Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 162: Arti Keluarga, dalam Kegelapan


__ADS_3

"Bima!" Panggil Angkasa sedikit keras, sayangnya pria yang mendapatkan seruan itu, tiba-tiba mengusap wajahnya dengan kasar dan tanpa permisi, meninggalkan tempat perkumpulan. Melihat itu, tentu menimbulkan kecurigaan. "Sam, bisa susul Bima? Aku tidak mau, adik iparku mabuk sendirian. Temani saja, tapi kamu jangan ikut minum."


"Beres, Pa." Jawab Sam seraya berdiri, lalu berlari kecil menyusul Bima yang baru saja membuka pintu meninggalkan ruang acara, sedangkan Papa Angkasa, Al dan Bryant kembali duduk.


Ketiganya membiarkan pelayan yang datang meletakkan botol soda bersama beberapa gelas diatas meja. "Silahkan, Tuan-tuan. Jika memerlukan sesuatu lagi, bisa panggil saya di sebelah sana. Permisi."


Al mengibaskan tangan, membuat pelayan itu membungkuk. Kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga. Bryant tahu, lirikan mata sang paman tertuju padanya, tetapi masih mencoba bersikap santai hingga tiga gelas berisi soda. Kemudian dibagi ke masing-masing orang.


"Al, bagaimana dengan rencana liburan yang kita bicarakan beberapa hari lalu? Apa kamu sudah memutuskan untuk berlibur kemana?" tanya Papa Angkasa menatap adiknya seraya sambil meneguk soda yang menyegarkan.


"Liburan? Kenapa Bry tidak tahu, kapan kalian merencanakan itu?" tanya balik Bryant penasaran, memang tidak ada pembicaraan tentang liburan kecuali acara pernikahan Sam dan Ocy, serta resepsi yang akan diadakan tepat di malam pengantin.


Al mengaduk gelasnya menggunakan jari telunjuk, lalu meneguknya secara perlahan. Sejenak membiarkan kerongkongan basah agar tidak kehabisan suara, sedangkan Angkasa mengambil ponselnya. Kemudian menyerahkan benda mati itu pada putranya.


Bryant menerima dan ternyata di dalam ponsel sang papa. Terdapat beberapa agenda yang telah ditetapkan sebagai hari liburan. Hanya saja, masih belum menentukan tempat untuk berlibur. Meski ada beberapa destinasi yang sudah menjadi list pilihan.


Dua tempat liburan yang ada di London dan juga Dubai, sedangkan tiga tempat liburan masih berada di Indonesia. Memang pilihan yang cukup sulit karena setiap destinasi memiliki list beberapa tempat wisata yang bisa menjadi tempat keluarganya menghabiskan waktu bersama.


Ketika sibuk memperhatikan isi ponsel itu, tiba-tiba terdengar pertanyaan dari sang paman. Pertanyaan yang mengusik hati, tetapi tidak mungkin disimpannya sendiri. Terlebih, tatapan mata sudah bisa ia rasakan.

__ADS_1


"Bry, bagaimana dengan masalahmu? Apa kamu ingin menghindar dari kami." ujar Om Al, membuat Papa Angkasa memberikan kode mata tak paham maksud dari adiknya, sedangkan Bryant menghirup nafas begitu dalam, "Anak satu ini dalam masalah besar, Ka. Cuma masih betah nyimpen sendiri."


Papa Angkasa menatap putranya serius, tangannya terangkat mengusap kepala Bryant. Pria dewasa yang pasti memiliki beban pikiran akan masalah rumah tangga nya. Padahal baru kemarin, perpisahan menjadi permulaan hidup baru. Jadi, sekarang masalah apa lagi?


Perlakuan papa Angkasa yang selalu menjadikannya seperti anak baru kemarin sore. Terkadang menjadi tekanan sendiri. Seakan mewajibkan dia sebagai seorang anak untuk berkata jujur dan mau berbagi setiap rasa yang tengah menjadi kegelisahan hidupnya.


"Aku tidak tahu, harus memulai darimana. Ara saat ini mengandung anakku, tapi masalahnya status dia bukan istriku." Bryant menangkup wajahnya, "Ara masih menjadi istri dari suami lamanya. Aku berusaha untuk mencari solusi, tapi jalan keluarnya hanya melakukan perceraian. Setelah itu, baru Aku bisa menikahi ibu dari anakku."


Hening.


Pernyataan dari putranya, membuat Angkasa menyandarkan tubuhnya ke kursi. Cobaan itu datang, tanpa harus diminta. Bukankah begitu? Harapan hati selalu sederhana. Dimana keluarga bahagia dengan kebersamaan yang menghangatkan ikatan. Nyatanya, ujian datang membawa badai.


Tindakannya akan selalu menjadi tindakan di balik layar. Tanpa harus menjelaskan, dan memberikan pembenaran. Biarlah, keluarga tetap merasa aman dan tentram. Sisanya akan menjadi urusannya sendiri. Inilah yang bisa dia lakukan sebagai seorang anggota keluarga. Sementara di tempat lain. Zack tengah berusaha menyelesaikan pekerjaannya.


Pria itu berdiri di dalam kegelapan. Sang pemimpin tengah menatap sebuah rumah yang nampak begitu sunyi seperti tidak berpenghuni. Rumah berlantai dua dengan cat warna yang masih baru. Beberapa tanaman hias terlihat layu. Apakah benar, rumah itu masih ditempati?


"Bos, sebaiknya tunggu di mobil aja. Nyamuknya disini gede-gede ....,"


Niatnya baik, tapi tidak patut untuk dicontoh. Sudah tahu ini menjadi misi penting. Eh, malah mikirin soal nyamuk. Sontak saja, Zack melayangkan tatapan sinis dengan sindiran yang langsung mengena di ulu hati anak buahnya.

__ADS_1


"Ini cuma nyamuk. Jika misi gagal. Jangan sampai berubah jadi peluru nyasar. Cari tahu semuanya, apa perintahku sudah dilakukan atau belum." Zack tak peduli pada hewan berdengung yang sibuk berpesta karena mendapatkan sumbangan darah secara gratis, sedangkan anak buahnya segera memeriksa ponsel.


Begitu layar ponsel terbuka dan menyala. Ternyata benda mati itu menampilkan beberapa notif pesan yang mengatakan semua persiapan beres. Pantas saja mereka menunggu lama, orang HP nya dalam keadaan mode silent, bahkan tidak ada getaran atau nada dering. Ingin sekali memberikan hukuman, tetapi ya sudahlah. Saat ini harus fokus pada pekerjaannya.


"Lakukan sekarang! Kirim wanita itu." Zack memberikan perintahnya, lalu mengalihkan tatapan matanya kembali ke depan. Dimana jalanan yang menjadi pembatas terlihat begitu sepi dan gelap. Sementara waktu sudah begitu larut, dan hembusan angin semakin dingin menusuk kedalam pori-pori.


Sorot cahaya berwarna putih yang muncul dari arah barat dengan suara deru kendaraan roda empat terdengar mulai mendekat. Zack hanya diam memperhatikan, ketika mobil Jazz putih berhenti di depan rumah. Lalu keluarlah seorang wanita berpakaian sexy, cara jalannya sangat menggoda.


Dialah seseorang yang akan membawa sasarannya keluar dari dalam rumah. Meski ini terkesan amatiran, tetap saja dijamin manjur. Seorang pria dengan sindrom hasrat yang berlebihan akan selalu membutuhkan sentuhan seorang wanita. Tidak peduli seberapa sering berhubungan int!m. Akan selalu ada hormon yang melonjak memacu adrenalin.


Took!


Took!


Took!


Wanita itu mengetuk pintu dengan gayanya yang lembut. Suara haloo yang mendayu bisa membuat telinga panas, tetapi Zack masih tenang dalam persembunyiannya. Pria itu hanya ingin melihat, seberapa hebat wanita yang disewa oleh anak buahnya untuk menjadi umpan misinya.


Jika dilihat dari belakang. Tubuhnya memang idealis bagi seorang wanita. Tidak bisa diremehkan, tetapi tetap saja tidak menarik perhatiannya. Setelah mengetuk berulang kali, dari arah jendela. Tirai terlihat bergoyang dengan setengah wajah yang muncul memperhatikan kondisi di luar rumahnya.

__ADS_1


"Akhirnya, dia muncul juga. Tetap waspada. Kita harus membuat bukti malam ini menjadi original. Paham?"


__ADS_2