Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 142: SUARA ...


__ADS_3

Rasa sakit dengan remuk tubuhnya karena melahirkan tanpa bantuan siapapun, membuat wanita itu berpikir cepat untuk menyelamatkan nyawa bayinya. Tentu dia berharap akan ada malaikat penolong. Namun, di zaman sekarang sangat sedikit orang berhati baik.


Waktu semakin menipis, ketika dia melihat sebuah keranjang usang dengan beberapa bekas koran. Sebuah ide terlintas begitu saja membuat wanita itu tersenyum penuh arti.


Rasa sakit terabaikan karena tangan itu harus menyembunyikan keberadaan bayi yang baru saja terlahir kedunia ini. Apapun yang terjadi. Bayi itu harus sampai ke tangan yang tepat. Tidak peduli risiko sebesar apa yang akan dia lalui. Seorang ibu bisa melakukan apa saja demi menjaga keamanan buah hatinya.


Setelah bersembunyi selama beberapa jam dari pengejaran orang-orang suruhan musuh suaminya. Wanita itu harus berjuang melahirkan di tempat yang tidak seharusnya. Dimana banyak tumpukan barang bekas, sudah pasti tempat penampungan barang yang tidak terpakai lagi.


Bayi mungil dengan tubuh yang masih belum dibersihkan kini sudah berpindah menempati keranjang usang dan dibungkus dengan tumpukan kertas koran bekas. Wanita itu sebisa mungkin menyembunyikan sang anak, lalu melihat area sekitar dengan seksama.


"Jalan kemana itu? Aku akan kesana, dan semoga saja ada jalan raya."


Baru saja ingin bergerak untuk beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan ada suara ranting patah. Bukan hanya itu karena juga ada suara perbincangan beberapa pria cukup jelas tengah mencari keberadaan dirinya.


Sifat manusia adalah reflek bertindak. Apalagi ketika merasakan ada ancaman besar. Maka dengan sendirinya bergerak untuk menyelamatkan diri. Begitu dengan dengan wanita itu, demi anaknya, justru dia nekat menjadi umpan para penjahat. Dimana setelah menyembunyikan si bayi, wanita itu sengaja berteriak dari arah lain.


Yah, setelah menjauh dari tempat penampungan barang bekas. Wanita itu membiarkan dirinya tertangkap oleh para penjahat. Dia tahu, hidupnya tidak lama lagi. Namun, jiwanya akan tenang karena sang anak tetap selamat. Harapan itu yang menjadi semangat berjuang untuk rela berkorban.


Malam yang semakin larut, terasa begitu sunyi. Namun, Bunga masih duduk menikmati udara malam di balkon seraya menatap bintang. Akan tetapi, tiba-tiba terkejut akan suara jeritan dari arah hutan bahkan tak sengaja menyampar gelas yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


"Suara siapa itu?" tanya Bunga pada dirinya sendiri, bukannya memikirkan gelas yang pecah. Gadis itu justru mengamati area hutan yang memang menjadi view dari villa tempatnya bermalam.


Dari balkon, terlihat beberapa sorot cahaya dari dalam hutan. Jelas dan bisa dipastikan ada orang di dalam hutan itu, tapi siapa? Apa mungkin ada orang terkena ranjau atau ada hewan buas. Di saat sibuk melamun memikirkan segala kemungkinan. Justru tubuhnya tersentak karena ada yang menarik tangan begitu saja.


"Kamu gapapa 'kan? Kenapa tidak menyingkir. Lihat, banyak pecahan gelas, jaga jarak dan jangan bergerak!'"


Ketegangan yang dirasakan Bunga seketika berubah menjadi rasa bahagia. Meski di dalam hati tetap penasaran dan sesekali melirik ke arah hutan. Al menyingkirkan pecahan gelas menggunakan alat khusus, lalu mengajak istrinya untuk kembali ke kamar.


Disaat keduanya siap untuk beristirahat. Suara ponsel membuat Al melepaskan selimut dari tangannya, lalu memeriksa siapa yang memanggil. Ternyata sang anak buah karena tak ingin menimbulkan kecurigaan, maka panggilan dijawab di depan Bunga.


"Katakan! Apa proyek berjalan lancar?"


Al mengepalkan tangan kiri, lalu memejamkan mata. Sejenak membiarkan otaknya bekerja untuk mengingat setiap detail rincian dari wilayah yang menjadi penginapan semalam. Area pesisir pantai dengan perbatasan hutan kecil. Jika ingin berkeliling hanya membutuhkan waktu tiga hari.


"Bagaimana dengan area hutan? Apa kalian sudah melakukan pemeriksaan?"


[Belum .... ]


"Mas, kamu lagi bicarain hutan belakang, ya? Tadi aku dengar suara jeritan, ada juga sorot cahaya gitu. Memang di hutan ada para pemburu ya?"

__ADS_1


Obrolan Bunga yang tiba-tiba menyaut perbincangan Al dan Zack seperti sebuah alarm keras. Panggilan masih berlangsung, membuat Bunga antusias menceritakan seluruh pemikirannya.


"Zack periksa seluruh area hutan dan temukan dia!" Al memberikan titah tanpa dengan aura dingin yang tidak pernah Bunga rasakan.


Aura itu seakan mengintimidasi lawan bicara. Ingin sekali bertanya, tapi hatinya menciut. Selama ini, dia bisa melawan preman. Namun, kenapa suaminya jauh lebih menyeramkan dari para preman? Terkadang memang memberikan sindiran keras, tapi tidak sekalipun memberikan penekanan di setiap perintahnya.


Al sadar, istrinya baru melihat sisi lain dari dirinya. Inilah yang tidak diinginkannya. Dimana ada yang mengenal dunia gelapnya. Sekarang hanya bisa menghela nafas untuk kembali tenang, lalu meletakkan ponsel ke atas nakas. Kemudian, memposisikan diri untuk menghadap Bunga.


"Tatap aku! Tundukkan wajah hanya berarti rasa takut. Dunia ku tidak sebersih itu, apa kamu mau mendengarkan aku?"


...----------------...


Crazy up sudah berakhir, 🤭 Sembari menunggu up, yuk kepoin novel baru Othoor. Kita ngebucin bareng disana 😅😉



Jangan lupa jejaknya, ya 🥺


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2