
Sontak saja, kedua gadis itu membentur meja dan membuat semua buku berhamburan jatuh ke lantai. Tak hanya sampai di situ karena sang pemimpin tidak terima dan ntah dari mana mendapatkan jus berwarna biru muda. Satu gerakan merunduk menyelamatkan Bunga, tapi jus itu menyiram seorang dosen killer.
"CK. KETERLALUAN. PANGGIL ORANG TUA KALIAN, SEKARANG JUGA!"
Dosen Yuda mengulurkan tangan. Para mahasiswa itu tahu. Inilah saatnya, mereka harus memberikan ponsel agar sang dosen bisa berbicara dengan wali murid. Bunga tak ingin mengambil resiko. Gadis itu mengambil ponsel dari saku tas depan, lalu mencari nomor yang pasti akan menyelamatkannya. Kemudian, memberikan ponsel pada si dosen killer.
Bukan hanya Bunga, geng yang mencoba untuk mengganggu ikut menghubungi orang tua masing-masing. Singkat cerita, keempat gadis itu harus duduk di kursi para tahanan kampus. Kenapa seperti itu? Semua itu karena kasus keributan langsung ditangani Dosen Yuda. Seluruh kampus tahu, dosen killer dengan tampang pas-pas, tapi kepintaran patut diacungi jempol.
Sembari menunggu. Keempat gadis diminta untuk mengisi formulir pengakuan, hingga suara ketukan pintu mengalihkan perhatian semua orang, "Selamat siang, Saya wali murid dari Bunga. Boleh masuk?"
Seorang pria dengan penampilan rapi berdiri di ambang pintu. Lihatlah dua kancing yang terbuka memperlihatkan sedikit bidang dada si pria, sontak saja membuat ketiga gadis yang mengganggu Bunga melongo terpesona, lalu berusaha memberikan godaan dengan memainkan rambut seraya mengedipkan mata.
"Dasar genit," gumam Bunga mencebikkan bibir dan menahan diri agar tidak terbawa emosi, jujur saja dia menyesal kenapa harus menelpon suaminya, "Om, maaf...."
Al mengangkat tangan dengan langkah kaki berjalan menghampiri Si Dosen. Pria itu duduk tepat di depan Dosen Yuda. Sekilas hanya memberikan lirikan mata untuk melihat situasi. Wajah Bunga masih aman karena terlihat mata kesal dengan senyuman sinis. Itu berarti, istrinya masih normal.
"Bisa jelaskan. Apa yang terjadi dan kenapa saya dipanggil untuk datang ke kampus?" Al bertanya dengan tatapan mata serius, membuat Dosen Yuda grogi meski hanya dalam hitungan detik.
"Bunga terlibat kasus perkelahian dengan ketiga teman kelasnya. Lihat kemejaku basah dan bau. Semua itu karena perkelahian keempat gadis ini...."
Al mengangkat tangan kanan dan menghentikan pengaduan dari Si Dosen, "Bunga tidak akan menunjukkan jari. Jika tidak DIGANGGU. Sebelum memberikan nasehat atau ultimatum. Apa Anda sudah memeriksa CCTV? Satu saja kesalahan. Aku akan memastikan jabatanmu turun. Ini bukan ancaman, tapi peringatan."
"Bunga. Ayo pulang! Selamat siang, semoga harimu menyenangkan Dosen Yuda," sambung Al beranjak dari tempatnya duduk, lalu mengulurkan tangan membuat sang istri mengulum senyuman manis.
Langkah keduanya hampir mencapai pintu, hingga suara Dosen Yuda terdengar cukup tegas dan menghentikan langkah Al. Mau, tak mau, Bunga ikut berhenti, kemudian keduanya berdiam diri di tempat. Sang Dosen tersenyum karena ancamannya berhasil. Yah, pria itu mengancam akan memberikan hukuman tambahan.
__ADS_1
"Bunga, kamu harus menjelaskan apa yang terjadi dan kali ini jangan berbohong."
Ntah apa maksud dari Dosen Yuda, tapi Al merasa jengah. Pekerjaan di kantor menumpuk dan disini. Istrinya mendapatkan masalah. Mana mungkin dia tega meninggalkan tanpa menyelesaikan masalah sang istri, sedangkan Bunga tanpa sadar menggenggam tangan suaminya semakin erat.
"Gue tahu, Anda dosen killer dan juga memiliki pengaruh," Bunga melepaskan tangannya dari genggaman tangan Al, lalu berbalik dan menghadap tepat ke arah si dosen. Tatapan mata saling beradu dengan emosi masing-masing, "Berikan saja hukuman sesuka Anda. Mungkin pikiran kecil itu melonjak kegirangan karena kepasrahan ku."
"Sorry, tapi itu salah besar. Sebagai dosen, boleh saja memberikan hukuman, tapi dengan catatan. Jika anak didik mereka melakukan pelanggaran. Jika, Pak dosen mengira aku yang memulai pertengkaran. So, i don't care." Bunga menunjuk ke belakang dimana suaminya berada, "Jangan berpikir untuk bersikap kurang ajar dengan suamiku."
Geng yang membully Bunga tercengang dengan pengakuan gadis sederhana itu. Bagaimanapun, banyak mahasiswa yang berpikir, jika Bunga berpacaran dengan seorang ketua senat. Namun, hari ini kenyataan berkata lain. Jadi untuk apa mencari keributan yang tidak berarti?
"Suami? Di daftar mahasiswa, kamu masih single."
Al memperhatikan perdebatan di antara Bunga dengan si Dosen. Ada yang aneh, dan sebagai seorang pria. Dia tahu, jika dosen itu pasti memiliki perasaan terhadap istrinya. Gelagat dengan ekspresi terkejut sangat jelas tergambar. Melihat itu, Al memilih untuk berjalan menghampiri Bunga. Kemudian memeluk sang istri dari belakang.
"Calm down! Tarik nafas, lalu buang perlahan. Jangan kacaukan mood hanya karena masalah sepele. Hmm."
Perdebatan berakhir karena Al membawa pergi Bunga tanpa permisi. Pria itu tak ingin membuang waktu hanya untuk meladeni dosen yang tidak mengikuti aturan kampus. Bukannya sok pintar, tapi selama ini selalu ada orang-orang yang di sekeliling istrinya. Orang dalam yang bertugas menjaga keamanan sang istri.
Meski memberikan perlindungan yang ketat. Tetap saja, Al tidak mengizinkan seorangpun untuk ikut campur dalam masalah kampus. Terkecuali, Bunga tidak bisa menghadapi masalahnya sendiri. Maka, penjagaan emergency akan diizinkan.
"Om, Aku tidak mau pulang."
"Hmm."
"Ish, ngambek, ya? Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?"
__ADS_1
Al menarik sabuk pengaman, lalu memasangkan tanpa melihat Bunga. Namun, ntah dari mana bisikan manja dengan sensasi hangat mengalihkan perhatiannya. Setelah sabuk terpasang dengan benar. Barulah menyalakan mesin mobil, tapi tatapan mata yang menggemaskan semakin menguasai hatinya.
"Kemana?" tanya Al menahan diri agar tetap berpikir positif karena tindakan Bunga terlalu agresif, ntah istrinya itu kesetrum atau kejedot pintu.
Bunga berpikir sejenak seraya menarik resleting depan agar kembali menutupi sesuatu yang menonjol, dan berhasil membuat Al mengalah, "I want...."
"Diam saja. Aku akan membawamu ke sebuah tempat. Nikmati perjalanannya dan jangan banyak tanya. Paham?"
Keduanya kembali menikmati keheningan, tapi bukan Bunga, jika gadis itu bisa seperti patung pajangan. Selama perjalanan, ada aja kelakuannya. Selama dua puluh menit menjadi pembawa berita dengan tema sepak bola. Lima belas menit digunakan untuk menjadi penyanyi dadakan, dan pada akhirnya celingak celinguk mencari sesuatu.
"Belakang kursi menjorok ke dalam, itu yang kamu cari. Ku pikir rutinitas kegabutan mu berubah. Ternyata tidak, tetaplah seperti itu. Hmm."
Bunga mencari air mineral seperti petunjuk dari suaminya. Benar saja, di belakang tempat duduknya ada beberapa botol air dan masih tersegel utuh, "Om, aku tidak tahu itu pujian atau harapan, tapi aku akan berusaha tetap menjadi diriku sendiri. Jadi, tenang saja, suamiku sayang."
Took!
Took!
Took!
...----------------...
Hari terakhir Crazy Up. Sorry telat update, kesibukan RL tidak membiarkan aku menulis. Happy Reading READERS. Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🥰
__ADS_1
...----------------...