Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 151: KARENA UANG, TERPURUK


__ADS_3

"Aku jalan saja dari sini." Kata pria yang duduk di kursi belakang, pria itu meraih tas kerjanya seraya menyampirkan jas yang selalu enggan dia kenakan.


Keputusan sang majikan, membuat si sopir geleng kepala. Tetapi, tidak mungkin membiarkan tuannya berjalan seorang diri. "Tuan, saya ikut."


Si sopir berjalan dibelakang majikannya setelah mengambil alih tas kerja serta jas yang terlipat rapi memanjang. Keduanya berjalan melewati beberapa mobil yang harus terhenti karena keributan di depan sana. Dimana banyak orang berkerumun membentuk lingkaran.


"Tuan, kenapa tidak lewat samping saja?" tanya si sopir heran karena majikannya justru berjalan menuju keributan, tetapi tidak ada jawaban yang didengarnya.


Justru suara tegas dengan hardikan terdengar begitu jelas dari arah kerumunan yang kini mulai nampak situasinya. Sang majikan menghentikan langkah kakinya. Apalagi ketika netranya menangkap seorang gadis dengan penampilan tomboy mengangkat tangan menunjuk seorang pria yang berpenampilan preman.


"Aku sudah bilang berulang kali. Jangan hina keluarga ku dan jangan ganggu hidup kami, lagi. Apa belum cukup, kamu rusak semua tempat jualanku!" Bentak si gadis tanpa rasa takut, hingga netra gadis itu bertemu dengan netra pria yang berdiri tak jauh dari tempat keributan.


"Tuan, apa bisa kita pergi? Bukankah Anda, sudah terlambat." ujar pak sopir mengingatkan, tetapi justru tangan majikannya terangkat menghentikan peringatannya.


Gadis itu, temennya Denis. Kenapa membuat kekacauan disini? Seharusnya kuliah 'kan? Sebaiknya aku bantu.~ucap hati Darren seraya melonggarkan dasinya, lalu berjalan menghampiri gadis yang menatapnya aneh.


"Anda siapa? Apa urusannya dengan adik angkatku?" Si preman bertanya dengan nada sindiran, jelas sekali sikap sok pria itu hanya modal tampang sangar.


Yasinta menoleh ke arah si preman. Niat hati ingin memberikan cacian, tapi tiba-tiba ada yang menghalangi pandangannya. Siapa lagi jika bukan Darren. Pria itu mengeluarkan dompet, lalu mengambil semua uang cash yang ada. Kemudian memamerkannya pada si preman.


"Mau ini?" Darren bertanya, sontak saja si preman mengangguk sumringah. "Aku berikan tiga kali lipat, tapi dengan satu syarat. Bagaimana?"


Wajah tegang dengan bibir mencebik. Ingin menolak, tapi lembaran merah yang melambai berteriak untuk menjadi miliknya. Semua uang, jika bisa berbicara. Pasti mengatakan *ambil aku*. Sekiranya, kurang lebih seperti itu.


"Apa syaratnya?" tanya balik si preman, membuat Darren mengeluarkan smirk evilnya. Pria itu bergeser ke samping kanan Yasinta, lalu menatap gadis yang menjadi teman Denis dengan tatapan seorang kakak.


Uang yang ada di tangannya beralih ke tangan Yasinta, "Satu syarat. Jangan sia-siakan. Pak Muin, hubungi pengacara. Selesaikan masalah ini hitam diatas putih."


Setelah memberikan kode keras pada Yasinta. Darren menoleh ke arah si preman, "Uang bukan segalanya. Meski, segalanya butuh uang. Dapatkan uang mu dengan menyetujui syarat dari gadis ini, tapi ingatlah. Aku bisa melenyapkan seorang pengkhianat meski bersembunyi di lubang semut."


Yasinta bingung dan tak paham apapun.. Kenapa ada pria yang mau menolongnya. Padahal tidak saling kenal. Uang yang dia genggam, bahkan sangat banyak. Mungkin sekitar sepuluh jutaan. Jika, diberikan secara cuma-cuma. Rasanya mustahil. Semua terjadi begitu cepat. Tanpa sadar dia melamun di tengah keadaan semakin memanas.


Di saat, akal sehat bertempur dengan hati nurani. Kesadaran gadis itu tersentak karena panggilan si sopir yang diberikan amanah untuk menyelesaikan masalah gadis itu dan si preman. Sementara Darren meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya menuju kantor.

__ADS_1


Meninggalkan masalah Yasinta yang ditangani sopir keluarga Wiratama. Di dalam sebuah villa, Hazel terdiam duduk di pojokan kamarnya. Setelah semalaman memendam melampiaskan emosi dengan menghancurkan seluruh isi kamar. Wanita itu masih enggan beranjak dari


keterpurukannya.


Alat make up, gaun-gaun malam berwarna terang. Isi bantal, bahkan beberapa guci sudah bercampur menjadi satu di atas lantai marmer putih yang menjadi berantakan bak kapal pecah. Bukan hanya itu saja, wajah Hazel seperti hantu make up luntur. Pakaian yang dia kenakan, masih pakaian terakhir di hari dirinya berkunjung ke kantor Bryant.


Tok!


Tok!


Tok!


"Non, dibawah ada Tuan Gio. Boleh masuk tidak?" Lapor si bibi cukup keras dan mengusik ketenangan Hazel.


Tidak ada kata yang keluar dari bibir wanita itu, tetapi tangannya langsung menyambar vas di atas nakas. Kemudian melemparkan tepat membentur pintu hingga suara benturan mengejutkan si bibi. Suara itu terdengar hingga ke lantai bawah, membuat Gio berlarian menaiki tangga.


Wajahnya tegang dan cemas. Namun, semua itu karena rasa takut akan kehilangan sumber pundi-pundi uangnya. Tanpa permisi, Gio mencoba mendobrak pintu kamar Hazel. Sayangnya pintu itu masih baru dan sangat kokoh. Beberapa kali dicoba, tetap saja tidak berhasil.


'"Bi, dimana kunci cadangannya? Cepat berikan!" Titah Gio tanpa rasa sungkan dan terkesan memaksa.


Umpatan-umpatan kasar keluar dari mulut Gio. Sontak saja, si bibi hanya bisa istigfar di dalam hati. Dia tidak ingin menyinggung tamu majikannya. Meskipun, dia tau. Pria yang tengah frustasi di depannya adalah kekasih gelap sang majikan.


Kericuhan di luar kamar. Tak mengubah kerasnya hati Hazel. Wanita itu tengah menghabiskan sisa rasa yang ada di dalam hati. Dimana harapan akan kebahagiaan menjadi obsesi, bukan lagi tujuan. Kepalan tangannya menjelaskan niat hati yang tidak terbantahkan.


Setiap jiwa yang dihuni kebencian dengan ego yang tinggi. Maka, jiwa itu telah kehilangan rasa kepedulian. Begitulah keadaan Hazel saat ini. Bukan karena dia berusaha menjadi wanita yang baik, tetapi karena keinginan hidup mewah tidak terpenuhi.


Apalagi, setelah beberapa foto dirinya yang berpenampilan kacau balau terekspos ke khalayak umum. Meski bukan foto perselingkuhan, tetap saja itu menurunkan image seorang model profesional. Belum lagi, belakangan ini. Para kliennya mulai memberi surat saksi dengan agenda biaya ganti rugi.


Masalah perceraian yang masih menjadi dilema. Ditambah kesendirian yang menghimpit hidupnya


Rasanya sesak, bahkan tidak sanggup untuk bernafas lagi. Di sisa emosi yang ada, tiba-tiba sekilas pernyataan Bryant kembali terngiang-ngiang.


"Aku sudah menikah, dan memiliki istri siri."

__ADS_1


Ucapan itu, membuat Hazel tercambuk semangat baru. Kini, ada tujuan yang harus dia selesaikan. Tatapan mata kosong dengan suara tawa keras menggema memenuhi kamarnya, "Hahahahahaha, akhirnya Aku bisa mendapatkan alasan untuk hidup kembali."


Suara tawa bahkan terdengar hingga keluar kamar. Gio mengernyit heran. Tetapi, bibi memilih berlari meninggalkan depan kamar majikannya. Wanita yang berusia setengah abad itu benar-benar ketakutan. Ntah kenapa feelingnya merasakan akan ada tragedi. Sementara Gio mencoba mengetuk pintu kamar Hazel.


Tok!


Tok!


Tok!


"Zel, buka pintunya." ucapnya lembut tanpa memberikan penekan suara.


.


.


.


...πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ...


*Happy reading reader's. Alhamdulillah done crazy up buat hari ini, notifikasi boleh telat, tapi semangat jangan. Harus sedia payung sebelum hujan, iya kanπŸ˜‰πŸ˜ƒ


.


.


.


Sembari menunggu besok up, kuy boleh kepoin karya temen othoor. πŸ‘‡


Ingat, semangat itu untuk disebarluaskan. 😘


(ish emot nakal) πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ*

__ADS_1



__ADS_2