikap sesuka hati dengannya. Pikiran itu hanya sepersekian detik, hingga ia mengingat sesuatu. Panggilan yang baru saja dilakukan sang Tuan rumah. Bukankah menyebutkan namanya?


"Apa maksud Hazel mengatakan sedang bersamaku? Aku disini, lalu apa yang didapatkan model itu dengan berbohong pada suaminya sendiri. Haduh, kenapa malah jadi memusingkan, ya. Lebih baik pulang saja, aku butuh ketenangan. Sayang sekali ponsel semahal itu harus hancur berantakan," Gumam Natasya pada dirinya sendiri, lalu berjalan meninggalkan kediaman Bryant.


Pertemuan tidak sengaja keduanya, seperti pertemuan air dari dua muara sungai menjadi danau. Siapa yang tahu garis takdir kemana dan bertemu siapa. Seperti hembusan angin dengan arah yang tak menentu, begitulah kehidupan yang penuh misteri. Bryant mengistirahatkan raga dan pikirannya dengan memejamkan mata, sedangkan Ara sibuk menatap sebuah foto di genggaman tangannya.


Foto seorang pria pemilik senyuman manis nan dingin yang merangkul bahu seorang wanita, seraya memberikan tatapan dalam, "Mas, aku tidak pernah menyangka bisa merasakan kebahagiaan dan kembali memiliki keluarga yang utuh. Semua ini, seperti mimpi bagiku. Terkadang disaat aku terbangun, ada rasa takut yang menyusup ke dalam hati. Bagaimana, jika semua yang kurasakan hanyalah imajinasi belaka."


"Bukankah langit malam selalu gelap, jika tidak ada bulan dan bintang? Aku merasa, kegelapan langit sama seperti kehidupan ku. Dulu, cinta menjadi permainan dan kini, aku masih belajar mencintai mu. Suami sekaligus calon ayah dari anakku. Takdir memberikan rintik hujan membasahi kehidupan yang gersang. Seakan semua ini memang tercipta untukku."


Ara memeluk foto pertama yang diberikan Muel sebagai hadiah kehamilannya. Dimana foto itu diambil beberapa hari yang telah berlalu. Setelah ia memasuki rumah kediaman Putra. Hadiah sederhana, tapi penuh makna. Kini, ia memiliki kenangan bersama Bryant. Namun, tiba-tiba ada rasa yang menelusup masuk ke dalam hati. Rasa takut yang dulu pernah dirasakannya.


"Semoga tidak ada pengkhianatan, lagi. Ya Allah, lancarkan segala urusan suami ku dan berikan selalu kebahagiaan pada keluarga ini. Biarkan rasa ini menjadi milikku," Ara melepaskan bingkai foto, lalu meletakkannya di atas nakas sisi kanan tempat tidur, kemudian melangkahkan kaki berjalan mendekati jendela kamar yang terbuka lebar.


Kamar terletak di tempat strategis karena di bawah sana bisa melihat taman dan juga kolam renang yang ada di lantai bawah. Jujur saja, kehidupannya saat ini tak ubah seperti seorang putri raja. Jangankan makanan, apapun yang dimau bisa didapatkan dengan mudah. Meski begitu, ia sadar diri. Seorang istri siri, tidak seharusnya memberikan tuntunan banyak hal. Sekali mencoba memikirkan dengan matang.


Dulu, ia harus menahan air matanya karena ingin mempertahankan rumah tangga palsu bersama sang mantan suami. Namun, hari ini. Dia hanya bersyukur dan selalu berusaha menjadi istri, menanti, adik, dan sahabat yang baik. Tidak ada kecemasan tentang makanan ataupun uang. Bak air selokan dan air danau. Kehidupan yang berbanding terbalik, menjadikannya pribadi yang lebih baik lagi.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Ara, lalu ia berbalik untuk melihat siapa yang datang berkunjung ke kamarnya. Pintu yang tidak terkunci, memudahkan orang itu masuk. Senyuman terkembang sempurna dengan sebuket bunga lily putih yang tergenggam di tangan kanannya.


"Pagi, Ara. Maaf, aku masuk gitu aja," Bunga berjalan menghampiri Ara, lalu memberikan buket bunga segar pada istri Bryant, "Bunga lily putih untuk wanita kesayangan abang, ku harap ini bisa menjadi penambah mood booster mu hari ini."


Ara menerima bunga lily dari Bunga, "Ini indah, dan sangat segar seperti baru dipetik. Terima kasih, Bunga. Apa kamu baru dari luar?"


Bunga mengangguk seraya mengajak Ara untuk duduk di sofa bersama. Kini kedua wanita itu duduk bersebelahan, tak lupa istri Om Al mengeluarkan dua coklat batang dari saku celananya. Satu coklat di buka, lalu diberikan ke Ara dan satu coklat lagi, untuk dirinya sendiri. Rasa manis berpadu pahit, tetap menambah energi dan mengembalikan moodbooster.


Bunga menatap serius Ara, dan menunggu apa isi dari pertanyaan istri sang abang. Sejak mengenal wanita itu, ia hanya memahami satu hal. Dimana istri siri Bryant masih tidak tahu tentang Hazel yang notabene sebagai istri sah. Meskipun begitu, bukan berarti dia tidak bisa menjaga rahasia. Apapun yang terjadi di dalam keluarga putra. Sekarang juga menjadi tanggung jawabnya.


"Apa, Mas Bryant memiliki kekasih atau teman wanita yang dekat? Ntah kenapa, aku merasa hubungan ini menjadi kebahagiaan di atas penderitaan seseorang. Mungkin hanya perasaanku saja, bisakah kamu menjelaskan sedikit tentang kehidupan suamiku?" tanya Ara dengan nada suara lirih, jujur saja ia tak sampai untuk berkata seperti barusan, tapi jika tidak bertanya. Bisa dipastikan akan selalu mengganggu pikiran dan hatinya.


Helaan nafas Bunga begitu panjang, gadis itu mengambil tisu, lalu mengelap bibirnya, kemudian menutup coklat dan diletakkan ke atas meja. Kini, ia harus memberikan pemahaman agar Ara tidak salah paham dan berpikir aneh. Apalagi sampai mempengaruhi kehamilannya. Lagipula, ia juga tidak menyukai Hazel. Wanita yang selalu terlihat seperti badak bercula satu.


"Aku tidak akan mengatakan banyak hal, tapi cukup ingat ini baik-baik. Bagaimanapun kondisi kalian menikah di waktu itu, mungkin bisa dianggap kesalahan. Akan tetapi, keluarga besar bersyukur karena abang menikah dengan mu. Wanita sederhana dengan ketulusan hati. Jangan berpikir, Mama dan Papa menerimamu karena bayi yang kamu kandung. Semua yang kamu rasakan berupa kasih sayang, perhatian dan juga fasilitas. Itu semua, karena kamu sudah menjadi anggota keluarga Putra."


"Ara, kondisiku tak jauh beda denganmu. Pernikahan ku jauh lebih egois, karena ini atas desakan ku. Om Al tidak mencintaiku, tapi aku siap berjuang untuk merebut hati om dingin dengan senyuman memabukkan. Jadi, ayo kita berjuang bersama mendapatkan hati suami yang pasti membutuhkan tenaga ekstra. Bagaimana, apa kamu mau tetap bertahan dan memperjuangkan hak sebagai seorang istri?"

__ADS_1


Pernyataan Bunga, membuat Ara tersenyum tipis. Sebijak apapun cara gadis itu menyampaikan kebenaran. Satu hal jelas masih berusaha disembunyikan, tapi ada benarnya juga. Dia harus mulai berjuang mempertahankan diri sebagai seorang istri dan menjadi seorang ibu demi bayi yang ada di dalam rahimnya saat ini. Tidak ada kata lagi, selain pelukan hangat.


Pelukan erat yang disambut hangat oleh Bunga, "Percayalah, jika ada yang menghancurkan hati mu. Suami ku sendiri yang akan menjaga dan melindungimu. Aku jatuh cinta pada cinta yang ada di matanya. Jika suatu saat nanti, Bryant melakukan kesalahan dan melangkah ke jalan yang salah. Ku mohon, ingatkan dia untuk kembali ke pelukan kami, keluarganya."


"Aku tidak bisa berjanji apapun, tapi mari kita berjuang bersama untuk keluarga kita." Jawab Ara seraya mengeratkan pelukan, membuat Bunga merasakan nyeri hati.


Sungguh, kamu wanita yang baik hati. Semoga, abang segera mengakhiri hubungannya dengan Hazel. Aku berharap keluarga ini tetap mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan maaf darimu karena telah melakukan penipuan.~batin Bunga, karena ia tahu semua cerita tentang awal mula pernikahan Ara dan Bryant.


...****************...


...----------------...


*Hay reader's, jangan bosen ya dengan othoor. 😁


Ada sebuah novel rekomendasi lagi, nih. Pokoknya bisa kalian kepoin, tapi ingat ya, tinggalkan jejak biar othoor semakin semangat. yuk, kita saling dukung. 🔥😘*


...



----------------...

__ADS_1


__ADS_2