Istri Siri Tuan Bryant

Istri Siri Tuan Bryant
Bab 182: Waktu Berlalu


__ADS_3

"Right. Om Al sudah mengatasi setengah pekerjaan, tapi ada satu masalah. Bagaimana caranya mengatakan kebenaran ini pada Ara." Ujar Bryant, lalu mengusap wajahnya kasar.


"Aku akan bantu dan kamu pikirkan saja tentang pernikahan. Sebelum itu, ingat ada masa iddah. Jadi, selama tiga bulan sepuluh hari. Ayra akan tinggal bersama keluarga ku. Setuju?"


Demi apa? Ara tinggal bersama Darren, sedangkan pria itu sangat mencintai wanitanya. Kenapa justru seperti menyerahkan permata terbaik ke perampok secara terang-terangan. Namun, ketika dipikirkan lagi. Akan lebih baik, Ara bersama Darren.



Satu hal yang pasti. Dimana Ara akan merasa aman dan terlindungi. Hanya saja, disisi lain. Dia tahu, Darren akan menggunakan sisa waktu itu untuk memberikan sedikit pelajaran padanya. Bukan bermaksud untuk curiga, tetapi karakter sang sahabat sangat mudah untuk ditebak.



Bungkamnya Bryant, membuat Darren tersenyum penuh arti. "Bro, pikiranmu sudah travelling sampai mana?"



"Hmmm. Siapa yang travelling?" sangkal Bryant tersenyum kecut, lalu mengambil cangkir kopinya.



Pria itu benar-benar tidak fokus lagi. Cangkirnya sudah kosong dan tetap saja diangkat. Apakah akan penuh lagi? Kekonyolan Bryant sontak saja membuat Darren menggelengkan kepala. Satu kebiasaan di antara mereka masih melekat.



"Relax, Bro. Apa aku bisa dapatkan rincian dari identitas Akbar Wijaya dan Hazel Laurent? Aku akan mengatur sesuatu agar tangan kita tidak kotor." Ucap Darren kembali serius menatap Bryant tanpa berkedip seraya menghentikan permainan jarinya.



Sang sahabat mengangguk, lalu mengambil ponselnya. Beberapa saat sibuk memainkan tuts keyboard, kemudian meletakkannya ke atas meja. "Informasi yang kamu butuhkan, tapi apa yang akan kamu lakukan?"



Diambilnya ponsel Bryant. Tanpa jawaban, Darren sibuk membaca setiap rincian informasi. Semua informasi cukup rinci, bahkan termasuk lokasi tempat tinggal kedua orang yang akan menjadi targetnya. Ia tak lupa untuk mengirimkan informasi itu ke e-mail miliknya sendiri.


__ADS_1


"Dimana Om Al?" Darren bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar benda pipih yang tergenggam di tangan kanannya.



"Sebentar lagi pasti ke rumah sakit. Setahuku, Om Al selalu datang tepat jam makan siang." jawab Bryant dengan santai, mendengar itu sahabatnya hanya manggut-manggut paham.



Pertemuan dan diskusi antara Bryant dan Darren menjadi babak baru dalam kehidupan persahabatan mereka. Sementara Samuel terus menjaga Ara, pria itu tak sanggup melihat kondisi lemah adik angkatnya. Kenapa sebagai seorang kakak yang menjanjikan perlindungan. Justru dia gagal.



Sekali saja. Dia berharap bisa melakukan kewajibannya menjadi seorang kakak. Nyatanya, yang bisa dia lakukan hanya merutuki kesalahannya karena lalai untuk memberi perlindungan kepada Ara. Alih-alih tenggelam dalam penyesalan.


Kelopak matanya mulai bergerak mencoba untuk terbuka bersama pergerakan jemari. "Aiir ...,"


Suara lirih mengalihkan perhatian Sam. Rasa bahagia membuncah dari relung hatinya. Sekali lagi, suara meminta air terdengar menyentak kesadarannya. Pria itu bergegas menyambar gelas dari atas nakas, lalu membantu Ara untuk melepaskan dahaga.



"Istirahatlah. Aku akan panggilkan dokter." ucap Sam setelah selesai membantu Ara untuk minum, dan meletakkan gelas kembali ke atas nakas.




"Ka, Aku baik. Please, tetaplah disini. Temani aku istirahat." Pinta wanita itu dengan suara yang sangat lirih, membuat Sam tidak tahan. Akhirnya, ia nurut dan kembali duduk di tempatnya semula seraya menatap wajah adiknya.



Wajah yang begitu pucat, tatapan mata sayu dengan deru nafas tak beraturan. Saat ini, dia ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Ara. Anehnya, pria itu lupa. Jika dia sendiri seorang dokter. Jika mau, tentu saja bisa melakukan pemeriksaan tanpa harus menunggu kedatangan dokter lain.



Memang benar kata pepatah. Terkadang akal sehat terkalahkan oleh emosi. Bukan hanya saat emosi yang menguasai pikiran, tetapi juga. Disaat berduka, pikiran pun hilang tanpa kendali. Waktu selalu menjadi akhir dari pembelajaran di setiap kehidupan. Hari ini, sebuah kebenaran terungkap.

__ADS_1



Layaknya mentari menyapa dunia. Bintang pun menyapa kegelapan malam. Pertemuan dan perpisahan adalah hal biasa. Selama beberapa hari, Bryant mencoba untuk membujuk Samuel agar memberikan izin bertemu Ara, sedangkan Darren mulai melakukan rencananya.


Club Villain.


Suara dentuman musik bersambut goyangan para penari menambah panas tempat hiburan itu. Para pengunjung yang sibuk melakukan percintaan secara terang-terangan, membuat seorang pria yang duduk di kursi paling ujung mengalihkan perhatiannya.



Sudah satu jam menunggu, tetapi orang yang dia tunggu masih belum menampakkan batang hidungnya. Keterlaluan! Janji temu pukul sebelas malam, namun hingga jam duabelas malam. Nyatanya tidak kunjung datang. Penantian yang sia-sia.



Ketika seorang bartender datang kembali untuk menawarkan minuman lain. Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang. Suara yang asing, tetapi wajah yang menampakkan diri akibat sorot lampu sekian detik, membuat pria itu tersenyum tipis.



"Maafkan, Saya, Tuan Tama. Saya terlambat, boleh duduk?" Ujarnya bersikap sangat sopan, membuat Darren mengulurkan tangan mempersilahkan klien barunya untuk duduk di depannya. "Bro, aku pesan wine terbaik."



"Tentu, Tuan." Sang bartender menjentikkan jari kanannya, ia memberikan isyarat pada teman bartender lain yang berdiri di balik meja panjang. "Pesanan akan diantar, mohon menunggu. Permisi."



Penantian adalah hasil dari jumlah kesabaran. Kenapa begitu? Semua itu karena bukan hanya pikiran, tetapi hati sedang diuji. Beberapa orang mengatakan sabar itu, berakhir dalam kekesalan. Namun, ketika kita beriman. Kesabaran adalah ujian keimanan yang akan mengajarkan pengendalian emosi dari dalam diri kita sendiri.



Namun, ingatlah. Jangan mengusik, apalagi melukai hati orang yang memiliki kesabaran seluas langit malam. Ketika ujian itu mencapai pada titik ketidakadilan. Maka, seorang penyabar berubah menjadi murka yang luar biasa. Dalam kasus ini, kehidupan orang sederhana bisa menjadi contoh nyata.



Setelah bartender memberikan pesanannya, dan meninggalkan kedua tamu asing itu, membuat pria yang datang terlambat tanpa sungkan membuka wine yang terendam di ember stainless penuh es batu. Lalu menuangkan ke dalam dua gelas tinggi yang ada di depannya.

__ADS_1



Satu gelas disodorkan ke Darren, sedangkan satu lagi untuknya. "Bersulang!"


__ADS_2