Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 133: DISKUSI KELUARGA - KENAPA?


__ADS_3

"Apa kesalahan mu? Jujurlah!"


"Pa, Aku minta maaf. Aku sudah merenggut mahkota Ocy yang dijaga selama ini, aku tidak akan membohongi keluarga ku sendiri. Apapun hukuman yang akan Papa berikan. Aku siap."


Deg!


Jantungnya terasa berat seperti ada palu yang menghantam. Bryant dulu, membuat dia terkejut karena tetap menikah dengan Hazel dan hari ini, Sam mengakui kesalahan telah merenggut mahkota Ocy. Ayah mana yang tidak shock? Selama ini, dia mencoba untuk mengajarkan hal baik. Apakah kasih sayang dan kebebasan yang diberikan. Justru menjadi pemikiran dangkal?


Rasa yang tak bisa dipahami, membuat Papa Angkasa mengangkat tangannya, hingga suara tamparan keras terdengar begitu jelas. Para pelayan yang mendengar, sontak saja berlarian mencari tahu. Lihatlah tangan pria paruh baya itu bergetar dengan rasa panas menjalar di telapak tangan. Sementara Sam, justru tersenyum tipis.


Lebih baik dihajar, daripada di diamkan. Setidaknya, dia tahu, jika Papa Angkasa juga menyayangi tanpa membedakan antara dirinya dan Bryant, "Papa bisa menamparku. Sepuasnya, tapi izinkan aku untuk menikah dengan Ocy. Aku melakukan ini, bukan hanya karena rasa tanggung jawab. Akan tetapi, karena aku mencintai calon istriku."


"Cinta? Apa arti dari cinta. Jika kamu berani merenggut hal paling berharga dari wanitamu. Hidup ini, bukan hanya tentang cinta. Papa hanya meminta satu hal darimu," Papa Angkasa menjeda kalimatnya, lalu menatap Sam. Kali ini, dia memegang kedua bahu sang putra, "Lakukan pernikahan dengan cara yang benar. Jangan seperti ini, satu minggu dari sekarang. Pernikahan kalian akan dilangsungkan."


Sam tidak bisa berkata-kata. Sungguh, dirinya beruntung memiliki keluarga yang akan selalu mendukung dan memberikan nasehat yang baik. Mama Bella bernafas lega. Kini rasa takut akan terjadi perselisihan telah berganti menjadi rasa haru. Para pelayan yang mendengarkan. Justru ada yang menangis.


Setelah ketiganya tenang. Papa Angkasa mengajak Sam dan Mama Bella untuk menemui Al dan yang lain. Namun, karena tidak ingin masalah keluarga menjadi sorotan orang-orang tak dikenal. Maka, si papa minta seluruh anggota keluarga untuk berkumpul dirumah Ara yang baru. Yah, dirumah itu masih sangat jarang yang tahu.


Satu jam kemudian.

__ADS_1


Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul kecuali Ara. Sang menantu masih kurang enak badan, bahkan Kinara bergegas memeriksa dan memberikan vitamin agar alkohol yang masuk ke dalam tubuh bumil bisa ternetralisir. Dokter itu juga diminta untuk menjaga di kamar atas. Jadi, musyawarah akan dilakukan tanpa kehadiran dua orang.


Bryant yang tidak tahu, asal muasal memilih untuk menunggu penjelasan. Ocy duduk di antara Bunga dan Mama Bella. Sam duduk diantara Om Al dan Papa Angkasa. Dirasa semua orang mengalami ketegangan, tiba-tiba beberapa pelayan datang dengan nampan minuman segar.


"Bi, ajak semua pelayan untuk ke kamar belakang dan jangan ada yang keluar. Sebelum aku panggil," tegas Papa Angkasa, membuat para pelayan mengangguk dan pergi meninggalkan ruang keluarga.


"Ka, bisa jelaskan. Kenapa kita berkumpul?" tanya Al berusaha memulai perbincangan agar suasana kembali mencair, Papa Angkasa mengangguk seraya mengambil sesuatu dari belakang tempatnya duduk.


Sebuah file, bukan. Al tahu, itu salah satu sertifikat sebuah lahan yang dibeli sebelum Bryant lahir. Lahan yang saat ini masih menjadi rumput ilalang dan terletak di perbatasan kota. Apapun yang ada di dalam pikiran sang kakak. Sudah bisa ditebak. Sudah pasti akan melakukan jalan yang benar.


Sertifikat tanah di letakkan ke atas meja, lalu Papa Angkasa menatap Ocy sesaat untuk memastikan. Apakah wanita itu akan bahagia dengan putranya, tapi yang ditatap justru menundukkan kepala. Tidak ada keraguan, jika pasangan kekasih itu saling mencintai. Akan tetapi, masalah hanya bisa diselesaikan. Jika pernikahan berjalan lancar.


"Sam, ini adalah hak mu. Papa hanya bisa memberikan restu untuk pernikahan kalian nanti. Setelah memikirkan beberapa hal. Pernikahan akan dilangsungkan, satu minggu dari sekarang. Semua acara akan diserahkan ke pihak WO. Jadi, selama seminggu Ocy akan tinggal di rumah utama dan Sam tetap disini. Kalian berdua akan di pingit."


Penjelasan Papa Angkasa, membuat senyuman Mama Bella merekah, sedangkan Bryant tidak bereaksi apapun. Sam masih setia berdiam diri, dan Al hanya bisa menurut. Toh, hubungan seluruh anggota yang baru menikah. Cepat atau lambat harus diketahui semua orang. Jangan sampai seperti pesta kemarin. Dia dikira penjaga Bunga oleh Tuan Wiratama.


Diskusi keluarga masih berlanjut dengan membahas apa saja yang akan mereka pakai untuk acara pernikahan nanti. Sementara di tempat lain, tubuh lelah dengan peluh yang membanjiri kening hanya dilap dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Olahraga yang untuk membakar kalori, baru saja berakhir.


Wanita itu menyingkirkan tangan yang melingkar erat di perutnya, lalu turun dari ranjang, kemudian berjalan menghampiri kamar mandi. Saat ini yang dia butuhkan hanyalah kesegaran dari air dingin. Ntah, sudah berapa lama. Tubuhnya harus melayani seorang pria yang memberikan bayaran sepuluh kali lipat dari biasanya.

__ADS_1


"Aku harus ke spa. Semua jejak ini, tidak boleh terlihat lagi," ujarnya seraya menggosokkan sabun di area leher jenjang yang penuh stempel warna merah.


Ritual mandi yang berlangsung cukup lama. Wanita itu baru keluar setelah merasa puas dan mendapatkan kesegaran. Setelah berpakaian rapi, tanpa menunggu kliennya bangun. Dia meninggalkan kamar hotel yang menyekapnya selama beberapa hari. Tatapan mata puas nampak dari seorang pria yang sibuk memindahkan file dari bukti utama.


Senyuman sinis dengan tatapan jijik. Bagaimana tidak? Disaat melakukan transfer data. Video vulgar mengotori mata baiknya, "Goa penyakit. Aku penasaran, berapa banyak ular yang pernah mencicipi goa wanita itu? Pantes aja, bos gak mau melirik wanita seksi. Ternyata, menjijikkan."


Siapapun wanita itu, dia sudah dalam pengawasan yang ketat. Berbeda lagi dengan Darren. Pria itu terbangun dalam keadaan terkejut. Tiba-tiba saja, ada yang menjadi sengatan listrik di dalam kepalanya. Denis yang melihat kakaknya menatap kaca dengan tatapan kosong, berlari menghampiri, lalu menepuk pundak sang kakak.


"Ka! Kenapa? Jangan bengong."


Darren menepis tangan Denis. Lalu, melompat dari ranjang, kemudian berlari meninggalkan kamar sang adik. Langkah pria itu bergegas kembali ke kamarnya sendiri, tapi setelah memeriksa ke setiap sudut. Tidak ada yang dia cari.


"Kakak cari siapa? Jangan buat aku bingung. Bicaralah, Ka."


Hening.


Darren tetap mencoba memeriksa setiap sudut dan ruangan sekali lagi, bahkan tanpa kata. Pria itu menyusuri lorong hotel dan ntah mencari siapa. Denis trus mengikuti dengan perasaan was-was. Selama setengah jam menjadi buntut. Sontak saja, pemuda itu menarik tangan kakaknya membuat keduanya saling bertatapan.


"KAKAK CARI SIAPA?"

__ADS_1


Pertanyaan yang jelas, keras dan juga begitu tegas. Darren mengerjapkan mata, "Ayra."



__ADS_2